Showing posts with label My Surabaya. Show all posts
Showing posts with label My Surabaya. Show all posts

Wednesday, August 24, 2016

Tempe Tenggilis, Tempe Unggulan Lintas Generasi Kampung Tempe Surabaya

"Kamu makannya apa?"
"Tempe!"
"Saya juru masaknya"
"Okee!"
"Ada tempe goreng, ada tahu goreng, semuanya digoreng..oseng..oseng..oseng.."

Siapa generasi 90an yang tidak mengenal lirik di atas? Lagu anak-anak yang Indonesia sekali menurut saya. Sampai sekarang lagu tersebut masih sering dinyanyikan oleh ibu-ibu yang mengajari anaknya makan tempe. Bahkan saya yang sekarang sudah menjadi seorang ibu, kadang tidak sadar menyanyikan lagu itu waktu bernyanyi dengan anak saya. Maklum, saya kan jebolan ibu dari tahun 90an :) 

Tahu dan tempe memang sudah dikenal sebagai makanan khas Indonesia, terutama tempe. Sampai diekspor ke negara-negara lain. Kemasannya beragam, dari yang plastik hingga kaleng untuk melindungi teksturnya utuh ketika dikirim hingga bisa dinikmati seperti bentuk umumnya di Indonesia.
Hmm..ternyata, tempe yang sudah melanglang buana dan hampir tiap hari kami nikmati tersebut ada yang diproduksi di Surabaya. Nama kampungnya adalah Kampung Tempe Tenggilis. Lokasinya berada di Jl. Tenggilis Kauman, Surabaya. Lebih dari 200 pengrajin tempe yang berada di Tenggilis, namun hanya 30 pengrajin yang aktif dalam binaan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Surabaya. Keberadaannya menyebar di beberapa gang di wilayah Tenggilis. Salah satu gang yang cukup memperlihatkan aktivitas pembuatan tempenya adalah Tenggilis Kauman Gang Buntu 27 RT 04 RW III. Ada penanda di depan gerbangnya bahwa kampung tersebut adalah kampung tempe. Sudah cukup banyak pengunjung dari luar kota hingga luar negeri yang ingin melihat langsung proses pembuatan tempe di kampung ini. Adanya kampung ini adalah satu kabar baik untuk Indonesia sebagai bentuk pelestarian kampung yang berpotensi untuk dikembangkan.
Gang Buntu 27 yang menjadi ikon Kampung Tempe
Pertama memasuki kampung tempe ini, kita disambut dengan deretan mural tentang tempe yang berwarna-warni. Mural-mural tersebut menggambarkan tempe yang menjadi makanan favorit orang-orang, tentang kampung tempe yang mendukung kelestarian kampung di Surabaya, tempe yang mendunia dan gambaran lain yang menarik perhatian pengunjung.
Mural Penanda Kampung Tempe
Kampung Tempe turut mendukung program Surabaya Green and Clean

 
Mural yang berada di depan rumah Nur Hasan
Di gang buntu ini, ada lima pengrajin tempe. Dua di antaranya adalah warga asli kampung tersebut dan meneruskan usaha generasi sebelumnya. Saya menemui salah seorang dari mereka, Bapak Nur Hasan namanya. Beliau adalah generasi ketiga dari pembuat tempe yang asli dari kampung Tenggilis. Rumahnya tepat di depan mural yang menggambarkan tempe yang dicintai orang-orang di segala penjuru dunia dan ditandai dengan adanya barisan papan kayu berisi kedelai di terasnya. Menurut beliau, produksi tempe miliknya ini sudah dimulai dari tahun 1970an. Produksi tempe yang dulunya masih menggunakan cara tradisional, sekarang beberapa pengrajin sudah berinovasi dengan menggunakan mesin pengupas kedelai. Awalnya, usaha tempe ini dikerjakan sendiri dan keluarga. Namun seiring meningkatnya jumlah permintaan, butuh lebih banyak tenaga untuk memenuhinya. Sekarang, ia sudah mempunyai belasan karyawan untuk membantunya. Ya, bapak 53 tahun ini masih ikut mengerjakan sendiri meskipun sudah mempunyai karyawan. Para karyawan tersebut berasal dari wilayah sekitar dan kampung lain.

Produksi tempe miliknya sudah menyebar ke wilayah Surabaya dan sekitarnya. Ia memiliki pelanggan tetap yang menjual tempenya. Sayangnya kita tidak bisa membeli produk tempe secara ecer di sini. Semua produksinya sudah pesanan para distributor tempe di pasar-pasar.
 
Nur Hasan mengakui, dengan adanya kerjasama dengan Disperindag, usahanya menjadi lebih berkembang dari sebelumnya. Misalnya saja keripik tempe yang dibuatnya awalnya hanya berada di meja warung-warung dengan kemasan kecil dan diplastik seadanya. Setelah dibina, keripik tempenya mulai mendapatkan perhatian distributor oleh-oleh dengan kemasan yang menarik sehingga pemasukan usahanya meningkat. Produksi tempe mentahnya pun demikian. Sebelumnya pengolahan kedelai menjadi tempe menggunakan air yang kurang sehat, setelah mendapatkan pembinaan dari Dinas perdagangan dan perindustrian serta bantuan dana dari Bank Indonesia, tempe milik bapak Nur Hasan layak dikonsumsi sebagai makanan sehat warga Surabaya dan sekitarnya. 

