Wednesday, August 31, 2016

Menabung Sampah ala Warga Rewwin

Siapa yang mengira jika sampah yang disia-siakan itu bisa membuat kita pergi liburan ke luar pulau? Para penduduk warga Rewwin pun tidak mengira jika sampah yang mereka kumpulkan memberikan keuntungan yang diluar dugaan. Misalnya saja warga RT 16 RW 06 Komplek perumahan Rewwin Sidoarjo ini beberapa tahun lalu berwisata bersama ke Pulau Bali. Biayanya dari hasil sampah yang mereka kumpulkan. Satu RT tersebut menaungi kurang lebih 60 kepala keluarga. Bayangkan berapa uang yang dihasilkan oleh mereka dari sampah tersebut. Tidak hanya satu RT ini saja yang melakukannya, tapi seluruh RT di RW 06 perumahan Rewwin. Wow!

Rewwin sendiri adalah kepanjangan dari Real Estate Wisma Waru Indah yang berlokasi di kecamatan Waru, Sidoarjo, Jawa Timur. RW 06 dihuni 900an penduduk. Dalam satu RW ini, jika dihitung dari sampah yang terkumpul di balai RW, setiap bulannya ada lebih dari 3 ton sampah di sana. Dari pengelolaan sampah yang mereka lakukan, rata-rata per-bulan mereka bisa menghasilkan 15 juta rupiah. Pemasukan ini hanya dari sampah, belum pemasukan dari fasum (fasilitas umum) yang mereka sewakan untuk kegiatan pasar, kompetisi burung dan lainnya. Hebatnya lagi, pengelolaan sampah tersebut dikelola oleh karang taruna dan warganya langsung. RKBS (Rewwin Kawasan Bebas Sampah), program yang mereka jalankan secara continue. Banyak prestasi yang mereka peroleh dari kegiatan lingkungan ini.
Rumah Kompos Rukun Sejati yang berada di balai RW 06 Rewwin
Pengolahan sampah yang sudah menggunakan mesin untuk mengolah ribuan sampah
Sebagian pupuk kompos yang sudah dihasilkan rumah kompos Rukun Sejati
Aktivitas warga Rewwin ini perlu diacungi jempol dan layak untuk dijadikan contoh bagi warga lainnya. Menurut Advan, salah satu warga RT 16 RW 06, mereka sudah memulai kegiatan menabung sampah lebih dari empat tahun belakangan. Awalnya hanya beberapa warga saja yang berpartisipasi di setiap RT-nya. Mereka memilah sampah yang bisa didaur ulang dan sampah yang tidak bisa didaur ulang. Dosen ini pun bercerita bahwa dirinya adalah pendatang baru di area ini dari tahun 2009. Ia dan keluarganya sudah diberikan arahan dari ketua RT sejak awal mengenai pengelolaan sampah. Bahkan setiap warga mempunyai buku tata cara memilah dan mengolah sampah di lingkungannya.
Komposter di beberapa titik RT 16
Setiap harinya, sampah dari sisa makanan mereka masukkan ke komposter yang sudah disediakan di beberapa titik RT agar bisa terurai kembali dan menjadi pupuk. Jika tidak dimasukkan ke komposter, mereka buang di bak sampah masing-masing dan akan diambil oleh petugas kebersihan untuk dikumpulkan di bank sampah yang ada di balai RW. Sehingga tidak ada sampah yang sia-sia di wilayah ini. Pengambilan sampah basah tersebut dilakukan dua kali setiap minggu, selasa dan kamis. Nah, untuk sampah yang tidak bisa terurai lagi, mereka kumpulkan untuk dijual kembali secara kelompok. Masing-masing RT punya kebijakan sendiri soal ini. Di RT 16 misalnya, masing-masing rumah tangga mengumpulkan sampah kardus, kertas, botol kaca, plastik dan sejenisnya untuk disetorkan ke balai RT di hari Minggu terakhir setiap bulan. Setiap warga yang menyetorkan menulis sendiri namanya di buku yang sudah disiapkan.

