Showing posts with label Architecture. Show all posts
Showing posts with label Architecture. Show all posts

Thursday, August 16, 2018

Rumah Baru Kayu Tua Part II

Setelah kurang lebih setahun kami tinggal di rumah baru, alhamdulillah akhirnya mulai ada beberapa pembangunan di sekitar rumah kami. Salah satunya tetangga sebelah kami yang berbagi tanah dengan kami. Seneng banget rasanya akan punya tetangga. Tapi di lain sisi, kami sudah gak bisa leluasa lagi untuk piknik dan gulung-gulung sembarangan di halaman rumah..hahaa

Ada beberapa bangunan baru hingga saat ini. Alhamdulillah. Tapi yang tidak mengenakkan juga banyak. Pemborong maupun pemiliknya, yang paham toleransi, harusnya tahu bahwa ada kami tinggal di situ. Mentang-mentang hampir tidak ada rumah tinggal di sini, mereka meletakkan material seenaknya, bahkan di jalan yang akhirnya kami susah untuk lewat. Jika dipikirkan sisi negatifnya, masih banyak. Tapi lebih baik kami ambil sisi positifnya saja. Kami harus banyak bersabar tinggal di lingkungan yang memang belum terbentuk ini.

Tepat di awal 2017, kami sempat nomaden. Kadang menempati rumah kami sendiri, kadang menempati rumah kakak saya yang tidak jauh dari rumah kami. Kami mendapat amanat menjaga rumah mereka karena ditinggal sekolah ke Belanda bersama keluarganya.
Kami sudah punya beberapa resolusi di tahun ini dan tahun depan. Jika ada rezeki, dalam tahun ini kami melanjutkan pembangunan Rumah Baru Kayu Tua tahap II. Kami mulai menabung dan merencanakan pembangunan setelah lebaran tahun lalu. Setelah itu, kami akan mulai program anak kedua.

Maret-April 2017, Allah memberi kami lebih awal apa yang kami inginkan. Saya hamil anak kedua. Dan pembangunan rumah memang harus segera dilakukan agar nanti saat lahir, kami berempat sudah menempati rumah kami kembali. Anak-anak lebih nyaman dengan ruangan yang lebih lebar. Terutama kamar yang dulunya hanya satu kami tambahkan menjadi dua. Tepat setelah hari raya Idul Fitri, Rumah bayu kayu Tua tahap II dimulai.

Kami percaya bahwa Allah selalu berencana yang terbaik buat umatNya. dan kami yakin jika kita meminta dengan tulus, berusaha maksimal, Allah pasti mengabulkan. Entah sekarang, nanti, sesuai dengan doa kita atau dikabulkan dalam bentuk lain. Seperti sebelumnya, Allah memberi kami rezeki yang tidak terduga untuk rencana baik kami tersebut. Dari rencana yang awalnya rumah kami bangun kecil saja dengan adanya tambahan 1 kamar, ternyata pembangunannya selesai dengan 1,5 lantai. Full dak beton untuk pembangunan berikutnya. Kami paksa hentikan pembangunan karena kami masih butuh menabung untuk hal lain. Sedangkan kebutuhan kami bisa terpenuhi dengan ruangan yang sudah ada, tidak perlu lebih besar lagi. Belum saatnya, karena masih ada prioritas lain dalam rencana kami.

So, inilah penampakan Rumah Baru Kayu Tua Part II

Tampak Depan Rumah Baru Kayu Tua Tahap II
Ajmal & Mahir di halaman rumah kami
How's the interior?
Lets see.. berikut foto-foto interior rumah kami yang apa adanya. Tanpa ditata khusus untuk difoto yang keren dan sebagainya.. Foto diambil pagi hari setelah mandi sarapan dll.
Ruang Tamu
Ruang Tengah
Kamar Anak
Kamar Anak arah ke luar
Kitchen
Kitchen, Kamar Mandi dan Kamar (sebelah kanan) = Rumah Baru Kayu Tua Tahap I
View ke Jemuran area service
Area kerja (packing dagangan) dan Dining room (itu hitam seperti papan adalah meja makan lipat, anyway)
Well, sederhana tapi loveable and homey for us.
Alhamdulillah

Tuesday, August 14, 2018

What did we do in Rumah Baru Kayu Tua part 1

Terbatasnya ruang di rumah kami tidak menghalangi kami untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan. Kamar yang kecil memang hanya cukup untuk tidur, sholat, ngaji. Dapur masih cukup longgar untuk masak, makan dan bekerja. Halaman yang luas ternyata menjadi wadah kami untuk beraktivitas. Bahkan untuk makan kami sering lakukan di luar seakan-akan kami piknik :) dengan kenyataan kanan-kiri rumah kami masih sawah. Saat itu belum ada tetangga. Masih ada rumah sih, tapi hingga no.13 saja dari jalan utama. Sedangkan rumah kami no.27 (260meter dari jalan utama).
These are some pictures that i still have about our activites in Rumah Baru Kayu Tua Part 1
PIKNIK ASik! Haha.. Keluarga besar semua bisa masuk di halaman kami :)

Main Air dan Mainan lainnya. Seru Max! That was Ajmal when he was 1 yo.

Main Bubble di malam hari, pagi hari..kapan saja.. gak usah takut ngotorin rumah.

Kalau lagi iseng di kamar, anak bisa buat mainan :)))
Foto-foto produk yang kami jual. Bebas ngebor sana-sini :D
Coba aja ya cek galeri omahkoe di tokopedia. Pasti foto-fotonya banyak di dinding ini
www.tokopedia.com/galeriomahkoe
Gardening! Sudah banyak macam sayuran yang kita panen waktu itu. Kangkung, bayam merah, caisim, selada.
Itu lah keasikan kami punya halaman luas. Alhamdulillah we are all happy!

Monday, August 13, 2018

Rumah Baru Kayu Tua Part 1

Rumah Baru Kayu Tua I

4 tahun lalu, Januari 2014 tepatnya, saya menikah. Dalam setahun tersebut banyak peristiwa senang sedih, tertawa, menangis, diam dan perasaan lainnya yang saya alami.
Tapi saya bersyukur bisa merasakan semua itu di awal pernikahan, sehingga semakin banyak pelajaran saya tentang kehidupan terutama berumah tangga.

Salah satu hal yang memorable saat itu adalah saya banyak menangis karena urusan pencarian rumah di saat kondisi hamil. Kami tertipu oleh developer gadungan saat itu. Kurang lebih 100 juta Rupiah.
Waktu itu kami menghabiskan semua tabungan kami, deposito hingga hutang orang tua. Singkat cerita kami berusaha mengikhlaskan semua setelah itu.

Beberapa bulan kemudian, kami mencoba mencari tempat tinggal kembali sesuai dengan budget yang ada. Itu pun sebagian besar akan berhutang, entah ke Bank, saudara, orang tua. Ternyata mencari rumah seperti mencari jodoh. Gak gampang. Tapi kalau ada niat akan dimudahkan oleh Allah. Dengan pertimbangan budget dan lokasi, akhirnya kami putuskan membeli tanah saja di lokasi yang cukup strategis meskipun sudah di luar Surabaya tapi masih perbatasan. Tidak jauh dari rumah orang tua dan masih terjangkau untuk suami bekerja. Tanah yang kami dapatkan berada di wilayah Wedoro PP, belakang perumahan Rewwin, Waru (Surabaya) dan menghadap langsung ke arah Tol Juanda Rungkut. Luasnya 10 x 20m2.
Tanah Kavling langsung menghadap Tol Juanda
Kavling no.27 --> calon rumah kami
Kondisi jalan. Itupun urugan dari kami urunan beberapa kavling yang mau bayar. Demi rumah pokoknya!
Pertengahan 2015 tanah tersebut resmi kami beli seharga Rp. 125.000.000,- dengan luas 5x20m2 (kami bagi dua tanah kavling tersebut dengan seorang Guru SD di dekat rumah Ibu yang juga sedang berjuang mencari tempat tinggal). Saking gak sabarnya, kami berencana langsung membangun. Setelah hitung-menghitung, kami ada uang 30 juta untuk membangun rumah. Hahaaa.. bisa ya uang segitu bangun rumah??

Matematika Allah canggih dan tidak akan bisa dinalar oleh manusia. Hitungan Allah ternyata beda dengan hitungan kami. Kenyataannya dalam beberapa bulan setelah itu kami sudah menempati rumah baru kami.

Kami mulai pengurugan jalan dan tanah kami di bulan September dan memulai membangun di bulan Oktober 2015. Alhamdulillah Februari 2016 sudah bisa tidur di rumah sendiri. Yeeaaayyy!!
Selama beberapa bulan tersebut, ada saja rezeki untuk niat kami punya rumah. Yah, gak 100% uang hasil jerih payah sendiri sih, ada hutang juga.
90% Rumah kami
Hah?! 90% masih kayak gitu??? iyaa...memang kami bangunnya kecil gitu. Cuma 1 bedroom, 1 KM dan dapur. Selebihnya bisa buat gulung-gulung outdoor. Hahaa
Sengaja kami bikin seperti itu, yang penting bisa buat tidur, urusan KM, makan, sholat. Kami sudah sangat bersyukur. Kami bangun nanti secara bertahap sesuai kebutuhan dan tabungan.
Eits, tapi jangan salah. Pembangunan kami yang kecil tersebut menghabiskan kurang lebih 125jt loh. Gimana bisa? lets see the outline:
- Pengurugan tanah untuk jalan dan nombok urunan jalan dari kavling yang tidak mau bayar.
- Pengurugan tanah untuk tanah kami
- Pondasi keliling 5x20 dengan kualitas struktur untuk 2 lantai
- Pembangunan rumah 5x5m2
Sudah bisa bayangkan toh nilainya..