Jika dilihat dari tempe-tempe yang sedang dibariskan di depan rumahnya, jumlahnya cukup banyak dibandingkan dengan produksi tempe pengrajin lainnya di daerah Tenggilis. Setiap harinya, Bapak Nur Hasan memproduksi kurang lebih tiga kuintal kedelai yang akan dijadikan tempe.
Barisan tempe yang sedang diragi di teras rumah Nur Hasan
Nur Hasan sedang menata tempe-tempe produksinya

Proses pembuatan dari kedelai dicuci hingga menjadi tempe yaitu empat hari empat malam. Hmm, cukup lama juga ya. Mulanya, kedelai dicuci hingga bersih dan terpisah dari biji-bijian selain kedelai, kemudian direbus untuk menghilangkan kotoran dan bakteri. Lalu, kedelai yang telah bersih direndam semalaman. Setelah kulit kedelai cukup lunak, baru kedelai dikupas dan dicuci kembali baru kemudian diberi ragi dan didiamkan selama dua malam. Proses cetaknya sendiri cukup cepat. Ada yang dibungkus daun pisang dan dibungkus plastik hingga akhirnya diambil oleh para penjual tempe.
Sepeda pedagang tempe yang akan mengambil tempe di kampung ini
Dulu, sisa tempe yang tidak terambil oleh distributor tempe terbuang sia-sia. Para pengrajin mulai berpikir untuk memproduksi hasil olahan tempe, salah satunya adalah keripik tempe yang saat ini sudah menyebar di beberapa pusat oleh-oleh di Surabaya. Setelah dibuat keripik tempe dan olahan lainnya, sisa tempe tersebut malah menghasilkan uang. Para pengrajin tempe di wilayah ini masih terus berinovasi untuk melestarikan dan mengembangkan kampungnya agar tetap menjadi kampung unggulan. Aktivitas produksi tempe di Kampung Tempe ini masih akan terus berlanjut lintas generasi yang layak menjadi contoh inovasi daerah bagi kampung lain di Indonesia.

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Wednesday, May 22, 2013

Nguleg Rujak Bareng Bencong

Tjiiinn..beberapa minggu lalu eike habis pesta rujak uleg bareng temen-temen eike tjiiinn..
Huuuuuh..rame banget! jalan aja jadi rempong! Tapi eike puas loh bisa incip-incip banyak rujak gak pake bayar alias geretong..hihii :*
Nih, eike tunjukin foto bareng bencong di stand temen eike. Nama standnya, Asolole.
Setelah diliat-liat, lengan mereka segede uleg-uleg yang mereka pegang ya :D
*ngomong gaya gini bikin lidah capek ya..*

Tanggal 13 Mei lalu di Surabaya memang baru saja dihelat Festival Rujak Uleg, salah satu rangkaian acara yang meramaikan ulang tahun Surabaya di bulan ini yang ke-720. Tahun ini, sudah tujuh kali diadakan. Terhitung sejak 2007 dimulainya. Isinya ya apalagi kalau bukan menguleg rujak.
Oh, Man! pesertanya buanyaaak. Kabarnya 1200an lebih jumlahnya yang terdiri dari banyak tim. Satu tim berisi 5 orang peserta dari instansi atau kampung di Surabaya. Ibu Walikota dan timnya juga ikut terlibat jadi peserta sebagai peserta kehormatan bersama para dubes dan undangan lain.
Para Finalis goyang di depan panggung dengan berbagai kostum yang atraktif
Festival yang diadakan di sepanjang Jl. Kembang Jepun, atau dikenal dengan Kya-Kya ini menarik ribuan pengunjung. Selain embel-embel gratisan, yang membuat lebih menarik adalah para pesertanya yang diwajibkan mengenakan kostum se-atraktif mungkin. Mereka menguleg rujak bersama-sama. Ada momen di saat mereka menguleg sambil berjoget diiringi musik yang diputar oleh panitia. Ada satu porsi yang wajib diserahkan ke dewan juri untuk dinilai, sisanya dibagikan ke pengunjung. Heboh!
Topi dan isi rujaknya sama
Rujak Java Paragon, enak.
Nguleg sambil goyang
Totalitas make up loh..
Srikandi penguleg rujak
 Saya dan teman-teman sempat mencoba beberapa rujak milik beberapa stand peserta. Emm..rasanya ada yang biasa saja, ada yang petisnya benar-benar terasa, ada yang terlalu besar mengiris cingurnya. Macam-macam deh..
Buat ajang kumpul bareng, seseruan bareng teman dan keluarga sangat cocok nih! Apalagi pas lapar :D
Para pengunjung rela antri demi rujak
Bahkan anak-anak pun ikutan nyoba