Buku yang disediakan untuk menulis nama warga yang mengumpulkan sampah di balai RT
Warga silih berganti datang ke balai RT 16 mengumpulkan sampah yang bisa dijual kembali
Jenis sampah botol plastik dan botol kaca yang ikut dikumpulkan
Sebagian sampah kardus yang terkumpul
Tanpa dikomando, para ibu rumah tangga yang tergabung dalam PKK datang dan bergabung di balai RT untuk memilah sampah, menimbang dan dilanjutkan mencatatnya. Ibu-ibu ini nantinya bergantian dengan ibu-ibu lainnya hingga pekerjaan mereka selesai dalam satu hari tersebut. Tidak lupa ada minuman dan makanan untuk camilan saat bekerja. Semuanya dilakukan secara sukarela. Nantinya akan ada pengepul yang datang untuk membeli sampah-sampah mereka. Masing-masing nama yang tercatat di buku tadi, memiliki buku tabungan sendiri dari hasil sampah yang mereka setorkan. Hasilnya bisa mencapai jutaan setiap bulannya. Dari sinilah uang operasional liburan mereka berasal. Tidak hanya untuk liburan, uang tersebut mampu membiayai operasional kegiatan kampung loh.
Ibu-ibu RT 16 RW 06 Rewwin memilah, menimbang dan melakukan pencatatan sampah yang sudah dikumpulkan
Menurut Advan, pada tahun 2012 inovasi daerah yang mereka lakukan ini mulai terdengar luas hingga akhirnya ada dukungan dari Unilever Tbk. Warga yang memilah sampah dan menyetorkannya ke bank sampah mendapatkan produk Unilever sesuai dengan banyaknya sampah yang mereka setorkan. Jadi, para warga di RT 16 ini hampir tiap bulan tidak pernah membeli sabun dan peralatan mandi produk Unilever. Lumayan sekali untuk menghemat pengeluaran rumah tangga mereka. 

Adanya bank sampah di perumahan Rewwin ini terbilang cukup baru, namun sudah banyak pengunjung dari kampung lain, luar kota, bahkan luar negeri yang tertarik untuk mengetahui prosesnya dan ingin belajar langsung dari para warga Rewwin. Kegiatan positif di komplek perumahan ini adalah salah satu bentuk peningkatan kualitas hidup warga baik dari segi sosial dan lingkungan. Keberadaanya juga merupakan kabar baik untuk Indonesia bahwa masih banyak warganya yang peduli akan sustainability lingkungannya.


Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Wednesday, August 24, 2016

Tempe Tenggilis, Tempe Unggulan Lintas Generasi Kampung Tempe Surabaya

"Kamu makannya apa?"
"Tempe!"
"Saya juru masaknya"
"Okee!"
"Ada tempe goreng, ada tahu goreng, semuanya digoreng..oseng..oseng..oseng.."

Siapa generasi 90an yang tidak mengenal lirik di atas? Lagu anak-anak yang Indonesia sekali menurut saya. Sampai sekarang lagu tersebut masih sering dinyanyikan oleh ibu-ibu yang mengajari anaknya makan tempe. Bahkan saya yang sekarang sudah menjadi seorang ibu, kadang tidak sadar menyanyikan lagu itu waktu bernyanyi dengan anak saya. Maklum, saya kan jebolan ibu dari tahun 90an :) 

Tahu dan tempe memang sudah dikenal sebagai makanan khas Indonesia, terutama tempe. Sampai diekspor ke negara-negara lain. Kemasannya beragam, dari yang plastik hingga kaleng untuk melindungi teksturnya utuh ketika dikirim hingga bisa dinikmati seperti bentuk umumnya di Indonesia.
Hmm..ternyata, tempe yang sudah melanglang buana dan hampir tiap hari kami nikmati tersebut ada yang diproduksi di Surabaya. Nama kampungnya adalah Kampung Tempe Tenggilis. Lokasinya berada di Jl. Tenggilis Kauman, Surabaya. Lebih dari 200 pengrajin tempe yang berada di Tenggilis, namun hanya 30 pengrajin yang aktif dalam binaan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Surabaya. Keberadaannya menyebar di beberapa gang di wilayah Tenggilis. Salah satu gang yang cukup memperlihatkan aktivitas pembuatan tempenya adalah Tenggilis Kauman Gang Buntu 27 RT 04 RW III. Ada penanda di depan gerbangnya bahwa kampung tersebut adalah kampung tempe. Sudah cukup banyak pengunjung dari luar kota hingga luar negeri yang ingin melihat langsung proses pembuatan tempe di kampung ini. Adanya kampung ini adalah satu kabar baik untuk Indonesia sebagai bentuk pelestarian kampung yang berpotensi untuk dikembangkan.
Gang Buntu 27 yang menjadi ikon Kampung Tempe
Pertama memasuki kampung tempe ini, kita disambut dengan deretan mural tentang tempe yang berwarna-warni. Mural-mural tersebut menggambarkan tempe yang menjadi makanan favorit orang-orang, tentang kampung tempe yang mendukung kelestarian kampung di Surabaya, tempe yang mendunia dan gambaran lain yang menarik perhatian pengunjung.
Mural Penanda Kampung Tempe
Kampung Tempe turut mendukung program Surabaya Green and Clean