This is it! Rumah Baru Kayu Tua di waktu senja.
View dari depan Rumah Baru Kayu Tua
Jadi, mengapa kami namakan Rumah Baru Kayu Tua?
Sesuai dengan namanya, rumah ini adalah rumah baru bagi kami. Tapi bahan-bahannya sebagian besar menggunakan kayu jati tua bekas bongkaran rumah lama yang dibangun orang tua. Genteng pun juga memakai genteng bekas. Pagar kayu, pola lantai teras, kusen dll yang berbahan kayu kami gunakan kayu bekas tersebut. Alhamdulillah seninya dapat, hematnya juga dapat. And also the happiness.

See you on Rumah Baru Kayu Tua part 2

Sunday, December 15, 2013

Caraku Beda, Sir..

Kemarin pada saat saya ngawasi proyek, sambil duduk ngerjakan tugas saya sesekali ngecek kerjaan tukang. Kebetulan lokasinya di area Taman Apsari. Saya duduk di salah satu kedai yang tutup di siang hari, sehingga saya leluasa untuk membaca dan menulis dengan laptop saya. Pagi itu saya ditemani teman saya sekaligus owner. Saya ngobrol sambil nulis. Tiba-tiba datang seorang polisi yang kebetulan lagi patroli di daerah situ, (di mata saya) gayanya terlihat petentang-petenteng sok ke para tukang saya.
Saya cuma mengawasi dari jauh sambil menggerutu, "ngapain lagi nih polisi pake tanya-tanya.."
pikiran suudzon sudah terlintas, pengalaman dari proyek2 yang saya temui, gak jarang pihak berwajib minta "sesuatu" demi kelancaran proyek itu. Alhamdulillah saya belum pernah mengalami, cuma cerita dari teman saja, boleh dipercaya boleh tidak.

Tiba-tiba polisi tersebut datang ke arah saya, duduk di depan saya dan teman saya. Tanya-tanya soal mau dibuka apa, dan bla-bla-bla. Well..because i dont really respect him, I just listen what he said and still continue finishing my paper. Saya sedikit mendongak melihatnya ketika ia berbicara soal kerjaan. He gave us tips to do a bussiness..okay, he got my attention..
Saya jadi sedikit respect ketika ia bercerita soal usaha kecilnya juga disamping pekerjaan polisinya. Bisnis kecil di rumah katanya, sepatu. Reseller kecil.

Sambil dengerin, saya lanjutin nulis (tanpa permisi padanya dulu..karena males dan faktor deadline)
Kemudian teman saya tanya, "Bapak rumahnya mana?"

"Ketintang Mbak"

"Oh, Aspol (asrama polisi), Pak?" sahut saya.

Dia cuma ngangguk aja. Lalu saya berasumsi, dengan usianya yang masih 25 tahun (beliau sempat menyebutkan usia saat cerita ngalor-ngidul), berpatroli di jalan, tinggal di aspol ketintang, berarti kalo gak tinggal di rumah orang tuanya yang juga polisi ya memang dia memang sudah dapat jatah di sana. Isenglah saya tanya, "Orang tua polisi, pak? Kok di aspol"
Gotcha! tebakan saya benar. Masih tinggal sama orang tua. Eits..ada cincin melingkar di jarinya. Sudah merit?

Kemudian teman saya pergi, tinggal saya dan polisi ini. Diam beberapa lama dan saya mulai basa-basi yang berlanjut makan ati.

"Kok sendiri aja, Pak? Biasanya berdua kalo patroli."

"Iya mbak, teman saya masih ke warkop. Mbaknya kuliah?"

"Saya kerja pak, sambil ngelanjutin S2"

"bidang apa mbak?"

"Arsitektur" masih sambil nulis

"Oh, kerjanya dimana mbak?"

"Kerja sendiri pak, freelance aja sih. Ndisain sama pelaksanaannya. Lebih ke interior."

"oh, berarti ngurusin tukang juga ya?"

"iya, ada workshop furniturenya pak."

"Orang tua kerja apa mbak?"

"Dosen."

"Berarti masih dimodalin orang tua ya?"

"Enggak pak, untuk usaha saya sendiri sepenuhnya. Saya masih mampu, gak mau pinjam atau minta orang tua"

"Lho, salah sampeyan mbak. Harusnya kalo orang tua masih mampu ndukung dana, mbaknya minta aja terus, sampe usahanya lancar, orang tua mulai lepas dan baru sampeyan pegang kendali sepenuhnya. Prinsipnya orang Cina gitu mbak. Kalo punya usaha, anaknya dimodalin penuh. Apapun didukung dan disuruh megang usaha orang tuanya. Kalo anaknya sudah bisa jalankan, orang tuanya lepas tangan dan usahanya diserahin ke anaknya. Wah, salah langkah mbak."

Saya cuma nyengir aja dengerin, sambil nambahin, "Kalo saya sih memang gak ada niatan minta, Pak. Mau mulai dari nol. Dan orang tua memang gak pernah menyuruh anaknya nerusin usahanya (seandainya ada), meskipun orang tua masih mampu dan mau biayain dan modalin"

Sorry, citranya semakin negatif di depan saya. Saya jadi gak habis pikir, sebenarnya mental pak polisi ini piye sih? Kok seneng banget minta orang tua. Saya jadi subyektif mikir bapak ini punya mental peminta.

Bukan maksud saya menyalahkan cara seperti itu, tapi saya punya prinsip beda. Selama saya mampu untuk membiayai hidup saya dan mengurus usaha saya sendiri, I wont let my parents take over. Tapi selama ini meskipun saya ngurus apa-apa sendiri, saya masih sering sharing soal kerjaan dan lainnya ke ayah-ibu. Kalo sudah benar-benar kepepet saya pinjam. Pinjam ya, bukan minta. Itupun baru sekali saat usaha saya tidak menunjukkan perkembangan, tabungan saya nipis dan saya mulai bangkit lagi. Setelah itu saya kembalikan sesuai janji. Itu yang diajarkan juga oleh Ayah saya. Kami dilatih untuk punya tanggung jawab, apalagi soal duit. Pinjam berapa, untuk apa, kapan dikembalikan. Harus jelas! biar punya deadline dan rasa tanggung jawab tinggi.

Well, this is my way to get survive..whats yours?

Tuesday, September 24, 2013

Kekinian Arsitektur Nusantara (?)

Minggu lalu saya menghadiri seminar tentang Arsitektur Nusantara yang disponsori perusahaan emulsi cat dan pelapis material, Propan. Salah satu tujuannya adalah sosialisasi sayembara yang mereka adakan dengan tema Desain Arsitektur Nusantara kekinian. (It's strange for me to say "kekinian")
Sayangnya, sayembara tersebut hanya bisa diikuti mahasiswa S1 atau lulusan Arsitek yang terakhir lulus 2012. (aku wes tuweeeekkk ya berarti :D) The price is really tempting!
Gimana enggak..ke Wae Rebo yang saya dambakan sepanjang tahun 2012! See my posting about that here. 
Saya gak tergiur dengan hadiah duitnya, gak tergiur juga dengan hadiah keliling komodo karena sudah pernah gratisan ke sana :D Tapi ke Wae Rebo, Man! Huhuhu

Terlepas dari sayembara tersebut, I like the seminar. Jarang ada seminar tentang arsitektur nusantara di kampus-kampus sini. Bisa dihitung jari.. Naratornya juga itu-itu aja. Prof. Yoseph, Mr. Galih (i really miss him), Yu Sing, Eko Prawoto dan Yori Antar (dengan program Rumah Asuhnya). Seminar kali ini yang mengisi Prof. Yoseph dan salah satu anak buah Yori Antar yang menjelaskan program Rumah Asuh. FYI, rumah asuh ini saya sebelumnya sudah pernah baca sejarah terbentuknya di buku Wae Rebo. Awal proyek mereka juga merekonstruksi Mbaru Niang Wae Rebo kemudian berlanjut ke rumah-rumah adat yang lain. Really interesting isnt it? We go to the "unfamous" places and stay with the people then we do all we can do for them, esp. rebuilt their traditional houses. Iri banget sama mereka yang bisa seperti itu.. selama ini saya cuma keturutan tinggal beberapa hari saja di beberapa desa di luar Jawa. Itupun karena tidak sengaja wisata di wilayah sana. Tapi saya punya mimpi suatu saat bakal keliling Indonesia untuk menulis tentang keunikan, kekayaan yang mereka punya, esp the architecture.

Ada beberapa hal baru yang saya dapatkan dari apa yang dipaparkan Prof. Yoseph tentang Arsitektur Nusantara. We can see a lot of building with the same style around us. The modern style. Kiblatnya..negara-negara barat. Hey..bangunan-bangunan seperti itu gak punya khas! Dimanapun bisa kita jumpai. Yang membedakan cuma namanya. It just about the logo to show its name. So, what is Arsitektur Nusantara? Who is it?
Mr. Yoseph said that Nusantara Architecture is not a culture knowledge. Arsitektur Nusantara bukan pengetahuan kebudayaan. Arsitektur Nusantara bukanlah Arsitektur tradisional. Why?
If we make it same, our Nusantara Architecture is no different with the Europe, classic Architecture.

Yang saya tangkap di sini adalah, mengapa Arsitektur Nusantara berbeda dengan Arsitektur tradisional? Karena Nusantara itu cuma Indonesia. Gak ada negara atau tempat lain yang disebut Nusantara, sedangkan Arsitektur tradisional bisa dipakai di mana saja. For instance, arsitektur tradisional Vietnam, arsitektur tradisional Australia, dll. Jadi, apakah bisa kita menyebut Arsitektur Nusantara adalah Arsitektur Indonesia? (saya lupa menanyakan hal ini pada saat seminar)

Pesan--> Jangan ditelan mentah-mentah pengetahuan tadi. Lihat, pelajari, bandingan dengan teori lainnya. Harus berpikiran terbuka untuk menerima informasi baru. Banyak yang gak mudeng dan gak bisa menerima teori tersebut. Apalagi statement "Arsitektur Nusantara bukan pengetahuan kebudayaan"

Our masterpiece architecture products are Joglo, Mbaru, Rumah Minang, dll..
Mr.Yoseph said, "Arsitektur Nusantara kita ini bukan "stone" product. Tapi kayu. Oleh karena itu banyak yang menganggap kualitasnya di bawah hasil Ars. Eropa."

Pada kebanyakan rumah adat di Indonesia, fungsi rumah benar-benar terlihat sebagai tempat bernaung. Pada siang hari, aktifitas mereka dilakukan di luar rumah dan di malam hari aktifitasnya di malam hari. Pada siang hari mereka berinteraksi dengan warga lainnya, sehingga terjadi interaksi sosial.

Hal menarik lainnya adalah struktur yang dipakai rumah-rumah tersebut menggunakan ikatan tali. Sayangnya, struktur ini tidak diajarkan di perkuliahan konstruksi bangunan kita.
Pada Arsitektur Nusantara juga terlihat adanya perbedaan kasta yang tampak pada rumah masing-masing. Misalnya, pada rumah Toraja, semakin banyak tanduk yang dipakai pada rumah tersebut, maka menandakan semakin kaya pemiliknya. Persamaan yang lainnya adalah simetri. Semua rumah adat di nusantara kita ini sangat teratur. Mereka dibangun dengan garis sumbu yang membagi rata. Namun, meskipun semuanya tampak sama, tidak ada yang persis antara satu rumah dengan yang lainnya. Pasti ada perbedaan yang ditemukan. Pada arsitektur Nusantara kita pasti kita jumpai adanya Lambang, simbol dan makna.

Tidak ada batasan dimana harus dibangun rumah-rumah nusantara tersebut meskipun cross culture lokasinya. We can build Joglo in Bali, Toraja in Java and sort of. Kita juga bisa menggabungkan gaya masing-masing rumah adat tadi.

Nah, menerapkan arsitektur Nusantara juga tidak harus selalu dalam bangunan, bahkan hanya menggunakan detailnya saja sudah bisa dikatakan kita menerapkannya.

So, please save our Nusantara Architecture and make it global.

Monday, September 9, 2013

UBUNTU, "I'm because We are"

This one is amazing. Pelajaran baru untuk saya.. I got it from +Interesting Engineering 

An anthropologist proposed a game to the kids in an African tribe. He put a basket full of fruit near a tree and told the kids that who ever got there first won the sweet fruits. When he told them to run they all took each others hands and ran together, then sat together enjoying their treats. When he asked them why they had run like that as one could have had all the fruits for himself they said: ''UBUNTU, how can one of us be happy if all the other ones are sad?''

'UBUNTU' in the Xhosa culture means: "I am because we are"

Sunday, June 16, 2013

Bikin Hidup Lebih Hidup

Ketika teman-temanku sibuk mikirin mau kemana weekend ini, saya sibuk mikirin bisa "leyeh-leyeh" di rumah gak ya weekend ini.
Ketika tabungan teman-temanku sudah bisa dipakai untuk beli sepeda motor tanpa angsuran, beli gadget terbaru, tabungan saya kembali ke awal saldo ketika baru mulai kerja.
Ketika teman-teman sibuk ber"haha-hihi" dengan teman-teman mereka, saya rempong ngatur jadwal ke tukang, beli material, ke klien, ngantar ibuk.
Ketika teman-teman ngeluh dengan kerjaan mereka di kantor, saya sedang pusing ngurusi permintaan atau komplain klien.
Tapi, ketika teman-teman bingung dengan kerjaannya, saya sibuk traveling, entah gratisan atau pergi sendiri :D

Enjoy. Saya enjoy dengan semua kesibukan itu.

Terdengar sombong sih, tapi semuanya punya kesibukan masing-masing. Saya seperti sok sibuk di mata teman-teman. Saya memang sedang sibuk sendiri. Sibuk ngurusi hidup saya. Kurang lebih sudah setengah tahun ini saya sok sibuk. Saya sudah gak kerja kantoran lagi seperti teman-teman. Saya kerja sendiri.

Memutuskan resign setengah tahun yang lalu itu bukan asal-asalan. Saya sudah siap dengan semua resiko yang akan saya tanggung setelahnya. Waktu itu saya butuh tantangan baru. Kerja selama 2 tahun ikut orang membuat saya hidup nyaman. Lama-lama saya terlalu nyaman sampai akhirnya merasa bosan.

Beberapa bacaan buku, blog, twitter dan media lainnya saat itu turut membentuk pemikiran saya untuk resign dan memulai usaha sendiri. Saya gak mau hidup saya "lempeng".
Resign dengan alasan akan mencoba membuka usaha kuliner dan niat terselubung agar bisa bebas traveling menjadi motivasi saya. Perlahan motivasi itu hilang berganti prioritas yang lain, yaitu memperbanyak kerja untuk ibadah, lebih dekat dengan keluarga (lha emang kamu sudah jadi ibu-ibu meh? --").

Nekat!
Tabungan saya saat itu mepet. Saya sudah mikir mau diapain tabungan ini daripada ngendon di buku tabungan. Saya putuskan untuk mendepositkan sebagian dan sebagian lagi saya putar untuk usaha. Saya habiskan uang itu untuk sekolah. Iya, sekolah kehidupan. Bermodal nekat saja ternyata gak bisa. Karena gak tekun jalaninnya, beberapa bulan usaha kuliner saya belum balik modal. Belum lagi omelan-omelan ibuk yang terus-terusan karena saya dianggap gak serius jalaninnya.

Bulan ke bulan berikutnya duit saya menipis. Proyekan belum ada yang tembus. Pontang-panting gak jelas mikirin hidup yang njelimet ini. Sempat kepikiran untuk ngantor lagi, apply lagi. Tapi kemudian saya mikir lagi, "Siklus hidup orang kerja dengan posisi pegawai itu ya itu-itu aja sih sepertinya." Saya tipe orang yang bosen dengan rutinitas. Saya benar-benar mengurangi kegiatan-kegiatan yang tidak begitu penting. Nonton, ngemall, ngumpul sama teman-teman tanpa obrolan yang kurang bermanfaat, bahkan hobi traveling pun sudah sangat berkurang.

Sampai akhirnya saya fokuskan ke ibadah. Saya ingat dengan kata-kata ibu, "Pokoknya kalo kerja itu niatnya ibadah dek. Semakin banyak uang yang kita dapat, semakin banyak sodaqoh yang kita keluarkan." Saya perbaiki sholat saya dengan cara-cara yang sudah diajarkan Ayah. Saya berdoa, meminta, curhat total ke Allah, pasrah ke Allah.
Tiba-tiba saya diumrohkan kedua orang tua saya. Alhamdulillah sekali rasanya. Gak punya duit tapi bisa sampai tanah suci.

Beberapa hari sebelum berangkat, satu kenalan menelepon dan mengajak bertemu. Alasannya pengen ngomongin tata ruang kantornya. Gak ada harapan sama sekali dari situ, saya mikirnya cuma ngobrol biasa aja. Gak taunya, saya diminta mendesain dan ngerjakan satu furniture di kantornya. Malam ketemu, besoknya langsung deal desain dan harganya. Alhamdulillahirabbil Alamiiin..
Rejeki gak kemana memang ya.. Sepulang umroh, ada satu pesan dari orang minta didesainkan renov kantornya. Saya lihat pesannya sudah seminggu yang lalu. Saya balas meskipun terlambat, gak disangka-sangka, beliau langsung minta saya datang ke kantornya dan langsung ngerjakan. Gimana gak makin bersyukur coba..

