Monday, February 4, 2013

Blind Trip to Malaysia


I'm flying from Indonesia to Malaysia. Just like an angel.. Muahahahahahah :*
This is my first trip without knowing anything what will I do during the trip. Gak tau mau kemana aja, gak tau mau ngapain aja. Benar-benar blind. Kecuali satu, mau pergi sama siapa. Inilah mengapa saya kurang begitu tertarik dengan tiket promo yang jadwal perginya lebih dari 6 bulan ke depan. Excitementnya ilang. Itu buat saya sih. Dan hal lain yang membuat excitement itu berkurang adalah.. belinya bukan atas dasar keinginan sendiri. Tapi ikut-ikutan teman karena iming-iming destinasi yang belum banyak dipublish, Kuala Terengganu.
a ticket to Penang
Tapi, se-gak excitementnya saya sebelum berangkat (hingga satu jam sebelum ke airport), tetep penasaran dengan suatu perjalanan yang belum saya rasakan sebelumnya. Masih penasaran, “bakal dapet apa sih di trip kali ini?”, “Seseru apa trip ini nanti kalo saya sengaja get lost?” Itu pikiran-pikiran yang muncul meyakinkan saya untuk akhirnya menuntaskan rencana ke Malaysia ini.
Flight saya pukul 20.30 dari Surabaya. Jadi, 18.30 seharusnya sudah ada di airport. Dan jam itu saya masih nyempet-nyempetin bikin adonan batagor untuk BasMie. Santai brooo.. ketinggalan pesawat juga gak masalah, berarti saya tidak ditakdirkan untuk pergi. As simple as that. Gak ada perasaan kecewa, panik, atau apa lah..

Jarak rumah dan airport cukup dekat, naek motor aja cuma 15 menit. Sebelum pergi, ayah-ibuk mastiin saya bawa duit cukup. “Bawa uang berapa, dek?” “a million, Yah.. 305RM” “Hah? Cukup??!!” “Cukup. Harus cukup. Memang berencana nggembel kok Yah, jangan ditambahi, please..”
*salim dan cipika-cipiki sama emak*

Tepat 20.30, terbanglah saya dan teman-teman bersama Air Asia ke negara asalnya, Malaysia. Travelmates kali ini adalah Peter, Nuqee, NK, Bryan, Sasa, Amel, Eni, Lulu dan Lili. Kami bersepuluh bagai butiran debu yang tak tahu tujuan kami nanti. Hanya satu orang yang kami andalkan, Peter. Peter yang pertama menggembar-gemborkan rencana ke Kuala lumpur, Kuala Terengganu dan Peter juga yang mengatur semuanya. We relied on him. Kami tidak seantusias awal merencanakan trip ini dulu, apalagi setelah tahu kalau Kuala Terengganu tidak bisa diandalkan untuk dijadikan Plan A karena ombaknya yang cukup besar di bulan ini.
2,5 jam perjalanan Surabaya-Kuala Lumpur saya maksimalkan untuk tidur. Sampai di LCCT, bandara tempat air asia lepas-landas, sudah pukul 00.00 waktu setempat. Kami langsung menuju Food Garden, food court tempat makan dan tempat tidur para pelancong yang menunggu flight atau bus di sana. Budget kami yang terbatas membuat kami selalu berpikir ulang di saat akan membeli sesuatu. Our first meal in Malaysia is Nasi Lemak. Rata-rata masakan sejenis di food garden ini 4 hingga 8 RM. Di sini kami baru merapatkan akan kemana kita nanti. Kami mau ke Penang. Dari KL ke Penang akan kami tempuh dengan bus. Dan bus ke sana tidak ada yang langsung dari LCCT, harus ke Puduraya dulu. Sedangkan bus dari LCCT ke Puduraya baru ada pukul 05.30 am. Jadi, selama lima setengah jam kami habiskan waktu di food garden. Makan, ngobrol, tidur, hingga mati gaya.
Ngemper di LCCT tengah malam. Nunggu bus yang baru datang pukul 05:30
Hari pertama kami, 18 Januari, kami mulai dari 05.30. Kami berangkat menuju Puduraya. Tarifnya 8RM. Perjalanannya kurang lebih 1,5 jam. Sampai di Puduraya, kami melanjutkan perjalanan selama 5 jam ke Penang dengan bus seharga 35RM. Pintar-pintarlah menawar dengan calo bus di sana. Harga standarnya adalah 35RM, mereka seringkali menawarkan minimal 40RM. Busnya seperti bus patas eksekutif lintas sumatera yang harganya 240.000an. Bedanya, bus ke Penang ini tidak ada toilet di dalamnya. Tapi di tengah perjalanan, bus selalu berhenti di pom bensin Petronas. Perjalanan KL-Penang tidak begitu membosankan karena pemandangannya banyak yang masih alami. Tebing-tebing dan sawah yang masih hijau. Siang harinya, kami sampai di terminal Sungai Nibong, Penang. Untuk lanjut ke George Town, Penang, kami menyeberang masuk ke terminal dan naik bus 401 seharga 2RM ke Lebuh Chulia. Lebuh Chulia, atau Chulia street ini adalah kawasan backpacker di Penang. Kata orang-orang sekitar, “Chulia street is a putih people stay in Penang.”
Street art berbahan metal di beberapa dinding di Penang
Chulia street ini letaknya di daerah china town dan little India. Tidak heran orang-orangnya berisi dua rumpun tersebut. Muter-muter di sini cari hotel ternyata mudah sekali. Sebentar saja kami langsung menemukan hotel di pojokan jalan. Broadway Budget Hotel. Kami ambil paket familiy room yang isinya bisa 5 orang. Per orang dikenakan tarif 20RM. Setelah lihat kondisi kamar, tanpa pikir panjang langsung kami iyakan. Hanya saja mereka sempat mempertimbangkan cowok-cewek yang sekamar. Kami bilang beberapa dari kami adalah saudara. Hihiii :D
Our 1st Hotel. Really not bad at all..
Jajaran hotel di daerah Chulia Street
Banyak sekali hotel budget seperti itu di daerah ini. Rata-rata harganya 20RM. Selisih sedikit 1-2RM sih.. Di Penang, terminal besarnya namanya Komtar. Setiap haltenya juga ada tulisan jurusan bus dan nomernya. Pegang peta, dan jangan lupa tanya orang sekitar jika bingung. Penduduk sekitar adalah petunjuk paling oke. Vastuu. Cukup aman backpackeran di sini. Soal bahasa juga tidak menjadi kendala. Kalau bingung berbahasa melayu, bahasa Inggris saja lebih mudah.
Batu Feringgi Beach.. Hemm.. belum nemu spesialnya. Masih sama dengan pantai-pantai pada umumnya.
Sore hari di Penang kami habiskan sisa waktu kami di Batu Feringgi Beach dengan bus 101 seharga 2,7RM langsung turun halte Batu Feringgi. Kurang lebih 20-30 menit. Sebelum berangkat kami sempatkan makan dulu di sekitar hotel. Makanan di sini hampir semuanya bermenu khas Melayu dan India. Macam-macam roti canai, nasi kandar, nasi lemak dan lainnya. Jarang sekali nasi putih yang benar-benar nasi putih seperti yang biasa kita makan di Indonesia di Malaysia. Nasi putih di sini kebanyakan nasi dengan bumbu seperti nasi uduk. Siang itu saya memilih menu unik. Nasi sotong, nasi putih dengan lauk potongan cumi berbumbu kuning. Sotong artinya cumi-cumi. Dan dari hasil pengamatan saya di beberapa tempat makan di sana, lauk sotong harganya cukup mahal. Minimal 2RM. Waktu itu saya membeli nasi sotong dengan tambahan sayur, total harganya 5,4RM. Minumnya Es Teh Tarik 1,5RM. Jadi, siang itu saya menghabiskan 6,9RM untuk makan siang. Damn! Harus ngitung duit lagi deh nanti pas makan.
Sekilas mirip Sumur Tiga di Pulau Weh
Batu Feringgi Beach. Pantai di Penang yang menyerupai Pantai di Seminyak, Bali. Ada resortnya, ada tukang kelabang rambut, ada tempat-tempat bersantai dan gazebo yang disewakan. Bedanya, di sini ada water sportnya. Banana Boat dan Parasailing. Tarif Banana Boat per orang 10RM dan Parasailing 175RM. Bersantai di pantai memang tentrem ya.. Leyeh-leyeh gak jelas sambil ngobrol bareng teman-teman, main air, foto-foto narsis. Ya.. gitu aja.. typical. Sorry, but I prefer Indonesia beaches..
Warna-warni di Batu Feringgi
Ada Parasailingnya juga
Pasukan Butiran Debu..haha let the trip flow like a dust
Me, Sasa, Bryan, NK, Lili, Peter, Lulu, Nuqee, Eni, Amel
Dari Batu Feringgi kami beranjak kembali ke Hotel. Waktu itu sudah pukul 19:00 waktu sana, masih terang benderang. Kami menuju Komtar dulu 2,7RM. Dari Komtar kami jalan kaki ke Chulia Street. Ternyata lumayan jauuuuuuhhh... Pas malam hari di Chulia street banyak PKL yang berjualan di sepanjang jalan. Banyak pilihan makanan, tapi banyak yang gak jelas halal atau tidaknya. Better you ask and consider it first before you buy. Saya sempat tergoda jus segar aneka buah, harganya 2RM. Makanan yang dipilih teman-teman malam itu nasi goreng, bihun goreng dkk. Penjualnya orang India-Arab. Harganya cukup murah, 3RM per porsi. Hey, beli mineral waternya kalau ingin hemat jangan di 711.. di sana air mineral besar minimal 2,5RM. Kalau di toko lain rata-rata hargany 2RM.
Komtar Terminal. The biggest Terminal in Penang.
Hari kedua di Penang, kami putuskan untuk keliling Goerge Town. Goerge town merupakan kota tua yang dinobatkan oleh UNESCO menjadi heritage town. Keliling Goerge town memang menyenangkan, kotanya tenang, gak ruwet and so many loveable building.
Suasana sore hari di Penang
Han Jiang Ancestral Temple
Kuil Mahariamman. The oldest temple in Penang
Old Church
Foto keluarga di Esplenade Goerge Town
Sambil nungguin bus, nyoba levitasi dulu.. hehe
Beberapa tempat yang kami kunjungi yaitu Love Lane, Han Jiang Ancestral Temple, Little India, Kuil Sri Shakti Vinayagar, Old Church, Esplenade, dan beberapa bangunan tua lainnya. Setelah itu kami lanjutkan ke Kek Lok Si Temple, an old temple up on a hill. Untuk ke kuil ini, kita naik bus menuju komtar seharga 1,4RM. Oya, karena komtar adalah terminal besar, hampir semua bus di Penang salah satu jurusannya adalah komtar. Dari Komtar naik bus 201 atau 203 di line 2 menuju Kek Lok Si dengan harga 2RM. Kek Lok Si Temple adalah temple tertua di Penang. Kuil dan Pagodanya indah dengan background langit biru.
Jalan ke Kek Lok Si Temple
a beautiful Kek Lok Si Temple
Jjaanggg!!!
Setelah dari Kek Lok Si temple, kami langsung kembali ke Kuala Lumpur. Bus dari sini ke Komtar ternyata hanya dua bus yang mengangkut penumpang, 502 atau 201. Perjalanan Kek Lok Si temple ke komtar memakan waktu kurang lebih 30 menit. Ke Kuala Lumpur dengan bus ekspress yang tiketnya sudah kami beli sebelumnya di sana. Tiketnya seharga 35RM. Lebih dari lima jam kami sampai di KL karena bus sempat berhenti lama untuk menunggu penumpang di terminal sungai Nibong.
Tempat kita beli tiket bus Penang-KL di Komtar. 35RM
Kami sampai di Terminal Puduraya KL sudah cukup malam, 22.30 dan langsung menuju bukit bintang dengan LRT. Transportasi di sini rata-rata tarifnya 1 hingga 2RM saja kok. Kalau tidak ingin ribet beli tiket setiap kali naik, mending beli kartu transportasi sejenis kartu octopus dan MRT. Tinggal deposit saja dan kita sudah bisa menggunakan kartu tersebut kemanapun.
Contoh tiket transportasi di KL
Dari Puduraya kami berhenti di stasiun Hang Tuah ST4 dan melanjutkan dengan monorail ke Bukit Bintang Platform 1. Bukit bintang adalah area para backpacker dan pelancong lain yang berniat stay. Kami butuh tempat untuk singgah malam itu, untuk meluruskan kaki dan mengistirahatkan badan sebentar. Setelah cukup berputar-putar mencari tempat inap yang murah, kami akhirnya memutuskan menginap di Green Hut Hotel. Lokasinya di Teng Kat Thok Shin Street. Tawar-menawar dengan memelas, akhirnya mendapat harga 80RM per kamar dan boleh diisi 4 orang. Satu kamar yang berisi double bed ukuran 160x200 ini memakai sistem shared bathroom. Lucunya, masuk hotel alas kaki harus di lepas seperti masuk ke dalam rumah. Selain perkamar, hotel ini juga menyediakan dorm. Per kepala dihargai 30RM. Saya suka dengan interiornya yang cukup membuat nyaman seperti di rumah. Lobbynya didesain seperti ruang tamu dan area inapnya seperti suasana kos, kamar-kamar berjajar dengan lantai parket laminate serta kamar mandi yang berbagi.
Lobby Green Hut Hotel
Alas kaki kudu di lepas. Kayak rumah :D
Di kawasan backpacker pasti banyak tempat makan murah. Demikian juga Bukit Bintang. Di daerah ini banyak tempat makan murah, tapi yang lebih murah lagi dan cukup memanjakan lidah kami, Indonesian people, adalah pedagang makanan di pinggir jalan di waktu pagi. Mereka biasanya buka hanya pagi hari di saat orang-orang berangkat kerja. Harganya mulai 2,5RM ke atas. Menunya juga beragam, tidak melulu nasi lemak dan sejenisnya.
Beli sarapan di PKL. Enak dan murmer.
Gak afdol rasanya ke KL tapi gak ke Petronas atau twin tower. Karena waktu itu siang, kami tidak berhasil mengambil foto yang oke. Silau. Kami sepakat untuk kembali lagi di malam hari. Cukup jalan kaki saja kok untuk ke sini dari bukit bintang. Jaraknya hanya 1,5-2km-an lewat KLCC.
Pas istirahat di depan twin tower, kami memutuskan langsung ke Batu Caves. Dari KLCC station dengan LRT menuju KL Sentral 1,6RM. Langsung oper Komuter tujuan Sentul Batu Caves. Rupanya kami telat beberapa menit mengunjungi Batu Caves. Di sana baru saja selesai acara upacara Hari Ponggal. Isinya 99% orang India. Fiuuuuuuhhh... terlihat jorok. Sampah dimana-mana, bau, panas. Males banget liatnya, karena memang kebetulan momennya setelah ada acara sih ya..
Batu caves ini isinya beberapa kuil, patung Budha raksasa yang ada di atas bukit. Tangganya berjumlah 272 anak tangga. Gak begitu amazed deh pas di sini, but we had fun dengan melakukan variasi gaya lompatan. Hihiii.. Saya berhasil meracuni teman-teman untuk melompat di setiap lokasi :D
Do I look like a real architect? :D
Holding Batu Caves
Ternyata harga tiket komuter berangkat dan kembali dari/ke Batu Caves tidak sama. Dari Batu Caves ke KL  Sentral 1,6RM, sedangkan dari KL Sentral ke Batu Caves hanya 1RM. Di KL sentral sore itu kami berpisah. 4 diantara kami harus ke airport untuk kembali pulang ke Surabaya.
Tinggal kami berenam yang tersisa, dan satu dari kami juga berpencar karena mencari gereja untuk ibadah minggu. Karena tidak ada penjual makanan pinggiran yang murah di daerah KL Sentral, kami menuju masjid Jameek. Di sana banyak PKL yang berjualan. Sayangnya, gak semuanya murah meskipun capnya PKL. Eh tapi, ada satu jajanan yang menggoda saya. Sepanjang perjalanan di daerah Masjid Jameek, saya banyak melihat orang-orang yang membawa plastik berisi potongan-potongan buah dan bumbu seperti rujak. Ada juga yang membawa sekantong plastik berisi gorengan-gorengan seperti tempura, dkk. Akhirnya saya dan teman-teman membelinya. Buah-buahan dengan bumbu rujak dan aneka macam gorengan. Harganya cuma 1,5RM. Masya allah.. nikmatnya. Saya jadi pengen makan itu lagi sekarang.. Apalagi makannya di saat hujan. Woooooohhh... wenaak.. sumpah..
Jajanan PKL yang benar-benar menggoda. Cuma 1RM kok rata-rata.
Rujak manisnya juga enaaakkkk.. *ketagihan*
Kami memutuskan mencari penginapan di daerah sana saja biar lebih mudah dan menghemat waktu. Akhirnya kami berjalan mengelilingi daerah masjid jameek dan tidak terasa kami berjalan hingga di China Town. Hampir setiap hotel yang terlihat kami datangi. Belum ada yang cocok dengan kantong hingga akhirnya kami menemukan beberapa hotel yang bisa kami jadikan alternatif untuk inap. Citi Hotel dengan harga 20RM per orang yang fasilitasnya cukup oke, China Hotel dengan harga 128RM untuk famili room yang bisa ditempati 5 orang dan akhirnya pilihan kami jatuh ke Sasana Hotel di dalam china town. Tepat di sebelah gerbang China town. Kami melihat tenda kanopi berwarna merah bertuliskan mymaliahotel.com sebelumnya, lalu kami tertarik masuk. Eh, disebelahnya pas ada mbak-mbak seksi berjajar menawarkan massage yang saya duga adalah massage plus-plus. Tampang penjaganya seperti tampang orang heran waktu kami masuk sana. Saya lihat ada ukiran bismillah atau tulisan arab lain apa lah itu namanya.. Saya pikir, “oh..hotel ini masih muslim, aman” Penjaganya orang India, begitu pula pegawainya yang lain. Per kamarnya 60RM. Kami dibiarkan melihat-lihat kamar sendiri. Satu kamar berisi satu double bed dan kamar mandi yang cukup lebar. Hemm..Not bad.
Sasana Hotel KL yang sebelahan sama markas mbak-mbak massage++
Kami tawar satu kamar itu untuk 4 orang. Kalau bisa untuk 6 orang. Anehnya, mereka tidak menyediakan family room. Ada kejanggalan yang saya rasakan di sini.. :D
Dengan tampang melas, semelas-melasnya, dan tampilan kumus-kumus seharian di jalan, kami merayu penjaganya untuk membiarkan satu kamar 4 orang. Bapaknya bilang dengan nada heran, “kalian nyaman dengan empat orang dalam satu bilik?” Hahaaa.. maklum, prinsip ekonomi adalah prinsip kuat sebagai Backpacker. Yang penting bisa tidur malam itu.  Finally, si Bapak, yang ternyata pemilik hotel, mengijinkan kami. 60RM untuk 4 orang. It means 15RM per person, guys.. Murah! Ahahahahah
Suasana China Town KL
We didn't have an exact plan that day. So, after we know that we stay in a china town where so many merchandises and gifts to be sold, we walked around that area. Kami juga menjumpai berbagai makanana di sana. Tapi, cuma beberapa kedai saja yang kami yakini halal. Semuanya murah di sini tjiiiinnn.. beli oleh-oleh di sini aja.
Petronas Tower in the night
Karena merasa belum puas dengan hasil foto siang tadi di depan Petronas, kami menuju Petronas lagi dengan LRT. Padahal sudah pukul 22:30. Waktu kami tidak banyak. Karena daerah hotel kami terlihat cukup rawan. Mayoritas orang India dan kondisi daerahnya seperti daerah pasar besar yang ada di pinggiran kota. Sumpah ya.. serem deh cewek-cewek jalan di daerah sini pukul 11 malam.
Waktu pagi mau sarapan, ternyata mbak-mbak yang di sebelah itu keluar masuk hotel. Whoaaaa... ternyata hotel ini dijadikan hotel “gituan” juga. Well, it doesn't matter. Selama kita gak macem-macem, gak masalah kan.

Kami beruntung menemukan tempat sarapan enak dan murmer di sana, sekitar 20m dari hotel. Tepat di pinggir jalan raya ada kedai yang ternyata pemiliknya orang Jawa Barat. 2,5RM sudah bisa makan enak loh.. :D
Nasi uduk murmer
Lokasinya 20m dari gerbang china town
The owner is Javanese
Sambil makan, kami pikirkan mau kemana saja hari itu. Kami putuskan untuk keliling Museum-museum dan ke Botanical Garden. Ah iya, sebelumnya kami mampir Maydin di dekat china town dulu untuk membeli beberapa coklat. Maydin adalah toserba paling murah yang kami temui. Di sana, air mineral 2lt yang pada umumnya 2-2,5RM, di sana hanya dijual 0,9RM. Gilak! Pantes, rame banget swalayan ini.

Kami bertanya pada orang-orang jalan menuju Masjid Negara, Museum Islamic Art, dan museum lainnya. Tidak banyak yang tahu ternyata. Kami mengandalkan peta dan GPS. Jalan..jalan.. dan jalan. That what we did in KL.. Kami sempat ke Pasar Seni dan Central Market yang isinya didominasi kerajinan-kerajinan. Agak sensi lihat ada batik dan wayang di dalam sana. Positive thinking saja ya, may be they sell many kind handicrafts from many countries.
Silakan keliling ke lokasi-lokasi ini.. Menyenangkan..
Malaysia National Mosque
Museum Tun Abdul Razak
Pasar Seni KL
Central Market yang sebelahan pas dengan pasar Seni
Wayang-wayang di dalam Central Market!
Setelah cukup lelah, kami menghabiskan waktu di KL Sentral dan LCCT sebelum pulang. Di KL Sentral ini ternyata ada banyak loker yang bisa kita pakai untuk simpan tas atau barang. Tarifnya tergantung ukuran loker dan jam. Minimal 5RM. Di sana juga bisa mandi, dan segala macam. Terminal memang bisa kita jadikan alternatif inap jika kepepet. Kurangnya cuma satu, tempat tidurnya kursi ruang tunggu. Beberapa dari kami juga ada kok yang memutuskan menginap seperti itu.