 
Mural yang berada di depan rumah Nur Hasan
Di gang buntu ini, ada lima pengrajin tempe. Dua di antaranya adalah warga asli kampung tersebut dan meneruskan usaha generasi sebelumnya. Saya menemui salah seorang dari mereka, Bapak Nur Hasan namanya. Beliau adalah generasi ketiga dari pembuat tempe yang asli dari kampung Tenggilis. Rumahnya tepat di depan mural yang menggambarkan tempe yang dicintai orang-orang di segala penjuru dunia dan ditandai dengan adanya barisan papan kayu berisi kedelai di terasnya. Menurut beliau, produksi tempe miliknya ini sudah dimulai dari tahun 1970an. Produksi tempe yang dulunya masih menggunakan cara tradisional, sekarang beberapa pengrajin sudah berinovasi dengan menggunakan mesin pengupas kedelai. Awalnya, usaha tempe ini dikerjakan sendiri dan keluarga. Namun seiring meningkatnya jumlah permintaan, butuh lebih banyak tenaga untuk memenuhinya. Sekarang, ia sudah mempunyai belasan karyawan untuk membantunya. Ya, bapak 53 tahun ini masih ikut mengerjakan sendiri meskipun sudah mempunyai karyawan. Para karyawan tersebut berasal dari wilayah sekitar dan kampung lain.

Produksi tempe miliknya sudah menyebar ke wilayah Surabaya dan sekitarnya. Ia memiliki pelanggan tetap yang menjual tempenya. Sayangnya kita tidak bisa membeli produk tempe secara ecer di sini. Semua produksinya sudah pesanan para distributor tempe di pasar-pasar.
 
Nur Hasan mengakui, dengan adanya kerjasama dengan Disperindag, usahanya menjadi lebih berkembang dari sebelumnya. Misalnya saja keripik tempe yang dibuatnya awalnya hanya berada di meja warung-warung dengan kemasan kecil dan diplastik seadanya. Setelah dibina, keripik tempenya mulai mendapatkan perhatian distributor oleh-oleh dengan kemasan yang menarik sehingga pemasukan usahanya meningkat. Produksi tempe mentahnya pun demikian. Sebelumnya pengolahan kedelai menjadi tempe menggunakan air yang kurang sehat, setelah mendapatkan pembinaan dari Dinas perdagangan dan perindustrian serta bantuan dana dari Bank Indonesia, tempe milik bapak Nur Hasan layak dikonsumsi sebagai makanan sehat warga Surabaya dan sekitarnya. 

Jika dilihat dari tempe-tempe yang sedang dibariskan di depan rumahnya, jumlahnya cukup banyak dibandingkan dengan produksi tempe pengrajin lainnya di daerah Tenggilis. Setiap harinya, Bapak Nur Hasan memproduksi kurang lebih tiga kuintal kedelai yang akan dijadikan tempe.
Barisan tempe yang sedang diragi di teras rumah Nur Hasan
Nur Hasan sedang menata tempe-tempe produksinya

Proses pembuatan dari kedelai dicuci hingga menjadi tempe yaitu empat hari empat malam. Hmm, cukup lama juga ya. Mulanya, kedelai dicuci hingga bersih dan terpisah dari biji-bijian selain kedelai, kemudian direbus untuk menghilangkan kotoran dan bakteri. Lalu, kedelai yang telah bersih direndam semalaman. Setelah kulit kedelai cukup lunak, baru kedelai dikupas dan dicuci kembali baru kemudian diberi ragi dan didiamkan selama dua malam. Proses cetaknya sendiri cukup cepat. Ada yang dibungkus daun pisang dan dibungkus plastik hingga akhirnya diambil oleh para penjual tempe.
Sepeda pedagang tempe yang akan mengambil tempe di kampung ini
Dulu, sisa tempe yang tidak terambil oleh distributor tempe terbuang sia-sia. Para pengrajin mulai berpikir untuk memproduksi hasil olahan tempe, salah satunya adalah keripik tempe yang saat ini sudah menyebar di beberapa pusat oleh-oleh di Surabaya. Setelah dibuat keripik tempe dan olahan lainnya, sisa tempe tersebut malah menghasilkan uang. Para pengrajin tempe di wilayah ini masih terus berinovasi untuk melestarikan dan mengembangkan kampungnya agar tetap menjadi kampung unggulan. Aktivitas produksi tempe di Kampung Tempe ini masih akan terus berlanjut lintas generasi yang layak menjadi contoh inovasi daerah bagi kampung lain di Indonesia.

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku