Friday, June 15, 2012

Sky

Entah sejak kapan saya mulai suka memfoto langit. Hampir di setiap perjalanan saya. Lagi di jalan naik bus, jalan kaki, lagi berhenti di mana, lagi nyetir mobil, bahkan lagi naik motor sekalipun.
Ketika berhenti di lampu merah, ketika terjebak macet, ketika baru pulang dari kantor dan melihat keluar jendela kamar, ketika duduk di kendaraan tanpa ada yang diajak bicara, anytime i want to..
Just let your mind playing around when you see the sky..

So, these are some sky photos from my mobile phone..

My favorite one. Senja di saat pulang kerja. 12 Juni 2012.
Waktu ambil foto itu saya sengaja berhenti dan minggir ke jalan biar bisa moto. Ini diambil di jalan semolowaru tengah.. jalan saya pulang kantor. The best moment before sunset.

Senja dari Grand city mall
Saya ambil foto itu waktu pulang kerja dan mampir ke Grand City buat makan bareng farewellnya Adhisty.
Almost everyday I see this scenery. Dari jendela kamar.

Sampai rumah dari kantor sebelum maghrib itu anugerah. Selain bisa cepet leyeh-leyeh di kasur, ada momen senja yang bisa saya liat dari jendela kamar. Gak begitu jelas, tapi pendar cahaya merahnya selalu bikin senyum..
Sunrise di Bromo 31 Desember 2011
Menyaksikan sunrise bareng ayah-ibu dan adek-adek cewek di Bromo. It was so beautiful!
Langitnya nyatu sama pantainya
Foto itu waktu rehat sebentar dari survei di Bali. January 5th 2012. Trip pertama di awal tahun. Pas di Discovery Mall nemu pantai di pelataran belakangnya. Panas-panas sambil maem Froyo di sana :D
Singapore February 6th
Waktu jalan kaki ke Paya Lebar MRT station. It was 09:18 am. Nice sky right? :)
Vivo city, Singapore. at noon.
Mau ke Sentosa Island, masuknya lewat vivo city. Maen air bentar di taman airnya sambil liat langit :)

dari Pantai Klayar, Pacitan
perjalanan ke Dieng
jam 3an sore di dekat kantor, habis dari supplier. 13 April '12
Suka sama pendar cahayanya. di sore hari Jl. Dharmahusada Indah
View dari PLTD Apung, Aceh. 30 April 2012
View dari dalam pesawat dari Medan ke Surabaya. 05 Mei 2012
gumpalan awannya..keren. di pesawat Medan-Surabaya

di perempatan lampu merah Prapen-Nginden. 16 Mei 2012, pagi hari berangkat ke kantor
di perempatan lampu merah Galaxy Mall-ITS. 16 Mei 2012, pagi hari berangkat ke kantor
perjalanan ke TN Baluran. 17 Mei 2012

di TN Baluran
perjalanan ke Ketapang
Singaraja, 18 Mei 2012

sunset di Lovina Bali, 18 Mei 2012
gak ada awannya. Sunset dari pakuwon city..habis survei barang
Dari jendela kamar. 26 Mei 2012
 Masih sering meleng kalo nyetir liat langit.. :D

Thursday, June 14, 2012

SUDAH PERNAH KE 0 KM INDONESIA??*

*Tulisan ini dimuat di Jawa Pos for Her Kamis, 14 Juni 2012


JP for Her for the 2nd time :)

Tulisan judul itu pertama kali saya baca di desain kaos salah satu gerai di Sabang, Aceh. Saya tersenyum bangga membacanya, dan saya jawab dengan bangga pula, “Sudah Pernah!”

Ya, saya baru saja mengunjungi bagian paling barat Indonesia, Sabang. Pulau Weh adalah nama lain dari wilayah ini. Akhir April kemarin, saya melakukan perjalanan ke Sabang bersama tiga kawan saya dari perjalanan-perjalanan sebelumnya. Fauzan a.k.a Ichant, teman trip dari Surabaya, Mas Widhi, teman trip dari Jakarta yang sebelumnya seperjalanan di trip Derawan, dan Mas Bayu, teman Mas Widhi dari Aceh.

Perjalanan ini berawal dari keisengan kami membeli tiket promo salah satu maskapai penerbangan ke Medan. Tanpa pikir panjang, saya langsung membeli tiket pulang pergi selama sembilan hari. Gila memang, saya belum ijin sama sekali ke atasan untuk trip ini. Bahkan untuk trip sebelumnya (trip Kalimantan Timur) saja saya belum minta ijin cuti.  Tapi jauh sebelumnya, saya sudah lama berniat untuk menyempatkan diri minimal seminggu untuk mengeksplore suatu tempat baru. Menjelajahi tempat tersebut dan membaur bersama orang-orang baru dengan budaya yang berbeda dengan saya. Tujuan utama kami waktu itu Sabang, Banda Aceh, Medan serta Bukittinggi.

Setelah ijin saya dapatkan, rencana kami matangkan dengan menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang daerah yang kami kunjungi. Apa saja yang ada di sana, bagaimana cara ke sana, bagaimana kondisi alamnya, apa pun yang berhubungan dengan tujuan kami. Kami bepergian dengan cara backpacking. Kami mencari host yang bisa menemani atau bahkan menampung kami di sana atau setidaknya kami mendapatkan teman yang bisa memberi kami informasi lebih soal tujuan kami. Beruntung kami mendapatkan host untuk hampir semua tujuan kami (Medan, Aceh dan Bukittinggi) kecuali Sabang.
Di Pelabuhan Balohan. photo: Ichant
Singkat cerita, setelah hampir dua bulan kami menggali informasi, berangkatlah kami dengan persiapan yang cukup matang. Jumat, 27 April kami berangkat dari Surabaya menuju Medan dengan pesawat. Hanya sebentar waktu kami untuk berkeliling kota Medan karena malam harinya kami sudah harus berangkat ke Aceh. Untuk sampai ke Sabang, harus via Banda Aceh telebih dahulu baik via darat maupun udara. Perjalanan via darat dari Medan ke Aceh memakan waktu 12 jam. Ada beberapa perusahaan oto bus yang menyediakan transportasi ke sana. Bus Pelangi salah satunya, tarifnya Rp 120.000,- Medan-Aceh. Beberapa bus lain yang saya tahu Kurnia, PM Toh dan AKAS. Harganya cukup bersaing satu sama lain. Kami naik bus dari Pangakalan Brandan, tempat menginap kami selama di Medan, dua jam dari kota Medan, pukul 22.30 WIB dan sampai di terminal Banda Aceh pukul 08.00 pagi keesokan harinya. Kami mengejar kapal ke Sabang pagi agar waktu kami untuk mengeksplore di sana lebih banyak. Untuk ke Pelabuhan Ulee Lheu dari terminal bisa kita jangkau dengan Labi-labi, becak motor khas Aceh, selama 15 menit dengan harga Rp 30.000,-. Kalau bisa menawar Rp 20.000,- itu sudah sangat murah. Jadwal kapal dari Pelabuhan Ulee Lheu (Banda Aceh) ke Pelabuhan Balohan (Sabang) ada dua kali penyeberangan, pagi dan sore. Ada dua jenis kapal yang bisa kita tumpangi ke sana. Kapal cepat (45 menit) dari harga Rp 60.000 hingga Rp 85.000 setiap jam 9.15 dan 16.00 dari Ulee Lheu. Kapal lambat (1,5 jam) dari harga Rp 20.000 hingga Rp 40.000 dengan selisih waktu kira-kira 2 jam lebih awal dari Kapal cepat. Karena waktu itu kami tidak bisa mengejar kapal lambat, akhirnya kami naik kapal cepat. Lebih mahal memang, tapi lebih nyaman dan efisien. Kami bertemu dengan Mas Widhi dan Mas Bayu yang sudah menunggu di Pelabuhan. Mas Widhi memang sudah sehari sebelumnya datang lebih awal di Aceh, kebetulan ada urusan pekerjaan. Jadilah kami berempat berangkat ke Sabang pagi itu. 

Perjalanan selama 45 menit terasa begitu cepat. Kapal kami berangkat pukul 09:15 dan sampai di Pelabuhan Balohan pukul 10:30. Pertama turun dari kapal kami disambut papan besar bertuliskan “Selamat Datang di Kawasan Pelabuhan Bebas Sabang”. Pelabuhan Balohan Sabang memang membebaskan pajak barang yang masuk ke pulau ini. Pulau berjumlah kurang lebih 300 ribu penduduk ini sering mengekspor barang dari negeri seberang Malaysia dan Singapura. Yang paling mencolok adalah mobil mewah yang lazim kita jumpai di pulau ini. Mobil dari Singapura dibeli dengan harga murah oleh penduduk Sabang.

Transportasi yang bisa kita gunakan untuk keluar dari pelabuhan tidak banyak. Hanya motor (penduduk Sabang menyebutnya Honda) yang bisa kita sewa Rp 80.000,- selama 12 jam atau pagi hingga sore. Kalau ingin menyewa selama 24 jam tarifnya Rp 120.000,- belum termasuk bensin. Tanya saja ke orang-orang di Pelabuhan atau hubungi nomer telepon jasa ini yang ditempel depan loket pemesanan tiket kapal. Selain motor kita bisa menggunakan mobil Colt Rp 15.000,- dari pelabuhan ke Kota Sabang saja. Jika berniat keliling Pulau Weh dengan Colt atau mobil lain yang ditawarkan pemiliknya di pelabuhan tarifnya Rp 300.000,- atau Rp 400.000, lakukan tawar-menwar dengan pintar. Waktu itu saya dapat Rp 300.000 untuk sewa mobil selama seharian penuh hingga keesokan harinya. Jangan malu bertanya soal penginapan dan lain-lain ke sopir atau orang sekitar. Jika beruntung, kita bisa dapat penginapan yang murah di depan pantai. Tarif penginapan di daerah Pantai Iboih sekitar Rp 300.000an. Lebih jauh dari pantai lebih murah tarifnya. Hotel-hotel di daerah kota Sabang tarifnya mulai Rp 40.000,-an. Di Pantai Iboih ada yang menyediakan penginapan di bawah Rp 300.000,- hanya saja lokasinya memang agak jauh dari dermaga Iboih, jalan kira-kira 10 menit dari Dermaga Iboih. Kami sangat beruntung waktu itu dapat penginapan dengan harga Rp 150.000,- per kamar dengan fasilitas AC, TV, DVD player, pantry, double bed, kamar mandi dalam dan berada tepat di depan pantai.

Hari pertama di Sabang kami habiskan dengan mengunjungi Tugu Nol Kilometer Indonesia, Pantai Gapang dan bersnorkeling di Pantai Iboih juga Pulau Rubiah. Sebelum berkeliling kami sempatkan makan siang dulu di kota Sabang. Menu kami siang itu Mie Jalak, salah satu kuliner khas Sabang. Rp 10.000,- untuk satu porsinya. Kami juga mencoba Bakpia Sabang. Banyak makanan khas Sabang yang bisa kita coba, Sate gurita, Mie Ping Sung, Dodol Sabang, Salak Sabang.
Monumen Nol KM Indonesia

Setelah makan siang kami menuju Tugu Nol Kilometer Indonesia. Lokasinya di ujung pulau dan melewati jalanan yang banyak monyet liar. Di area tugu sendiri juga banyak monyet liar dan babi hutan. Jangan sampai terlihat para monyet dan babi hutan kita membawa makanan waktu ke sana kalau tidak mau diganggu. Kondisi tugu ini sebenarnya masih bagus, namun tidak terawat. Simbol not kilometernya juga sudah hilang. Di seberang tugu ini kita bisa melihat bagian Pulau Weh yang lain. Lautan lepas bagian dari Samudera Hindia dengan tebing-tebing yang indah serta semilir angin yang sejuk. Kita bisa mendapatkan setifikat tanda kita telah mengunjungi Tugu Nol KM, caranya mudah, hanya menunjukkan bukti foto kita waktu di sana ke dinas pariwisata Sabang. Kantornya di daerah Kota Sabang dengan biaya kurang lebih Rp 17.000,- hingga Rp 20.000,-. Jasa pembuatan ini juga bisa kita dapatkan melalui orang yang dipercaya dinas pariwisata untuk membantu mengurusnya, contohnya di salah satu toko souvenir yang saya kunjungi. Kebetulan pemiliknya memang duta wisata Sabang.
Huooooo...Saya menclok di tugu 0KM Indonesia. photo:Ichant
View Samudera Hindia dari seberang Tugu. photo: Ichant

Dari Tugu Nol KM, kami lanjutkan perjalanan ke Pantai Gapang. Pantai berpasir putih ini lokasinya sebelum Pantai Iboih. Airnya jernih, berwarna hijau. Segala kelelahan kami hilang melihat pantai ini. Didukung semilir angin yang dingin dan cuaca yang bagus, kami beristirahat sambil menikmati pantai. Hari sudah menjelang sore, kami langsung ke Iboih untuk ke penginapan dan bersiap snorkeling ria.  Di Iboih, banyak persewaan alat-alat snorkeling dan jasa perahu penyeberangan ke Pulau Rubiah. Harga sewa perunit alat snorkeling Rp 15.000 dan Rp 40.000 untuk satu set (snorkel, fin dan pelampung). Harga sewa perahu untuk menyebrang ke Rubiah ini Rp 100.000,- hingga Rp 300.000,-. Tergantung muat orang yang bisa ditampung perahu dan kondisinya. Iboih dan Rubiah cukup dikenal dengan spot snorkeling dan divingnya yang indah. Hanya saja, waktu kami ke sana kondisi karangnya banyak yang hancur efek dari gempa dan global warming tapi ikan-ikannya cukup beragam dan berwarna-warni indah. Tidak rugi kami melakukan perjalanan panjang ke sini.
Gelantongan di Gapang Beach. photo: Ichant
with the boys..Left-Right. Ichant, Mehdia, Widhi, Bayu
Dermaga Iboih
Rubiah Island

Keesokan harinya kami lanjutkan untuk mengeksplore Pulau Weh dengan motor. Kami sempatkan makan nasi gurih dan mie aceh di pasar Kota Sabang atau Jl. Perdagangan namanya. Rata-rata per porsinya Rp 6.000, - 10.000,-. Cukup banyak warung berjajar di jalan ini. Setelah makan kami ke Danau Anoek Laot, danau ini dekat dengan pelabuhan Balohan dan kota. Bisa kita lihat waktu kita keluar dari pelabuhan dan perjalanan ke arah Iboih. Kami hanya bisa melihat-lihat saja di danau ini. Jangan lupa membeli kaos atau souvenir lain khas Sabang di daerah Kota Atas Sabang.
Aneuk Laot Lake

Tujuan kami selanjutnya yaitu Pantai Sumur Tiga, di pantai ini kita bisa menikmati sunrise. Sayang, waktu kami ke sana siang hari. Hanya bisa bermain-main di pantai saja. Keindahan Pantai ini tidak kalah dengan Pantai Gapang. Pasirnya putih dan gradasi warna air akibat salitasi terlihat memukau. Tidak berlama-lama kami di sini karena kami harus balik ke Aceh sore hari sehingga hanya beberapa tempat lagi yang bisa kami kunjungi. Destinasi terakhir kami yaitu Pantai Anoi Itam dan Benteng Jepang. Lokasi Benteng ini sebelum Pantai Anoi Itam dan saling berdekatan satu sama lain. Dari atas Benteng kita bisa melihat Pantai Anoi Itam yang pasirnya berwarna hitam. Di sini terkenal dengan makanan rujak Aceh.
Sumur Tiga Beach
Anoi Itam Beach
Japanese Fortress

Jadwal berangkat kapal kami ke Pelabuhan Ulee Lheu pukul 4 sore. Masih banyak destinasi yang belum kami kunjungi di pulau ini, tapi kami harus segera kembali untuk melanjutkan perjalanan ke kota lain. Tidak cukup dua hari untuk menjelajahi pulau Sabang. Kami berharap bisa kembali ke Sabang lagi dan melanjutkan perjalanan hingga Marauke.

Wednesday, June 13, 2012

Sagon, Sarapan Kecil dari Gunung Sikunir

Sagon

Waktu turun dari gunung Sikunir, Dieng. Pemandangan yang bisa kita lihat adalah sebuah telaga berwarna biru di dekat pelataran parkir gunung. Telaga Cebong namanya. Mendadak mata saya teralihkan dari telaga tersebut ke sepasang suami istri yang sibuk mengipas sebuah makanan di atas tungku kecil. Saya segera menuju ke sana. Teman-teman sudah banyak yang mendahului ternyata. Saya mengamati sebentar dan menebak-nebak makanan apa ini sebenarnya. Tampilannya pipih dan terlihat keras seperti karak (nasi yang sudah kering) tapi waktu teman menggigitnya terlihat lembut. Sagon nama makanan itu. Bahannya dari tepung ketan dan kelapa ditaburi gula diatasnya waktu memasak. Adonannya dicampur kemudian dimasak di atas tungku baru dirtaburi gula di atasnya. Sekilas mirip dengan cara membuat putu ayu, baik dari bahan dan cara masaknya. Sagon lebih enak dimakan waktu masih panas, baru diangkat dari tungku. Harganya Rp 5.000,-, cocok untuk sarapan kecil setelah menikmati sunrise di atas gunung.
Cara bikin Sagon
Maem Sagon dulu yuuuk :D

Wednesday, June 6, 2012

Menang nulis Blog Piyoh!

Hey.. Aku menang nulis blog soal Piyoh!
Postingan saya waktu itu ini nih.. Aku Sabang Kamu
Alhamdulillah, pemenangnya dapat gantungan kunci piyoh, sticker sama kaos design terbarunya.
Nih..sudah sampai di rumah. Saya nitip Mas Hijrah juga untuk mengurus sertifikat 0KM, tanda bahwa saya sudah ke sana.. :D
Semoga menang lagi kalau ada lomba nulis2 lagi deh.. :*
Thq Piyoh!
Kaosnya sama sertifikat 0KM


My Brader, Nobel, use the Piyoh! T-shirt

Monday, May 21, 2012

Lie

Satu kebohongan memicu kebohongan selanjutnya.
Itu yang terjadi selama ini. Just try to tell the truth.
It doesn't matter how it will hurts you, hurts people around you.

Pray, ask God to stop your lying.

Monday, May 14, 2012

Sego Sambel Ho-Ha

Sego sambel, nasi sambal dalam bahasa Indonesia. Namanya saja sego sambel, pedes pastinya.
Minggu lalu saya diajak Intan, teman kantor yang doyan (addicted lebih tepatnya) dengan sambal.
Saya, yang gak doyan sambel mau aja ikutan..nyoba kekuatan ceritanya :D

Malam itu, sepulang kerja kami menuju TKP, Sego Sambel Ha-Ho Jl. Dharmawangsa. Sebelah kiri jalan kalo dari kertajaya. Sebelum pertigaan traffic light RS Graha Amerta.
Ho - Ha (nyembur api dari mulut)
lezatnya mengharukan?? (sampe nangis karena kepedesan)
Malam itu saya pesan lalapan ikan Pe dan Tempe dengan minuman es Jeruk. Rp. 13.000 total. Rp. 9000 untuk lalapan, sisanya untuk minumannya.
Sambelnya looohhhhhh --"
iwak pe plus tempe
Pedesnya memang mengharukan. Bikin nangis bombay... padahal saya sudah pake kecap bwanyaaaakkk...
I think I know why its called Ho-Ha.. seperti suara orang lagi kepedesan. Hoooo..haaaaahhh (sambil ndoweeehh)

Wednesday, May 9, 2012

Aku Sabang Kamu


Aku Sabang Kamu
Tagline Piyoh ini membuat saya tertawa waktu pertama membacanya. Lucu, kreatif dan mengena.
Bisa dibaca dengan intonasi Aku Sabang Kamu, bisa juga dibaca dengan Aku, Sabang, Kamu bagi yang punya cerita khusus ;)

Dua minggu lalu, tanggal 28-29 April saya dan beberapa teman berkunjung ke Sabang. Panjang ceritanya bisa sampai pulau ini, sepanjang perjalanan kami dari Surabaya ke Pulau paling barat Indonesia tersebut. Saya suka membeli kaos di setiap kota yang saya kunjungi. Selain sebagai tanda saya pernah ke sana, kadang untuk oleh-oleh atau sekedar titipan teman. Beberapa minggu sebelum keberangkatan kami, saya membuka situs emagz favorit saya dan menemukan edisi terbaru majalahnya yang membahas Sabang. Senang bukan kepalang, kami menemukan artikel yang bisa kami jadikan panduan waktu pergi nanti. Salah satu kontak yang bisa kami jadikan pegangan adalah kontak Bang Hijrah, Duta Pariwisata Sabang. Bang Hijrah juga punya toko souvenir berbau Sabang, Piyoh! namanya.

Begitu sampai Sabang, kami kirim pesan ke Bang Hijrah menanyakan alamat Piyoh. Lokasinya di kota atas Sabang, belakang Hotel Montana dan Hotel Nagoya. Waktu kami berkeliling di daerah kota, tidak sengaja kami melihat sebuah toko dengan tulisan Piyoh! di daerah pasar. Tapi ternyata toko di situ sudah tutup, kami mencari lagi alamat Piyoh yang baru berdasarkan petunjuk sms Bang Hijrah tadi.
Finally... We found Piyoh!!
Mehdia with the Piyoh's mascot. Taken by Ichant
Waktu sampai di depan gerai Piyoh, kami membaca tulisan "Closed". Huuuuuu..sedih.
Tapi ternyata ada tulisan di bawahnya, "Kalau tutup hubungi no 081269655627" Tidak lama setelah sms, langsung deh ada yang bukain tokonya. Oh ya, sembari menunggu dibukakan pintu kami sempat berfoto di sisi dinding dengan tulisan I love Sabang dan maskot Piyoh di depan toko. Lucuuuuuu! :D

Hey..Aku Sabang Kamu. Taken by Ichant
Ichant Sabang Kamu :D
Memilih kaos dan souvenir lain di Piyoh tidak bisa dalam waktu singkat. Terlalu banyak pilihan yang oke di sini. Desainnya bervariasi, keren dan bahan kaosnya juga nyaman. Bingung milihnya...
Sekenang Kedar-kedaran dari Sabang. Taken by Ichant
Waktu memilih-milih barang di toko ini, kami melihat foto-foto Bang Hijrah yang ternyata sebelumnya pernah menjadi Kakang Malang, Raki Jatim dan Agam Aceh serta Duta Pariwisata Sabang loh. Ternyata Bang Hijrah juga alumni Universitas Brawijaya Malang seperti saya.. meskipun bukan di jurusan yang sama, saya ikut bangga Bang Hijrah bisa sukses seperti sekarang. Sayang kami tidak bertemu langsung dengannya waktu itu, it would be nice to meet him.

Di Piyoh ini selain kaos juga dijual gantungan kunci, macam-macam pin, sticker, sandal, tas, serta beberapa souvenir lain bahkan peta wisata Sabang juga bisa kita dapatkan di sini. Kita juga bisa mengurus sertifikat tanda kita sudah pernah mengunjungi titik 0 km Indonesia. Komplit kan..

Ini kaos yang sebenernya saya incar. Kaos yang dipakai Bang Hijrah..Tapi kenapa kemarin di Piyoh gak ada, Bang? -___-

Bad Guy Goes To Hell, Good Guy Goes To Sabang
 I love Sabang T-shirt

Intan with the Inong Aceh T-shirt

Gantungan Agam Inong. Taken by Ichant
Miniatur Agam Inong. Taken by Ichant
Sabang Tourism Map
Sertifikat 0 Km Indonesia
Saran saya, sebelum keliling Sabang sebaiknya mampir ke Piyoh dulu, sesuai arti Piyoh yang berarti mampir atau singgah. Tanya soal Sabang sepuasnya, beli kaosnya untuk dipakai menjelajah Sabang.







Aku, Sabang, Kamu
Aku Sabang Kamu!!