Overall, hidup 4 hari di sana saya menghabiskan kurang lebih Rp. 750.000 dan tiket Surabaya-KL Rp. 300.000 pulang pergi. Jadi total satu jutaan. Nggembel like a hell!
Karena melihat duit masih cukup banyak, saya hedon! Saya rindu hidup hedon! Makan es cone Mcd, makan KFC. Tapi terus menci-menci –“ karena saus-sambal KFC yang aneh dan berbeda dengan rasa di Indonesia. Aku rindu Indonesia!

Namanya juga perjalanan ya, ada keseruan di dalamnya, ada sisi gak enaknya juga. Perlu lah memang kita ke luar negeri, biar kita tahu bagaimana negeri selain negeri kita. Kita bandingkan baik-buruknya. Traveling keluar negeri selalu membuat saya rindu negeri saya sendiri, membuat saya makin mencintai negeri sendiri.. Love you Indonesia!

But its not about the destination, anyway.. its all about the journey.

Sincerely,
Mehdia

8 comments:

  1. Apakah NK yg dimaksud adalah si budak kecik Noer Karmawan itu? Ohh....jangan-jangan....
    Well, ekceli he is my host in Surabaya when I went ngegembel to Java island.

    ReplyDelete
  2. Hey..iya..exactly thats NK :D
    Oyaa? Next time kalo ngegembel ke Surabaya lagi kita bisa meet up!

    ReplyDelete
  3. Suka baca tulisan ini... thank for sharing ...., so kapan nih backpack ke eropa ??? Ikutan dooonggg.... xixi

    ReplyDelete
  4. Suka dengan jabaran cerita di atas. Hmm.. nambah wawasan nih,, :D. Thank's for sharing ...

    ReplyDelete
  5. Thank you.. Doakan saja segera ya :D

    ReplyDelete
  6. asik deh tambah referensi sebelum berangkat

    ReplyDelete
  7. GPS untuk jalan kaki akurat gak? hehehe...

    ReplyDelete