Showing posts with label Hidupku bukan Hidupmu :D. Show all posts
Showing posts with label Hidupku bukan Hidupmu :D. Show all posts

Friday, March 14, 2014

Catatan Pertama Istri Selebor

Malam ini, tiba-tiba saya mulai merasakan bahwa berumah tangga tidak semudah yang kita bayangkan. Ketika kita harus rela berhemat, really berhemat untuk menekan pengeluaran demi keberlangsungan hidup berdua, tabungan dan cicilan rumah. Rela memangkas waktu senang-senang kita saat masih single, rela memutuskan sesuatu yang sebenarnya kita berat untuk lakukan dan sederet kerelaan lainnya yang mungkin belum saya alami.

Yang biasanya pergi kemana-mana tanpa ijin, menclok sana-sini, kali ini harus ijin dulu ke suami. Yang biasanya bisa jajan apa aja sesuka hati, kali ini harus merhatiin jajanan yang dibeli, dimakan dan merhatiin sisa duit di dompet. Yang biasanya makan-gak makan gak ada yang ngurusin dan gak ngurusin siapa-siapa selain diri sendiri, sekarang harus ngurusin suami makan apa pagi ini, siang nanti, malam nanti. Yang biasanya nyuci baju sendiri, gak tau kapan mau disetrika, sekarang harus nyuci baju suami sekaligus nyetrika double. Yang biasanya berkelakuan seenaknya, kali ini kudu jaga sikap, jaga tingkah laku di depan suami, orang tua, mertua, teman, bahkan orang-orang yang gak dikenal sekalipun. Dan masih banyak yang diluar kebiasaan saat kita masih single.

Sounds tiring, huh? Terdengar melelahkan kah?

Tidak. Kalo kita enjoy dengan semua ini.
Sudah saya camkan di dalam benak dan pikiran saya dari dulu bahwa
“Marriage is all about compromising”

Pernikahan itu tentang kompromi. Gak ada lagi kata aku maunya gini, gitu. Coret kata aku dan ganti dengan “kita”.

Gak munafik, ada lah perasaan lelah dan kaget di awal pernikahan. Tidak jarang ekspektasi yang kita harapkan dan bayangkan sebelum menikah tidak sama dengan realita yang kita dapat. Tapi memang hidup gak semulus yang kita bayangkan dan kita rencanakan, kan? Buat apa dipikirkan.
The right thing we should do is do the best we can do for our future. Kerja lebih keras, meningkatkan kadar kesabaran, toleransi tingkat tinggi dan refreshing sesekali biar gak stress.

Bismillah ya Allah, aku mohon ridhomu untuk rumah tanggaku. Buat saya lebih teguh memulai rumah tangga yang masih berumur satu bulan ini ya Allah..


Thursday, March 13, 2014

Destination: Get Married [Mission Complete]

Dua tahun yang lalu, saya punya resolusi besar. Nikah di tahun 2013!
Jangan asal bikin resolusi kalo gak ada target. Kalo bilang target, berarti kita ada motivasi untuk memenuhi target tersebut.

So did I

Satu cerita of the year tahun ini adalah saya merit!
Well, meleset satu tahun dari target sih..
tapiiii keinginan tersebut sudah terpenuhi di dua bulan lalu, 31 Januari, 2014 tepatnya. Allah selalu punya rencana besar. Siapapun yang berdoa dan meminta kepadaNya pasti akan dijawab doanya. Entah itu secara langsung dalam waktu dekat atau ditunda hingga tepat waktunya, atau bisa saja diberi jawaban yang tidak terduga. Seperti doa saya untuk menikah ini, baru diberikan setahun setelah setahun saya benar-benar meminta. Bisa jadi Allah tidak mengabulkan doa saya tersebut sesaat setelah saya berdoa karena Allah punya banyak rencana untuk saya..
Tahun 2013 kemarin adalah tahun titik balik perubahan hidup saya.

Ada yang bilang jika kita menginginkan sesuatu, pantaskan diri terlebih dahulu. Apakah kita sudah cukup pantas mendapatkan sesuatu tersebut dengan ibadah kita yang pas-pasan, sering lupa sodaqoh, bagaimana perilaku kita ke orang tua, saudara, dan orang lain?
Seperti halnya mencari suami atau pasangan yang baik, soleh-solehah, sabar dan lain sebagainya. Tanyakan terlebih dahulu pada diri kita, sudah cukup pantaskah kita mendapatkan orang seperti impian kita tersebut?
Hal itu yang ada di benak saya setahun kemarin. I less travel to get closer to my families and friends. To get closer to God. I ask to God anything I want to.. and "Pasrah"

and fix my relationship with the others. The Men.
*deep inhale-exhale*

Salah satu list destinasi perjalanan saya adalah pelaminan :)
Ternyata untuk sampai di destinasi ini cukup melelahkan dari perjalanan lainnya.

Setelah menunggu, mencari, meyakini sebuah doa.. akhirnya saya menikah.
Setelah rempong ngurus ke RT-RW-Kelurahan-KUA, ngurus kostum nikah dan keluarga, makanan untuk tamu, tenda-kursi dan tetek bengek lainnya.. finally.. January, 31st 2014..I got married.
Sampai sekarang masih sering gak percaya loh that I'm married.

Proses pernikahan saya dan suami yang begitu cepat membuat segalanya terlihat instant.
Percayalah, bahwa di dunia ini tidak ada yang benar-benar instant selain mie instant (well, mie instant pun juga harus direbus dulu)

Pernikahan saya ini membuat heboh teman-teman dan keluarga. Pasalnya sudah lama saya gak ada kabar di dunia maya lalu mendadak muncul dengan berita saya nikah.

His name is Alauddin Adiwijaya.
Cerita pertemuan saya dan suami (mm..harus terbiasa dengan panggilan ini ya :D) berawal dari dua tahun lalu di sebuah depot masakan timur tengah. Depot Ampel namanya.
Saat itu ayah saya mengajak kami sekeluarga untuk makan bersama di depot temannya. Nah..secara kebetulan, pemilik depot tersebut punya anak laki-laki yang "available". And that was my first time see him. Cuma saling lihat aja sih dari jauh.

Ayah kembali iseng menjodohkan putrinya dan putra temannya. Saya yang masih enjoy dengan hidup saya sendiri ogah nikah dalam waktu dekat. Begitu pula suami saya saat itu juga belum siap menikahi anak orang. Kami mulai saling kontak awal Januari 2012 saat tulisan dan tampang saya muncul di sebuah surat kabar tentang cerita perjalanan saya dan teman-teman. Kami pun sepakat untuk berteman dulu. Hingga mendekati pertengahan 2013, kami kembali berkomunikasi kembali yang pada akhirnya muncul keputusan untuk berteman saja (lagi).

Beberapa bulan setelah itu saya pun sempat dekat dengan yang lain. Proses ikhtiar untuk menemukan jodoh tidak berhenti di situ. Baik saya, ayah, ibu tidak berhenti beristikharah untuk meminta yang terbaik. Untuk hidupku, untuk imanku, untuk ibadahku.

Tidak ketinggalan kakak-kakak dan adek-adek saya juga ikut ikhtiar :)
I'm blessed to have them. Alhamdulillah

Hingga pada akhirnya saya berhubungan kembali dengan suami di bulan November 2013. Saat itu hanya sekedar menyambung silaturrahim saja. Tidak ada kontak secara intens dan sebagainya seperti orang PDKT atau pacaran. Cuma sebatas ngobrol soal kerjaan dan tontonan. Hmm..anyway..selama November dan Desember itu saya bertemu langsung dengan suami selama 3x dan bertemu keempat kalinya di akhir Desember. Pertemuan terakhir itu khusus membicarakan keseriusan masing-masing untuk berhubungan serius. And He proposed me..
"Kalo gitu, gak usah pacar-pacaran ya? langsung nikah aja gimana?"