Beberapa proyek datang berurutan setelahnya. Ada klien yang rewel, ada yang susah bayarnya, ada proyek yang rugi, ada yang baiiiiikkk banget. Macam-macam tipenya. Saya berhadapan dengan berbagai karakter orang. Girang sekali rejeki tersebut datang setelah kita bersusah payah usaha dan pasrah ke Allah. Meskipun sedikit, tapi alhamdulillah saya merasa cukup. Sedikit, tapi bisa berbagi. Belum lagi tidak sekali dua kali saya dihadapkan dengan orang-orang yang membuat saya lebih bersyukur dengan kondisi apa pun yang saya alami.

Saya merasa lebih kaya dari teman-teman. Bukan kaya harta, tapi kaya pengalaman, kaya hati. Semakin banyak masalah yang saya dapat, makin matang pemikiran dan langkah yang saya ambil.
Bersyukur sekali jika orang di sekitar kita support keputusan yang kita ambil. Hidup terasa lebih hidup saat ini. Memeras keringat dengan susah payah, mendapatkan pengalaman yang gak ada hentinya, menuai hasil kerja keras kita meskipun sedikit tapi membuat bangga.

Jadi, langkah berani apa yang sudah kamu ambil?

Monday, February 25, 2013

A Sudden Religious Trip to Guang Zhou

Terdengar agak aneh memang ke Guang Zhou untuk wisata religi. Moslem religion.. Katakanlah Ziarah.
Perjalanan ini adalah salah satu rangkaian perjalanan gratis saya ke Hongkong dan Macau lebaran 2012 lalu. Pergi ke kota ini tidak ada dalam itinerary saya waktu itu, bahkan dalam bayangan pun tidak muncul. Keberuntungan memang hal yang menyenangkan.

Siang itu, 20 Agustus 2012, lebaran hari ke-2, jadwal saya dan ayah kosong. Tidak ada tugas dari KJRI. Ayah mengajak saya untuk bertemu dengan beberapa orang baru di Kantin Masjid Wanchai. Secara kebetulan, kami bertemu dengan kerabat yang lain, keluarga Pak Djoko. Di tengah basa-basi, bu Djoko iseng mengajak kami ke Cina, Guang Zhou tepatnya. Buat Ayah, gak perlu lama ambil keputusan seperti itu. Langsung IYA! menariknya lagi, visa dan segala macamnya cuma butuh setengah hari saja ngurusnya. Diurusin pula oleh mereka! Ya Mamaaaahhh.. saya habis ngapain, gak henti-hentinya berkah datang gini. Alhamdulillah
A Single Ticket for a single person who do a journey. Sounds so me :p
Well..well..well.. 21 Agustus 2012, saya menginjakkan kaki di Guang Zhou, Cina. Waktu tempuh dari Coswaybay ke MTR station terdekat untuk ke Cina adalah kurang lebih 10-15 menit. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan dengan MTR ke perbatasan HK dan Cina kurang lebih 1 jam. Ke Cina kita butuh visa untuk masuk negaranya. Sebenarnya mengurus visa ini bisa di perbatasan negaranya. Di stasiun MTR terakhir waktu itu ada lokasi mengurus visa. Kalau tidak ada masalah, mengurusnya cuma memakan waktu 3-5 jam saja kok. Maksimal sehari. Jadi, tergantung keberuntungan juga ya.
Hemm, itu kalau kita melakukan trip dadakan. Kalau perjalanannya sudah direncanakan, lebih baik mengurusnya jauh hari. Biasanya, kalau bepergiannya bersama-sama, bisa mengurus visa group. Lebih mudah lagi kalau perginya dengan agen travel. Mereka yang mengurus segalanya. Tapi, kita kurang dapat pengalaman dan "feel" perjalanannya terasa kurang.
Halo! Welcome to China :)
Pertama kali menginjakkan kaki di daratan Cina, saya sudah merasakan suasana yang terasa sekali perbedaannya dengan Hongkong. Kondisinya jauh lebih modern Hongkong, kebersihannya juga. Bahasanya juga beda ternyata, Hongkong bahasanya Kanton, sedangkan Cina berbahasa mandarin. Tapi dari orang-orangnya, penduduk Cina gak seindividualis penduduk Hongkong. Entahlah, saya merasakan demikian.
Luohu Station. Station perbatasan Cina-Hongkong
Di perbatasan Cina dan Hongkong ini ternyata ada surga belanja. Para wanita.. saya yakin hormon Endorfin kalian meningkat di sini. Senyum merekah di wajah para wanita. Beli gak beli, belanja dan window shopping itu menyenangkan! Hahahaha *curcol*
Surga belanja itu bernama ShenZhen. Di sini kita bisa belanja apa saja dengan harga murah. Terutama produk fashion. Yang penting kita sedia duit aja yang banyak dan pintar menawar! Jangan lupa dengan tawar-menawara dengan kalkulator jika susah faham bahasa mereka. Mau belanja grosir baju? Ada. Sepatu, ada. Mainanan, ada. Tas, ada. Jangan sampai lupa bagasi pokoknya.
Belanjalah sebelum belanja itu dilarang
A Chinese Stamp. Dad bought one for his sign.
Siang itu kami gak langsung belanja, kami keliling Guang Zhou dulu. Mengapa saya namakan ini trip religi? Karena destinasinya ternyata ke beberapa makam penyebar Islam di sana. Pertama, kami ke makan Sa'ad bin Abi Waqash, salah satu sahabat nabi. Kemudian ke makam penyebar agama Islam yang lain. Itu saja. Thats it!
Tapi yang saya suka di sana, Cina selalu menjaga kekhasan budayanya. Punya khas di arsitekturnya. Meskipun masjid, makam, bangunan lainnya, semuanya tipikal. Dari warnanya yang didominasi warna kontras merah dan hijau, bentuk dan gayanya, hingga detilnya. Hanya isi dan kegunaannya saja yang beragam. Dan ini gak hanya di Cina saja. Di seluruh dunia. Semua tempat yang pernah disinggahi orang-orang dari atau keturunan negeri Cina, punya bangunan yang khas bukan?
Satu ruangan khusus wanita di Makam Sa'ad bin Abi Waqash
Tulisannya merah, tipikal.