And yes..I answer him.

Iya..iya..dan iya..
Tanpa ragu sedikitpun.

Beberapa hari kemudian suami saya menemui orang tua saya dan dalam minggu yang sama pula orang tua dan beberapa saudaranya datang ke rumah untuk ijin "meminta" saya sekaligus menentukan tanggal pernikahan.

Di bulan yang sama pula saya akhirnya menikah.

Se-gak ribetnya keluarga saya dalam urusan pernikahan, tetep aja heboh kalo anaknya bakal nikah gak sampai sebulan lagi..
Di masa persiapan itu saya baru benar-benar intens kontak dengan suami.
Dan di beberapa minggu itu saya stand by bareng ibu. Sometimes I wonder gimana jadinya nanti saya benar-benar pisah sama ibu.. gimana ibu nanti waktu gak ada saya..
But this is a process.. a life cycle. Kapan pun itu, sang anak pasti berpisah dengan sang induk.

I'm sooooooo thankful with every single thing mom did, what dad, brothers-sisters did for me.
Terharu rasanya.. apalagi mengingat surat-surat yang mereka berikan saat hari pernikahan saya.

Well, this is me now..as a someone's wife.
I will give all my life for him.
Alhamdulillah.. Proses pacaran kami jalani setelah kami halal 
And The more I know him, The more I love him.
Saya gak tau rumah tangga kami nanti seperti apa, tapi saya yakin apapun itu..bagaimanapun itu, we can pass it together. Happy or sad, I'll be love him.

Dan dengan ini, satu destinasi dalam list saya tercentang :D

Sunday, December 15, 2013

Caraku Beda, Sir..

Kemarin pada saat saya ngawasi proyek, sambil duduk ngerjakan tugas saya sesekali ngecek kerjaan tukang. Kebetulan lokasinya di area Taman Apsari. Saya duduk di salah satu kedai yang tutup di siang hari, sehingga saya leluasa untuk membaca dan menulis dengan laptop saya. Pagi itu saya ditemani teman saya sekaligus owner. Saya ngobrol sambil nulis. Tiba-tiba datang seorang polisi yang kebetulan lagi patroli di daerah situ, (di mata saya) gayanya terlihat petentang-petenteng sok ke para tukang saya.
Saya cuma mengawasi dari jauh sambil menggerutu, "ngapain lagi nih polisi pake tanya-tanya.."
pikiran suudzon sudah terlintas, pengalaman dari proyek2 yang saya temui, gak jarang pihak berwajib minta "sesuatu" demi kelancaran proyek itu. Alhamdulillah saya belum pernah mengalami, cuma cerita dari teman saja, boleh dipercaya boleh tidak.

Tiba-tiba polisi tersebut datang ke arah saya, duduk di depan saya dan teman saya. Tanya-tanya soal mau dibuka apa, dan bla-bla-bla. Well..because i dont really respect him, I just listen what he said and still continue finishing my paper. Saya sedikit mendongak melihatnya ketika ia berbicara soal kerjaan. He gave us tips to do a bussiness..okay, he got my attention..
Saya jadi sedikit respect ketika ia bercerita soal usaha kecilnya juga disamping pekerjaan polisinya. Bisnis kecil di rumah katanya, sepatu. Reseller kecil.

Sambil dengerin, saya lanjutin nulis (tanpa permisi padanya dulu..karena males dan faktor deadline)
Kemudian teman saya tanya, "Bapak rumahnya mana?"

"Ketintang Mbak"

"Oh, Aspol (asrama polisi), Pak?" sahut saya.

Dia cuma ngangguk aja. Lalu saya berasumsi, dengan usianya yang masih 25 tahun (beliau sempat menyebutkan usia saat cerita ngalor-ngidul), berpatroli di jalan, tinggal di aspol ketintang, berarti kalo gak tinggal di rumah orang tuanya yang juga polisi ya memang dia memang sudah dapat jatah di sana. Isenglah saya tanya, "Orang tua polisi, pak? Kok di aspol"
Gotcha! tebakan saya benar. Masih tinggal sama orang tua. Eits..ada cincin melingkar di jarinya. Sudah merit?

Kemudian teman saya pergi, tinggal saya dan polisi ini. Diam beberapa lama dan saya mulai basa-basi yang berlanjut makan ati.

"Kok sendiri aja, Pak? Biasanya berdua kalo patroli."

"Iya mbak, teman saya masih ke warkop. Mbaknya kuliah?"

"Saya kerja pak, sambil ngelanjutin S2"

"bidang apa mbak?"

"Arsitektur" masih sambil nulis

"Oh, kerjanya dimana mbak?"

"Kerja sendiri pak, freelance aja sih. Ndisain sama pelaksanaannya. Lebih ke interior."

"oh, berarti ngurusin tukang juga ya?"

"iya, ada workshop furniturenya pak."

"Orang tua kerja apa mbak?"

"Dosen."

"Berarti masih dimodalin orang tua ya?"

"Enggak pak, untuk usaha saya sendiri sepenuhnya. Saya masih mampu, gak mau pinjam atau minta orang tua"

"Lho, salah sampeyan mbak. Harusnya kalo orang tua masih mampu ndukung dana, mbaknya minta aja terus, sampe usahanya lancar, orang tua mulai lepas dan baru sampeyan pegang kendali sepenuhnya. Prinsipnya orang Cina gitu mbak. Kalo punya usaha, anaknya dimodalin penuh. Apapun didukung dan disuruh megang usaha orang tuanya. Kalo anaknya sudah bisa jalankan, orang tuanya lepas tangan dan usahanya diserahin ke anaknya. Wah, salah langkah mbak."

Saya cuma nyengir aja dengerin, sambil nambahin, "Kalo saya sih memang gak ada niatan minta, Pak. Mau mulai dari nol. Dan orang tua memang gak pernah menyuruh anaknya nerusin usahanya (seandainya ada), meskipun orang tua masih mampu dan mau biayain dan modalin"

Sorry, citranya semakin negatif di depan saya. Saya jadi gak habis pikir, sebenarnya mental pak polisi ini piye sih? Kok seneng banget minta orang tua. Saya jadi subyektif mikir bapak ini punya mental peminta.

Bukan maksud saya menyalahkan cara seperti itu, tapi saya punya prinsip beda. Selama saya mampu untuk membiayai hidup saya dan mengurus usaha saya sendiri, I wont let my parents take over. Tapi selama ini meskipun saya ngurus apa-apa sendiri, saya masih sering sharing soal kerjaan dan lainnya ke ayah-ibu. Kalo sudah benar-benar kepepet saya pinjam. Pinjam ya, bukan minta. Itupun baru sekali saat usaha saya tidak menunjukkan perkembangan, tabungan saya nipis dan saya mulai bangkit lagi. Setelah itu saya kembalikan sesuai janji. Itu yang diajarkan juga oleh Ayah saya. Kami dilatih untuk punya tanggung jawab, apalagi soal duit. Pinjam berapa, untuk apa, kapan dikembalikan. Harus jelas! biar punya deadline dan rasa tanggung jawab tinggi.

Well, this is my way to get survive..whats yours?

Wednesday, November 6, 2013

A (little) Happiness for The Blinds

Tahun baru hijriyah 05 November kemarin menjadi hari bersejarah lagi untuk saya dan keluarga.
Kami memperingatinya dengan cara berbeda. Tanggal merah yang berbeda karena di hari libur itu kami memperingatinya bersama sebagian tunanetra di Jawa Timur untuk PTSB (Pendalaman Terapi Shalat Bahagia) bersama Kun Yaquta Foundation.
A (little) happiness for The Blinds
Hand in hand
Pagi itu hari saya dibuka dengan telepon seorang relawan yang bersedia menjemput para tunanetra di meeting point Bungurasih. "Mbak, saya sudah di Bungurasih, saya harus nunggu di mana?"
Wow, itu masih setengah 6 kurang. Saya baru selesai mandi. Pukul setengah enam tepat saya berada di pintu keluar terminal luar kota. Beberapa menit kemudian, para relawan yang ikut menjemput sudah lengkap. Total ada 5 mobil yang bersedia menjemput 24 tunanetra dari luar kota Surabaya yang ada di meeting point Terminal Purabaya (a.k.a. Bungurasih). Salut banget sama mereka semua yang datang on time, merelakan waktu dan tenaga mereka untuk para tunanetra. Waktu itu saya yang sendirian mengkoordinir para tunanetra, dibantu oleh salah satu relawan untuk mencari satu persatu mereka yang berpencar, menggiring mereka ke mobil dan memastikan mereka semua terangkut hingga ke lokasi acara.

Tidak ada rasa malu dan lelah ketika mencari mereka ke sana kemari, menelepon masing-masing dari mereka dan menuntun mereka. Saya seperti diberi kekuatan untuk menolong mereka meskipun orang-orang melihat kami dengan heran. Ada bapak kondektur yang menolong saya mencari mereka. Alhamdulillah sekali banyak yang membantu dan dipermudah oleh Allah.

Setelah hampir satu setengah jam berputar-putar dan menunggu para tunanetra, saya kembali pulang dan bersiap-siap ke lokasi acara.

Ketika saya datang, acara sudah mulai. Setelah mengobservasi sebentar, saya melihat jumlah relawan yang membantu kelancaran acara ini banyak sekali. Saya melihat ketulusan mereka, benar-benar tulus. Saya tahu sebagian dari mereka latar belakangnya adalah orang-orang mampu yang (mungkin) hartanya sudah berlimpah. Dan hari itu saya melihat bagaimana mereka sangat telaten menggiring para tunanetra ke sana kemari untuk berwudlu, membantu membetulkan gerakan shalat mereka, mencarikan sandal hingga memakaikan di kaki mereka. Saya terharu melihatnya.
shalat bersama dengan penuh renungan
Faisal, peserta termuda. Gak pernah gak senyum :D
Mata saya berkaca-kaca mengingat itu semua. Melihat para tunanetra tersebut seperti berkaca untuk nikmat yang sudah diberikan Allah. Bahwa saya sudah diberi banyak kenikmatan olehNya. Terlebih lagi saat proses pendalaman shalat yang penuh haru, tidak ada perbedaan di antara kita. Posisi kita semua sama di hadapan Allah.
Terharu
Senang sekali bisa mengalami peristiwa tersebut. Tidak ada keluhan sama sekali dari para volunteer. Bahkan mereka berterima kasih kepada kami karena diberi kesempatan berbagi. Mengharukan.
Masih banyak kekurangan dari kami atas acara tersebut, karena baru pertama kali itu kami mengadakan acara yang berbeda. Tapi dengan itu, kami belajar banyak untuk memperbaiki diri.
Sandal mereka yang pada akhirnya menjadi peristiwa heboh untuk mencarinya
Dear, blinds..Thank you for inspiring us, for reminding us that we have sooo many things to be thanked.
Dear, volunteers..Thank you for the great help. We are speechless to say thanks to you..
Mungkin dengan berbagi sedikit kebahagiaan ini bisa menjadikan kami dan mereka bahagia dunia dan akhirat.

May Allah bless you All

Sunday, October 27, 2013

Maka, Nikmat yang Manakah yang Kau Dustakan?

Untuk kesekian kalinya, saya kembali mendengarkan peliknya masalah seseorang.
Malam itu, 22:30 03 September 2013, saya berada di dalam kamar saya mengerjakan sesuatu sambil tidak sengaja mendengarkan sharing seseorang kepada ayah. Bukan sekali, dua kali, tapi berkali-kali. Ada yang datang karena anaknya terkena narkoba, ada yang cerita tentang ego suaminya, tentang perselingkuhan, tentang perselisihan dengan saudara, bahkan masalah kejelasan gender. Hanya mendengarkan saja, tanpa melihat siapa yang bercerita. Kamar saya di lantai 2, sedangkan ruang tamu di lantai 1. Kedua ruangan ini berjarak kurang lebih 10 m, 4 meter menuju tangga, 3 meter naik tangga dan 3 meter dari tangga. Rambatan suara dengan bebas sampai di kamar saya karena batasan dindingnya hanya satu, selebihnya hanya udara dan partisi yang tidak solid. Dari ngobrol biasa hingga menangis, saya mendengarnya.

Masalah rumah tangga yang mendesak diceritakan oleh pemiliknya kali ini adalah rasa insecure seorang suami atas istrinya. Lebih dari 10 tahun menikah, 3 kali berhubungan badan (yang katanya 3 kali tersebut bukan karena kemauannya, tapi diperkosa sang istri), mengalami pukulan dan siksaan lainnya oleh istri, sering ditinggal istri lebih dari seminggu, kekayaan suami dikuasai istri serta suami diperlakukan seperti pembantunya. Sang suami mengaku telah diperdaya istri selama menikah dan baru menyadarinya pada tahun 2011. Bapak tersebut juga mengeluh kesakitan setiap kali berada di rumah dan merasa sehat setiap kali keluar (jelas ini karena faktor psikologis). Saya tidak begitu menyimak setelahnya dan memutuskan menulis ini setelah berpikir beberapa waktu kala mendengarkannya. Saya tiba-tiba diingatkan beberapa hal. Yang pertama, how amazing my father yang selalu bersedia kapan saja mendengarkan siapa pun! Kapan pun, orang yang meminta waktunya untuk sharing dan nasehat. Tidak sekali ini di malam hari bahkan di tengah malam, tiba-tiba orang datang dan bercerita. Secapek-capeknya beliau, beliau selalu menanggapi dengan baik. I know sometimes my dad didn't sleep at all in a day for working. Bikin saya bilang, “Kamu masih mau ngeluh meh??” 

Hal lain yang membuat saya bersyukur adalah alhamdulillah saya tidak punya masalah yang seberat masalah mereka. Semoga mereka diberi ketabahan lebih dan menjalani yang terbaik yang diberi Allah. Saya cuma bisa mendoakan saja.

"Fabiayyi aalaaa irobbikumaa tukadzibaaan"
Maka, kenikmatan apalagi yang kau dustakan

31 dari 78 ayat surat Ar-Rahman (55) tersebut kembali terngiang.
Bersyukurlah, sudah banyak nikmat yang diberikan Allah kepada kita.

Friday, September 13, 2013

Injured but (still) Alhamdulillah

I got injured.

Today, while riding my motorbike from my last office to go home, I got slip on a street. Kejadiannya cepet banget. Saat itu saya mau puter balik di bunderan besar daerah mulyosari-pakuwon city. Tiba-tiba di depan saya ada motor modif melaju kencang memotong jalan yang pengendaranya tanpa memakai helm dan well, typically pemuda yang suka cangkruk di warung kopi. Wuzzz..gak pake nolah-noleh langsung aja. Because the road is big dan kondisinya agak turun, ketika saya ngerem untuk menghindari nubruk motor tersebut, ban motor saya terpeleset..


Brakkkk!!!
Jatuhlah saya sambil terseret motor yang masih jalan. Tiba-tiba saya gak bisa bangun. Mati rasa. Kaki saya tertindih motor dan posisi badan saya tengkurap (atau miring ya..saya gak tau pasti). Pokoknya saat itu saya gak sadar. Baru pas ada yang bantuin ngangkat motor saya mencoba duduk, ngecek kepala, tangan, badan dan kaki. Fortunately, alhamdulillah..di bagian kepala saya gak ada yang luka. Hal utama yang saya takutkan adalah mata. I always remember how my sister got the same accident dan harus dioperasi karena selang air matanya putus dikarenakan benturan yang sangat keras. Saya takut helm atau kaca mata saya pecah dan mengenai mata saya.

Karena sepertinya tidak ada yang luka di anggota tubuh lain, saya mencoba berdiri. Tapi tiba-tiba rasa perih muncul di kaki saya. Kemudian saya melihat kaki kanan saya sudah terlihat lapisan dalam kulit dan (daging?) entahlah bagian apa itu. Saya langsung sadar, setelah ini pasti darah bakal banyak keluar. I try to stand. Nothing wrong. I check my body once again. Nothing serious.. kemudian saya melanjutkan perjalanan saya setelah mengucapkan terima kasih ke mas-mas yang bantuin saya.

I drive slower than before, really slow.. masih shock dengan kejadian tadi. Saya nyetir sambil mikir, apa saya langsung ke UGD saja ya buat ngobatin luka ini, karena perihnya mulai terasa. Telapak tangan kiri saya juga kayaknya bengkak. Saya belum melihat bagian-bagian tubuh yang tertutup pakaian, sarung tangan dan lainnya. Sambil mikir sambil ngerasa perih lagi di bagian kedua lutut. Sepertinya lutut kanan-kiri saya juga terluka melihat ada bagian jeans saya yang agak sobek di bagian itu.

Pulang...enggak..pulang..enggak.. Sudah dua RS yang saya lewati. Saya putuskan pulang. Perjalanan lokasi saya jatuh ke rumah adalah 40 menit jika lancar. Selama itu pula saya menahan sakit sambil meringis nangis di saat mengendarai motor. Saya sudah membayangkan, siapa nanti yang bakal tega ngobatin saya di rumah. Ayah dan adek laki-laki saya para lelaki yang gak bisa lihat darah, mereka juga pasti sudah berangkat shalat jum'at. Adek-adek yang lain juga lagi kuliah dan sekolah. Cuma ada ibu, yang mungkin juga gak begitu tega buat ngobati luka ginian.

Sampai di rumah, saya masuk rumah sambil sesenggukan cari alkohol dan obat luka. Ternyata ada kakak perempuan saya, Shinfi dan anaknya yang lagi mampir di rumah. Melihat saya bertingkah aneh, kakak saya curiga dan ngecek keadaan saya. Saya cerita sambil nangis kesakitan :D
Eh, dia ikut nangis gak tega..hahah terus ujug-ujug bangunin ibu yang lagi tidur.

Langkah selanjutnya adalah melepas celana dengan hati-hati dan ngecek mana saja yang luka. tebakan saya benar, lutut-lutut saya sudah mengeluarkan darah dan kaki bagian bawah saya sudah benar-benar berdarah dan bercampur debu juga aspal yang nempel :(((((( Perih!!!!!

Ibu dan kakak saya ngobatin kaki saya dan saya nangis jejeritan nahan perihnya luka dikasi alkohol dan obat luka andalan (Tieh Ta Yao Gin) yang perihnya gila-gilaan!!!
Aspalnya masih nempel di bagian kaki yang luka dan susah ngilanginnya. Tiba-tiba adek saya pulang kuliah dan menawarkan diri ngilangin aspal-aspal itu. Dengan persiapan mental yang cukup, saya teriak-teriak seperti orang gila karena luka saya digosok dengan kapas+alkohol (nggosoknya kudu banget!!) biar aspalnya ilang. Palingan tetangga ngira ada yang ngelahirin di rumah ini.

Ya Allah..terima kasih, terima kasih saya masih diberi hidup. Gak ada yang nyangka kejadian seperti tadi. Kecil juga bagiMu membuat seseorang meninggal dalam sekejap. Mungkin ini peringatan, doa saya kurang padaMu.

Alhamdulillah


*setelah ini tidur sambil kemeng-kemeng nih badan. Gak bisa tidur sembarangan ngehindarin luka yang kegeser*

Monday, September 9, 2013

The Ambigu Moment

I'm busy with my "real" life in these months lately. I'm doing my projects, preparing my study and get closer with my family.

I'm happy. Alhamdulillah

Lately I was confused with my own life. I enjoy my day, but i feel there's something missing.
I guess it just because I didnt go travel in these months and dont have any plan of it.

Tiba-tiba saya disadarkan oleh sapaan sahabat, " Meh, kamu gimana kabar? kemana aja?"
Nice to know that we are missed by someone :) indeed!

Kesibukan saya dengan dunia saya sendiri membuat saya jarang online di social media. Faktor lainnya adalah ketersediaan sinyal di tempat saya berada. The good side is, saya jadi gak ketergantungan dengan social media and the best thing is, I become closer with my mom, brothers, sisters. I spent much time with them.

But still, saya masih merasa bingung dengan masa ini. Susah sekali merelakan kebiasaan traveling sesuka hati. Segalanya memang perlu pengorbanan ya, I've a priority anyway..
Saya sedang mencari cara agar bisa tetap menjalankan keduanya (wisely).

Well, this is life..








090913, sebentar lagi 0926 which is I'm gonna 25 this year! seperempat abad!

Sunday, June 16, 2013

Bikin Hidup Lebih Hidup

Ketika teman-temanku sibuk mikirin mau kemana weekend ini, saya sibuk mikirin bisa "leyeh-leyeh" di rumah gak ya weekend ini.
Ketika tabungan teman-temanku sudah bisa dipakai untuk beli sepeda motor tanpa angsuran, beli gadget terbaru, tabungan saya kembali ke awal saldo ketika baru mulai kerja.
Ketika teman-teman sibuk ber"haha-hihi" dengan teman-teman mereka, saya rempong ngatur jadwal ke tukang, beli material, ke klien, ngantar ibuk.
Ketika teman-teman ngeluh dengan kerjaan mereka di kantor, saya sedang pusing ngurusi permintaan atau komplain klien.
Tapi, ketika teman-teman bingung dengan kerjaannya, saya sibuk traveling, entah gratisan atau pergi sendiri :D

Enjoy. Saya enjoy dengan semua kesibukan itu.

Terdengar sombong sih, tapi semuanya punya kesibukan masing-masing. Saya seperti sok sibuk di mata teman-teman. Saya memang sedang sibuk sendiri. Sibuk ngurusi hidup saya. Kurang lebih sudah setengah tahun ini saya sok sibuk. Saya sudah gak kerja kantoran lagi seperti teman-teman. Saya kerja sendiri.

Memutuskan resign setengah tahun yang lalu itu bukan asal-asalan. Saya sudah siap dengan semua resiko yang akan saya tanggung setelahnya. Waktu itu saya butuh tantangan baru. Kerja selama 2 tahun ikut orang membuat saya hidup nyaman. Lama-lama saya terlalu nyaman sampai akhirnya merasa bosan.

Beberapa bacaan buku, blog, twitter dan media lainnya saat itu turut membentuk pemikiran saya untuk resign dan memulai usaha sendiri. Saya gak mau hidup saya "lempeng".
Resign dengan alasan akan mencoba membuka usaha kuliner dan niat terselubung agar bisa bebas traveling menjadi motivasi saya. Perlahan motivasi itu hilang berganti prioritas yang lain, yaitu memperbanyak kerja untuk ibadah, lebih dekat dengan keluarga (lha emang kamu sudah jadi ibu-ibu meh? --").

Nekat!
Tabungan saya saat itu mepet. Saya sudah mikir mau diapain tabungan ini daripada ngendon di buku tabungan. Saya putuskan untuk mendepositkan sebagian dan sebagian lagi saya putar untuk usaha. Saya habiskan uang itu untuk sekolah. Iya, sekolah kehidupan. Bermodal nekat saja ternyata gak bisa. Karena gak tekun jalaninnya, beberapa bulan usaha kuliner saya belum balik modal. Belum lagi omelan-omelan ibuk yang terus-terusan karena saya dianggap gak serius jalaninnya.

Bulan ke bulan berikutnya duit saya menipis. Proyekan belum ada yang tembus. Pontang-panting gak jelas mikirin hidup yang njelimet ini. Sempat kepikiran untuk ngantor lagi, apply lagi. Tapi kemudian saya mikir lagi, "Siklus hidup orang kerja dengan posisi pegawai itu ya itu-itu aja sih sepertinya." Saya tipe orang yang bosen dengan rutinitas. Saya benar-benar mengurangi kegiatan-kegiatan yang tidak begitu penting. Nonton, ngemall, ngumpul sama teman-teman tanpa obrolan yang kurang bermanfaat, bahkan hobi traveling pun sudah sangat berkurang.

Sampai akhirnya saya fokuskan ke ibadah. Saya ingat dengan kata-kata ibu, "Pokoknya kalo kerja itu niatnya ibadah dek. Semakin banyak uang yang kita dapat, semakin banyak sodaqoh yang kita keluarkan." Saya perbaiki sholat saya dengan cara-cara yang sudah diajarkan Ayah. Saya berdoa, meminta, curhat total ke Allah, pasrah ke Allah.
Tiba-tiba saya diumrohkan kedua orang tua saya. Alhamdulillah sekali rasanya. Gak punya duit tapi bisa sampai tanah suci.

Beberapa hari sebelum berangkat, satu kenalan menelepon dan mengajak bertemu. Alasannya pengen ngomongin tata ruang kantornya. Gak ada harapan sama sekali dari situ, saya mikirnya cuma ngobrol biasa aja. Gak taunya, saya diminta mendesain dan ngerjakan satu furniture di kantornya. Malam ketemu, besoknya langsung deal desain dan harganya. Alhamdulillahirabbil Alamiiin..
Rejeki gak kemana memang ya.. Sepulang umroh, ada satu pesan dari orang minta didesainkan renov kantornya. Saya lihat pesannya sudah seminggu yang lalu. Saya balas meskipun terlambat, gak disangka-sangka, beliau langsung minta saya datang ke kantornya dan langsung ngerjakan. Gimana gak makin bersyukur coba..

Beberapa proyek datang berurutan setelahnya. Ada klien yang rewel, ada yang susah bayarnya, ada proyek yang rugi, ada yang baiiiiikkk banget. Macam-macam tipenya. Saya berhadapan dengan berbagai karakter orang. Girang sekali rejeki tersebut datang setelah kita bersusah payah usaha dan pasrah ke Allah. Meskipun sedikit, tapi alhamdulillah saya merasa cukup. Sedikit, tapi bisa berbagi. Belum lagi tidak sekali dua kali saya dihadapkan dengan orang-orang yang membuat saya lebih bersyukur dengan kondisi apa pun yang saya alami.

Saya merasa lebih kaya dari teman-teman. Bukan kaya harta, tapi kaya pengalaman, kaya hati. Semakin banyak masalah yang saya dapat, makin matang pemikiran dan langkah yang saya ambil.
Bersyukur sekali jika orang di sekitar kita support keputusan yang kita ambil. Hidup terasa lebih hidup saat ini. Memeras keringat dengan susah payah, mendapatkan pengalaman yang gak ada hentinya, menuai hasil kerja keras kita meskipun sedikit tapi membuat bangga.

Jadi, langkah berani apa yang sudah kamu ambil?

Tuesday, April 9, 2013

Curcol, Curhat Colongan di Saat Melakukan Perjalanan

Pasti hampir semua dari kita pernah mengalami ini. Biasanya, momen ini muncul di tengah waktu yang senggang, santai dan tempat yang mendukung. Berdasarkan pengamatan (dan pengalaman sih sebenarnya) yang saya lakukan, momen tersebut muncul di tipikal tempat dan waktu sebagai berikut:
1. Di tengah kendaraan menuju destinasi. Biasanya waktu perjalanannya lebih dari 2 jam. Baik dengan orang yang dikenal maupun stranger, penumpang lain yang duduknya sebelahan sama kita yang kebetulan klop untuk diajak ngobrol.
2. Di tengah istirahat di tengah perjalanan
3. Pada saat santai di pantai <--- lokasi terbanyak orang menggalau
4. Di tempat lain yang tenang dan di saat kita tidak ada atau bosan dengan aktivitas lain
5. Malam menjelang tidur, pillow talk bareng teman trip sekamar atau sebelahan atau setenda. Yang sering terjadi di sini adalah..sering kebablasan waktunya. Sampai subuh :D

Curcol terakhir yang saya alami adalah di pesawat. Sebelah saya kebetulan seorang ibu yang ternyata anaknya seusia saya. Momennya pas banget, perjalanan 8 jam lebih kita duduk sebelahan. Aneh rasanya kalo kita gak ada yang dilakukan. Bosan tidur, dengerin mp3, baca, nulis, makan, akhirnya celetukan-celetukan iseng jadi obrolan. Si Ibu ternyata asik diajak ngobrol, kita cerita panjang lebar yang akhirnya terselip curhatan-curhatan terselubung. Baru kali itu saya curhat ke orang baru dengan hati yang terdalam (baca: pengen mewek :D)
Selain hati lega, pengalaman hidup ikut nambah, relasi juga bertambah. Gak jarang saya dapat kenalan baru dari sini. Bahkan klien.

Kalo curhat bareng teman sih jangan ditanya alurnya, ngalir gitu aja setelah ngobrol dikit. Curhatan ini juga salah satu cara untuk membangun kedekatan kita bareng teman loh.. We will know their personality, dan akhirnya kita makin solid. Iya gak? iya gak?

Nulis ini juga bentuk curcol saya kok ke kalian, percaya gak percaya, cerita itu menyehatkan.
Happy curhat!

Friday, February 22, 2013

Bersekolah Kembali di Kelas Inspirasi

Tertidur! Haha.. Sering ngalamin ini juga? Foto: Adiar Ersti
Maen Petak Umpet sebelum masuk kelas. Foto: Mehdia
It takes more than 16 years for me to finish a formal education. But only a few times, not even close to 365 days, to get closer to my teachers. Dan saya menyesal sangat jarang sekali mendoakan mereka di setiap doa seperti saya mendoakan orang tua saya.

Tepat beberapa hari sebelum hari H Kelas Inspirasi, Ayah sempat mengingatkan kami untuk mengkhususkan doa kepada seseorang, siapa pun itu, yang kami anggap berjasa dalam hidup. Misalnya orang yang pertama kali mengajari membaca bismillah, orang yang pertama kali bisa membuat kami menulis, orang pertama yang mengingatkan kami untuk meminta maaf ketika salah, dan sebagainya. Siapa pun itu, jika orang itu memberikan kontribusi positif dalam hidup kita, we should do something good for him/her too. Harus!

Guruku, Inspiratorku.
Ternyata kata-kata itu bagi para guru bisa jadi terbalik. Muridku, Inspiratorku.
Di Kelas Inspirasi kemarin, saya menjadi guru sehari. Ada yang menyebut kami sebagai para inspirator. Di kelas itu, saya menjadi bisa berkata, "Muridku, Inspiratorku." Saya kembali bersekolah. Saya kembali mendapat banyak pelajaran. Saya kembali mendapat inspirasi.
Puisi "Guru" di mading SDN Kedung Cowek I
Puisinya mengharukan
Saya kebagian mengajar di kelas yang "super heboh" kata beberapa guru yang saya temui di saat survey sebelum mengajar. Saya malah tertantang melihat tingkah para siswa kelas 5A SDN Kedung Cowek I Surabaya tersebut. "Hmm..apa yang harus saya siapkan untuk mencuri perhatian mereka nanti ya?" pikiran tersebut terus terngiang hingga H-1 Kelas Inspirasi. Sebelumnya saya mendapat bocoran dari Bu Ningsih, wali kelas mereka,  bahwa mereka bisa agak "anteng" dengan menggunakan LCD. Fine! Salah satu ide muncul, saya akan putarkan slide foto dan video untuk mereka. Ide kedua muncul, saya akan menggunakan media maket untuk membantu saya menjelaskan profesi Interior Designer. Masalahnya, Tugas Akhir kuliah saya bukan berkonsentrasi ke sana. Tugas Akhir saya fokus ke perilaku pelaku desain, bukan desainnya. Tapi saya beruntung, dua sahabat saya, Nesya dan Vinca, Tugas Akhirnya berkonsentrasi ke Interior yang saya geluti sekarang :D Terima kasih buat pinjaman maketnya Vinc..

Saya masih butuh ide yang lain untuk menghabiskan waktu mengajar selama 1 jam 15 menit. Ide terakhir baru muncul di sore hari Selasa, 19 Februari 2013, gak sampai 24 jam sebelum saya mengajar. Pilihannya waktu itu adalah melakukan workshop membuat pohon untuk maket atau membuat paper toys. Sempat kepikiran untuk mengajari mereka bermain The Sims. Di game itu kan ada kesempatan untuk menata rumah dan perabotnya. Pas banget dengan profesi saya. Tapi ternyata di The Sims juga ada pelajaran dewasa, seperti flirting, kiss, dkk :* aw..aw..aw..

Pilihan ide terakhir jatuh pada ide membuat paper toys. Alasannya, kalau saya putuskan bikin pohon, agak gak nyambung dengan interior, karena komponen pohon yang biasa saya buat dipakai di maket eksterior atau tapak. Peralatannya saya juga gak siap. Sedangkan paper toys, saya tinggal download pola dari internet dan siapkan gunting-lem. Timbul masalah lagi ternyata, karena keputusan itu muncul sudah cukup malam, saya belum beli gunting dan lem untuk mereka.. huhuhuuu :(
Mau gak mau sebelum berangkat pagi itu saya harus membelinya.
Beberapa Paper Toy yang saya dan teman-teman buat di sela kerja
Rumah saya di Siwalankerto, sedangkan SD Kedung Cowek di sebelah Suramadu, which is lokasinya sangat bertentangan. 40 menit lebih perjalanannya. Saya baru berangkat pukul 6.30 karena harus cari gunting dan lem dulu. Hoshhh!!! ngebut ke lokasi ngajar. Pukul 07.20 saya sampai di Kedung Cowek. Malu banget! Telat ngajar :(
Kelas Mbak Ade Kumala yang sudah mulai duluan :D Foto: Adiar Ersti
Pake Name tag, gak mau kalah sama pengajarnya.. Foto: Adiar Ersti
Saya tergopoh-gopoh membawa dua maket dan peralatan lainnya. Para siswa sudah cukup heran melihat saya yang berkeringat ngos-ngosan sambil bawa kotak-kotak maket. Setelah sudah siap semua, saya mulai memperkenalkan diri. 

"Selamat pagi, Adek-adek! Nama saya Mehdia."
"Maaf ya telat, tadi habis pemanasan dulu. Seperti Olahraga. Kalian sudah pemanasan belum?"

"Belooooommmm"

 "Yuk, pemanasan dulu dengan bernyanyi.."

Akhirnya saya ajak mereka dengan ice breaking mengkomposisi suara dan gerakan.
Maket Interior Vinca yang saya bawa :) Foto: Adiar Ersti
Saya berikan kesempatan mereka menebak terlebih dahulu kira-kira profesi saya apa, dengan menunjukkan maket-maket tadi. Eh, ternyata ada yang langsung tanggap. Arsitek!! Tapi saya jelaskan bahwa pekerjaan saya lebih spesifik ke Interior Design. Mereka tampak bingung, apa itu?
Saya jelaskan dengan foto-foto proses saya dan teman-teman bekerja dan saya sisipkan beberapa cerita di dalamnya.
Mereka seneng diputerin video, diajak praktek bareng. Foto: Syerly Ade
Hey...bersyukur sekali loh mereka cukup menyimak saya di depan. Memperhatikan apa yang saya sampaikan. Saya tidak menemui anak-anak yang "heboh" yang seperti gurunya bicarakan. Saya melihat keantusiasan di mata-mata bening mereka. Apalagi setelah saya ceritakan soal kegiatan yang bisa saya lakukan di sela-sela kerja. Bepergian ke luar kota karena pekerjaan, traveling gratis, hingga bermain vector dan membuat paper toys. Nah.. lalu saya tawarkan untuk membuat paper toys yang caranya sama dengan membuat bangun-bangun di matematika. Saya sampaikan bahwa membuat maket itu mudah, sama seperti membuat paper toys itu, memakai pola.
Konsen motongin paper toy. Foto: Syerly Ade
Mencoba meteran yang saya bawa. Foto: Syerly Ade
 Lesson plan yang saya gunakan ternyata berhasil! Mereka semangat sekali membuatnya..
Ada yang mengerjakan sendiri di pojok kelas, ada yang cuma melihat saja. Ada yang berebut lembaran paper toys. Macam-macam tingkah pola mereka. Maket-maket yang saya bawa mereka kerubungi dan menyentuhnya dengan heran. Ada yang bermain meteran yang saya tunjukkan untuk mengukur perabot di dalam kelas. Sempat sih terjadi beberapa perkelahian di antara mereka. Tapi menurut saya wajar, saya dulu juga seperti itu kok, bertengkar, berteriak, menaiki meja, dipanggil kepala sekolah, dan sebagainya :D Saya seperti bersekolah kembali bersama mereka.
Seheboh apa pun tingkah mereka, serame apa pun kelasnya, saya tetap tidak melihat sisi nakal mereka. Saya melihat keseruan di sana. Saya melihat mereka yang punya semangat tinggi. Saya melihat mereka yang masih polos. Spirit itu yang kita perlukan sebagai seorang dewasa. Energi dan semangat yang tinggi, tidak mudah menyerah jika menginginkan suatu hal.
Berkelompok membuat furniture paper toys. Foto: Ade Kumala