Warna Merah dan detilnya mirip
Lagi-lagi merah dan Hijau
Gaya bangunannya sama meskipun ini masjid
Me, Dad and Mr. Djoko families
Bangunan di sana sebenarnya juga banyak yang modern, ada beberapa bangunan yang pernah saya lihat di majalah Arsitektur yang biasa saya baca. Jembatan penyeberangannya juga lucu, keren. Desainnya bervariasi. Jadi hampir tidak ada yang sama antara satu jembatan dengan jembatan yang lain. Kami sempat makan di restoran muslim yang cukup besar. Ada yang lucu di sini, mereka memakai beberapa notice yang ditempel dengan dua bahasa. Bahasa mandarin dan Inggris. Sayanganya, bahasa Inggris mereka agak kacau. Coba lihat ini..
:))
Salah satu desain Jembatan Penyeberangannya
Pernah lihat sususan bangunan ini di majalah
Trip setengah hari ini kami tutup dengan belanja. Lalala..yeyeye! *joged ala sahabat Dahsyat*
Semoga next time bisa ke Cina lagi dengan gratis :D

Wednesday, February 13, 2013

Malaysia National Mosque

When you get the map, there are several iconic places in it. Market, Department Store, Museum, Airport, Terminal, Big Church and Mosque are easy to find. So does Malaysia National Mosque, its easy to find.
a unique roof of Malay National Mosque
Actually that was not our main destination that day, we just wanna go to Botanical Garden. But when we see the map, the way to Botanical garden is leading us to some museums and other iconic building. We reach Malaysia National Mosque by foot. From our hotel in China Town, we go to Maydin supermarket where we found a lot of cheap things.

Malaysia National Mosque is about 3-4Km from Pasar Seni LRT station. Just walk trough the bridge and follow the sign to Taman Perdana. We also can see the unique form of the mosque's roof when we pass the bridge. It is colored green and has a minaret beside. There is no a dome for the roof. The design is really modern.
The yard is really wide, the kids can play in a playground and others do sightseeing around the mosque. We also can enjoy the snacks in a box car which parked in front of the yard. Hmm..so  many fries steamboat, rujak, and drinks that will make you drooling.
a box car that sells various snacks
you can do some exercise in a playground
Its a big mosque with a big yard and open for anyone, even non-moslem. But they have some rules to get into the mosque for the visitors who don't use a hijab and the non-moslem visitors. People who don't use hijab or the proper dress (as muslimah) must use an Arabic garments (Jubah). And there is visiting hours for non-moslem tourist.
Visiting Hours for Non Muslim
Awas Pencuri Kasut!! :D
The purple garments for visitor with no hijab
We can take a rest in the yard
I love the interior, unfortunately we can't take a photo in the mosque and they have some guard to watch what the visitor's do. These are some interior photos that i can took without anybody knowing :p But still, i can't take the main room which has a cool design.
 Staying in a mosque is always gives me a calm and quiet atmosphere. Don't you?