Oh, Man.. coba lihat ada yang berkelahi di sana. Ini terjadi beberapa kali loh.. haha Foto: Syerly Ade
Dua siswa ini seneng banget lihat Paper Toy-nya jadi. Meskipun gak tau nama tokohnya Yoda. Foto: Adiar Ersti
Mereka penasaran dengan maket-maket interior yang saya bawa. Foto: Adiar Ersti
Hemm..spechless :)) Foto: Adiar Ersti
Bu Guru Mehdia mengajari bikin paper toy mobil. Foto: Adiar Ersti
Kak. punyaku sudah jadi! Foto: Adiar Ersti
Ditarik siswa-siswa buat foto bareng.. Foto: Adiar Ersti
Help Me!! Aku terjepit di antara mereka :)) Foto: Adiar Ersti
Saya sisipkan beberapa pesan di cerita saya pada mereka bahwa mereka harus berani bermimpi, mereka harus menuliskan segala mimpi, cita-cita dan harapan mereka. Kemudian saya yakinkan bahwa semuanya pasti menjadi nyata kalau kita percaya dan berusaha.
Mereka pasang beberapa di jendela kelas. Sweet :)
Furniture Paper Toys yang berhasil mereka buat.
"Kak, paper toy ini carinya dimana?"
"Kak, lain kali kalau ke sini lagi bawa paper toy yang banyak ya"
Lain kali saya pasti akan kembali ke sana, dan mungkin tidak hanya di SD Kedung Cowek saja, mungkin SD-SD yang lainnya :)
Kedung Cowek Team. Complete! Bareng Kepala sekolah dan beberapa guru.
Setengah hari berada di antara mereka ternyata membuat saya tepar di malam harinya. Saya membayangkan bagaimana para guru bisa bersabar dan setia mengajar.

Guruku, Inspiratorku.
Muridku, Inspiratorku.

Dari dulu saya percaya bahwa pendidikan itu tidak hanya kita dapat di sekolah, tapi di setiap momen kehidupan. Selama kita hidup, selama itu pula proses belajar-mengajar terjadi. Keep Inspiring, guys!

"Langkah menjadi panutan, Ujar menjadi pengetahuan, Pengalaman menjadi Inspirasi"

Sunday, February 3, 2013

Become A Part of Kelas Inspirasi


Apa itu kelas inspirasi?
Gak jauh-jauh dari namanya, artinya kelas yang menginspirasi. Saya menganggap kelas inspirasi  sebagai kelas yang berisi orang-orang yang saling menginspirasi. Tidak peduli usia, jabatan. Silakan coba buka http://kelasinspirasi.org/ untuk tahu lebih banyak kegiatan ini.

Pertama tahu Kelas Inspirasi ini dari Facebook Indonesia Mengajar. Ya, Kelas Inspirasi ini adalah salah satu program Indonesia Mengajar. Dulu, saya dua kali mendafatar Indonesia mengajar, tapi gak lolos. Hehee.. Kali ini akhirnya saya lolos menjadi inspirator di Kelas Inspirasi. Huhuuu.. Mengharukan :D

Meskipun cuma berkesempatan mengajar sehari, tapi bangganya gak habis-habis loh. Dan di kelas inspirasi ini para inspirator yang terpilih tidak mengajar seperti guru pada umumnya. Kami harus menjelaskan profesi kami kepada adek-adek sekolah dasar yang (mungkin) belum banyak tahu bahwa pekerjaan itu buanyaaaakkkkkk sekali macamnya. Well, saya sudah bisa membayangkan bagaimana susahnya menjelaskan satu profesi di depan anak-anak SD saat saya baru pertama tahu tentang Kelas Inspirasi. Tidak akan semudah kita menjelaskan ke orang-orang dewasa. I ever did it to my lil sisters. "Arsitek itu ngapain aja sih mbak? Interior Designer itu apa?" dan segala macam pertanyaan tentang apa yang saya lakukan dalam bekerja. Apa nanti saya perlu bawa maket? Apa nanti saya ajak adek-adek menata kelasnya? Aaaah.. perlu ide yang menarik nih..

Pernah di satu perjalanan, saya dan beberapa teman sedang membicarakan anak-anak di sebuah desa yang baru saja kami kunjungi di daerah Manggarai, Flores. Tiba-tiba saja kami membayangkan kira-kira pendidikan mereka nanti sampai dimana, mau jadi apa nanti. Dan salah satu dari kami nyeletuk, "Coba tanya cita-cita mereka apa? pasti jawabannya kalo gak pengen jadi dokter, pilot, astronot, bahkan presiden. Mainstream! Pengen deh gue bilang ke mereka kalo cita-cita mereka itu kebanyakan gak realistis. Mereka gak tau gimana profesi itu."
We do agree with those statements. Sebenarnya bukan tidak mungkin cita-cita tadi menjadi real, tapi mereka belum tahu bahwa ada berbagai macam profesi yang bisa mereka cita-citakan. Dan mereka perlu tahu itu. Kebanyakan dari mereka, menjadi dokter, pilot, dan profesi mainstream lainnya adalah profesi ideal yang diidam-idamkan sejuta umat. Sayangnya, tidak semua anak-anak itu punya kesempatan untuk tahu hal itu.

Salut sekali dengan ide kelas Inspirasi yang mengambil celah tersebut. Di Kelas Inspirasi ini kami mencoba menanamkan cita-cita yang beragam kepada adek-adek sekolah dasar agar mereka bisa bermimpi sejak usia dini dan harapannya, bisa terus termotivasi hingga mimpi tersebut terwujud kelak.
Kira-kira empat atau  lima tahun lalu saya pernah membantu mengajar SD waktu Kemah Kerja Mahasiswa, Pengabdian Masyarakat beberapa hari di sebuah desa pinggiran. Rame, seru dan heboh! Hahaa.. Kali ini saya akan kembali mengajar, dengan materi yang berbeda. Hemm.. wondering how interesting it will be!

Monday, December 31, 2012

Mainstream Tahun Baru

Hundreds people in my timeline talk about resolutions. They are busy with their wish.
Mainstream.
Sebuah resolusi tanpa rencana yang pasti itu percuma.

Kamu punya resolusi, tapi gak ada rencana dan tekad untuk melakukannya, gak bakal jalan lah!
Resolusi itu gak harus tiap tahun kok dibikin. Hari ini juga kamu buat resolusi untuk besok, atau untuk tahun depan atau bahkan untuk hidup yang panjang ya tetep namanya resolusi kan?
Gak ada batasan kapan harus membuatnya.

Dan..yang banyak terjadi, gembar-gemborin resolusi yang dibikin di social media, trus??
Berapa persen yang terealisasi?

Memang sih, sebuah rencana yang baik jika lebih banyak yang tahu kemungkinan besar akan banyak pula yang mendoakan. Tapi asal diingat aja, mereka semua itu saksi loh.. saksi kamu bikin resolusi. Bagi saya, saya bakal malu kalo resolusi yang saya gembar-gemborkan itu gak tercapai. Lebih malu lagi sama diri sendiri mengingat resolusi yang saya bikin gagal menjadi nyata akibat kelakuan diri sendiri.

Sejauh ini hal vital yang membuat beberapa resolusi saya gagal adalah MALAS!!!

Tapi saya gak kapok bikin resolusi, saya bikin sekaligus proposal hidup. Saya sisipkan harapan saya di sela-sela sholat. Saya targetkan, saya usahakan dan saya pasrahkan ke Allah.

Mainstream kedua adalah bertebarannya pertanyaan-pertanyaan seperti ini: "tahun baru kemana?" "tahun baruan ngapain?" Haduuuuuhhh.. sumpah ya, sebel dengernya.

Gak tahun baru juga kita bisa pergi-pergi, gak tahun baru juga kita selalu "ngapa-ngapain".

Come on!! Just go reflect your self to the mirror! atau silakan leyeh-leyeh bentar deh pikirin hidup..
Sudah melakukan apa saja setahun ini? Berguna enggak?
Gimana urusan sama yang Kuasa? Lebih baik? atau gak lebih baik dari hari-hari sebelumnya?

Selamat tahun baru, anyway..
Agak nyesel kenapa gak pas tahun baru hijriyah aja mikirin ini :(

Monday, December 24, 2012

My 2012

2012 menjadi tahun hebat bagi saya. Banyak yang terjadi tanpa diduga di tahun ini. Alhamdulillah!
Mari kita review satu tahun ini.

Januari
> Tanggal 4-7 saya ke Bali dengan gratis. Untuk bekerja dan sesekali ke pantai. Keliling kota pake motor, bareng sahabat dan bos yang baeeeeeeekkk banget.

> a week after that, I did a night trip again. To the beaches in Pacitan

> 19 Januari 2012. Tulisan saya dimuat pertama kali di Jawa Pos. Tulisan tentang Alas Purwo
Bangga banget bisa mengisi satu halaman full koran nasional tersebut. Alhamdulillah


Februari
> Tepat sebulan dari Bali, saya ngetrip singkat selama sehari ke Goa Cina dan Bajul Mati dengan beberapa teman baru.

> Seminggu setelah itu, saya melanjutkan trip yang tidak biasa. Ke luar negeri untuk pertama kalinya. Dengan gratis pula. Bersama orang-orang hebat di sekitar saya. Kantor saya, www.ksa-add.com memberikan reward kepada kami dengan liburan gratis ke Singapore. Meskipun tidak semua gratis, kami hanya membayar makan dan pengeluaran pribadi saja. Akomodasi, tiket wisata dkk sudah ditanggung. Kantorku keren!!!! Meskipun tidak di sana lagi sekarang, saya tetap menganggap mereka sebagai keluarga.
 
Maret
> 22-25 Maret 2012 dengan modal iseng membeli tiket promo Surabaya-Balikpapan seharga 79.000, akhirnya perjalanan ke Kalimantan terjadi. Destinasinya adalah ke Tarakan dan pulau-pulau seperti Pulau Derawan, Kakaban, Maratua, Sangalaki dan Nabuco tercapai. Ketemu banyak teman lagi. Senangnyaaaaa!!

> Dua minggu sebelum itu, beli tiket iseng lagi. Dem!! Isengnya keterusan gini.. Dan keisengan kali ini adalah beli tiket Surabaya-Medan untuk 9 HARI karena hasutan teman dan planning pergi dari rumah dan kerjaan lebih dari seminggu yang belum teralisasi. Iseng, sumpah iseng. Jadi, saya mengajukan cuti kerja seminggu donk untuk April 2012.

>Selamat dari kecelakaan. Diserempet bus marinir dan black out di saat terserempet. Fortunately, I still alive. Alhamdulillah

April
> Setelah menahan diri gak kemana-mana, ternyata gagal. Awal april saya buka dengan pergi ke Dieng bersama teman-teman baru. Murni teman baru. BPI (Backpacker Indonesia) Regional Surabaya. Baru bergabung bersama mereka H-2 sebelum berangkat ke Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Perjalanan ke Dieng ini memberikan keseruan tersendiri bagi saya. Saya ngetrip bareng komunitas untuk pertama kalinya :D

> 27 April hingga 5 Mei. Sumatera Trip terlaksana. Meskipun hanya beberapa bagian Sumatera saja, Surabaya - Medan - Sabang - Aceh - Medan - Bukittinggi - Medan - Surabaya. Perjalanan yang cukup panjang bagi saya. Ada sukanya, ada dukanya. Ada cerita lain di dalamnya. Gak bakal lupa dengan trip ini!!

Mei
> Seminggu setelah pulang dari Aceh dkk, saya langsung ngetrip lagi. Berasa trip marathon. Kali ini hanya trip sehari. Keliling Mojokerto-Jombang. Ke candi-candi di daerah sana. Sayangnya, trip ini tidak saya tuliskan :D Maklum, nulisnya sesuai mood.

> Traveling bareng beberapa travelmate baru --> Trip to Baluran National Park

> Memutuskan untuk mengurangi trip di bulan-bulan berikutnya kecuali gratis dan diperlukan :D

> Hemm..rencana buka usaha gak jalan-jalan :(

Juni
>Menang lomba blog Piyoh :D

> Terpilih jadi kontestan Ijen Festival 2012 swenenggg banget. Trip gratis lagi, teman-teman baru lagi, dapat keluarga baru, pengalaman baru!

> Hey.. tulisan saya termuat lagi di Jawa Pos. Tentang Sabang. Judulnya Sudah Pernah ke 0 KM Indonesia? Iyeeeeaaayyy!!

Juli
> Satu pesan kuat di bulan ini --> Yang baik belum tentu baik dan yang buruk belum tentu buruk.

> Puasaan berdua with lil brother. Gak pake kakak-kakak, adek2 yang lain, dan tanpa ayah-ibuk.

Agustus
> Dapat trip gratis lagiiiiiii!!!! ke Hongkong, Macau dan Guang Zhou. Selama seminggu puasa dan lebaran di negeri orang. Merayakan hari Kemerdekaan di negeri orang. Pertama kali lebaran tanpa keluarga besar, tapi menyadari beberapa hal penting ketika menjalankan trip ini. Seminggu itu saya gak murni ngetrip, tapi ada tujuan lain. Bahkan sempat dapat bayaran karena itu. Alhamdulillah

> Menyampaikan resign ke atasan. Keputusan yang berat! banget!!! :(

September
> On 26th I'm 24 yo. Alhamdulillah

> Mencapai Ranu Kumbolo for the first time. Dan bakal ke sana lagi suatu hari, hingga ke puncak Mahameru. Naik gunung pertama kalinya, bareng teman-teman BPI seIndonesia.

Oktober
> Trip dadakan ke Gili Labak, Sumenep, Madura. Seru! Seru! Seru!!

>Terinspirasi untuk ke Wae Rebo sesegera mungkin.

> Siap-siap resign :(

November
> Resign. Sebuah pilihan hidup yang harus saya ambil. Gak bisa dipungkiri, sedih rasanya. Hampir 2 tahun bersama orang-orang hebat.

> Got a great surprise. Terpilih menjadi salah satu dari 20 agen Idtravellers 2012
Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah

> Tepat 2 hari sebelum bulan ini berakhir, berhasil membuka BasMie, usaha kuliner yang saya jalankan.

Desember
> Saya namakan bulan ini adalah bulan peralihan hidup saya. Keluar dari zona nyaman untuk menggapai hidup yang lebih nyaman.

Gak hanya itu saja yang terjadi di 2012, banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan. Resolusi yang hampir 100% tercapai. Pengalaman yang mengagumkan, pelajaran yang gak ada habisnya dari ayah-ibu, keluarga, para sahabat, teman-teman.
Alhamdulillah. Always say Alhamdulillah!

Semoga besok, hari besoknya lagi, lagi dan lagi.. hingga tahun-tahun berikutnya saya bisa lebih baik. Amiinnn!