Wednesday, December 19, 2012

5cm

5cm itu panjang salah satu jari kaki saya. 5cm itu seperempat dari panjang telapak tangan saya. Dan 5cm itu ketebalan buku yang paling tebal yg pernah saya baca. (Beneran, saya pernah mengukur semua itu pada saat kuliah)

5cm menjadi obrolan paling hangat beberapa hari ini. 5cm yang menjadi bahan pembicaraan ini adalah judul film dari sebuah novel dengan judul yang sama. Film Indonesia yang bercerita tentang perjalanan 5 sahabat (+1orang) waktu menaklukkan Mahameru dan mimpi-mimpi mereka masing-masing.

Pertama kali baca novel ini adalah tahun 2005, jaman SMA. Cetakan pertama bukunya. Baca novelnya pun gak beli, pinjem temannya kakak. Novel itu langsung saya nobatkan menjadi salah satu novel inspiratif saya. SUATU SAAT SAYA HARUS KE MAHAMERU!! Well, novel itu juga memberi saya keyakinan bahwa semua yang kita inginkan itu harus kita yakini, yakin bisa mendapatkannya selain berusaha tentunya.

5cm menjadi novel favorit saya yang membuat saya makin bermimpi untuk bisa sering bepergian. Hingga saat ini akhirnya mimpi traveling saya terwujud. Belum banyak tempat sih, tapi sudah cukup sering.

Setelah membaca novel itu saya selalu berharap agar 5cm difilmkan. Ternyata 7 tahun kemudian filmnya muncul!

Tapi, yang saya khawatirkan terjadi juga. Filmnya tidak sesuai ekspektasi saya pada saat membaca novelnya. Ada beberapa scenes yang dihilangkan. Misalnya mereka berkenalan dengan pendaki dari Surabaya, yang nantinya jadi suaminya Dinda. Terus si Ian yang cerita sempat ketemu sama pendaki lain yang ternyata mereka ketahui sudah meninggal. Ada jalan cerita di film yang berbeda dengan di novel. Udah gitu saya merasa beberapa pemainnya kurang representative.. Ah..bikin kecewa, meskipun kerennya ranu kumbolo dan puncak Semeru terlihat jelas di sana.

Selain itu, kenapa feelnya terasa berbeda di saat saya ke Ranu Kumbolo. Dari strugglenya, kostumnya.. Jeans bhokkk! bukan kostum gunung banget! Bawaannya yang kayaknya terlalu sedikit untuk ke puncak. Air minum apalagi, kok mereka sampe minta ke pendaki yang lain ya..

Sorry, but I'll give 3 of five stars that you have..

Friday, December 7, 2012

BasMie Surabaya

Maapkan saya Surabaya, bukan maksud saya mau membumi-hanguskan kota, tapi ini nama Kedai baru di Surabaya. BasMie, Batagor Sayur dan Mie Pedas Thailand. Rombong sih, tapi bisa dining in di sana, karena lokasinya di teras Circle K Tenggilis Mejoyo Surabaya. CK ini kebetulan punya halaman cukup lebar dan biasa dipakai nongkrong.
Booth Basmie di teras Circle K

Hmmm.. Are you drooling? :D
Menu-menu BasMie sendiri ada dua yang utama, sesuai namanya, Batagor Sayur dan Mie Pedas Thailand. Batagor Sayur sendiri masih dua macam sih macamnya, yang biasa dan yang special atau dengan tambahan telor. Mie Pedas Thailandnya ada beberapa macam sebenarnya, ada yang ayam, daging sama seafood. Tapi saat ini yang available hanya ayam. Pedesnya gak biasa loh.. Dan rasanya gak hanya mengandalkan rasa pedas saja, tapi juga rasa dasar mienya sudah enak.
Batagor Sayurnya nih..
Mie Pedas Thailand. Masih kelihatan Cabenya kaaaann?? Kuat?
Ah...iya..harganya relatif murah loh. Batagor Sayur yang cukup mengenyangkan saja cuma Rp 5.000, nambah telor jadi 7.000. Mienya 8.000 rupiah, reasonable lah dengan porsi, isi dan rasanya.

Selamat mencoba!

Salam Eat and Fat,
Mehdia

Wednesday, December 5, 2012

What is Wonderful Indonesia?*

Kami menyebutnya Nusantara. Nusantara itu cuma Indonesia. Negara mana lagi yang disebut sebagai Nusantara? Sepengetahuan saya tidak ada. Indonesia disebut Nusantara karena merupakan negara kepulauan yang paling besar di dunia. Indonesia punya 13.000 lebih pulau, diapit dua Samudera (Pasifik dan Hindia) dan dua Benua (Asia dan Australia). Indonesia juga dilintasi garis khatulistiwa. Negeri ini kaya. Benar-benar kaya. Terutama alamnya. Tanahnya subur, karena itu disebut negara agraris. Lautnya luas sehingga disebut negera maritim. Bahkan hasil tambangnya melimpah. Hasil kebunnya juga tidak kalah saing dengan hasil negara lain. Sayangnya, tidak semua penduduk Indonesia sadar akan hal ini. Padahal penduduknya sangat kaya akan keberagaman. Suku-suku dan budayanya sangat menakjubkan. Orang-orang asing juga mengakui bahwa kita adalah penduduk yang ramah. Bahkan di pendidikan yang saya tempuh ada mata kuliah khusus Arsitektur Nusantara. Arsitekturnya tidak habis-habis untuk dibahas. Siapa pun yang pernah menjelajahi negeri ini, pasti akan ketagihan. Saya yakin akan hal itu. Di belahan Indonesia manapun, selalu ada tujuan wisata alamnya. Baik yang sudah sering disebut dan dikunjungi oleh para wisatawan atau masih tersembunyi. “Why you go to another place while you are in paradise (Indonesia). Indonesia is a place you should go before you die,” kata seorang traveler asing.

*tulisan ini yang saya submit waktu mendaftar sebagai blogger Indonesia Travellers Agents

UnFinished Story of A Night in Suramadu

Surabaya Madura. Satu icon lagi dari Surabaya, juga bagi Madura. Sebuah jembatan penghubung dua pulau. Pulau Jawa dan Madura.

Bagi yang warga Surabaya dan sekitarnya, sudah berapa kali kalian melewati jembatan ini?
Hah??? belom pernah?! You should try it, at least once in life, biar ngerasain sensasinya. Lebay dikit.
Hembusan anginnya yang kencang bisa bikin mulut komat-kamit doa minta dikasi selamat. Itu kalo naek motor yang harga nyeberangnya cuma Rp 3.000 sih. Kalo naek mobil gak bakal kerasa, tarif nyeberangnya 10x lipat dari tarif motor. Kalau anginnya super kencang dan cukup membahayakan, aktivitas penyeberangan ini ditutup.

Yang menarik dari jembatan ini adalah lampunya yang berwarna-warni di malam hari berubah-ubah (ndwesooo..liat lampu aja girang). Gak usah jauh-jauh ke Golden Gate San Fransisco donk kalau mau lihat jembatan keren. Mirip kok. Keren gak..keren gak?! :D
Amazing! saya bisa sukses ambil gambar ini :)
Strukturnya pakai sistem gantung gitu, nah lampunya tepat di strukturnya yang membentang panjang tersebut. Ngomongin soal struktur, banyak mur, baut gede yang dipakai kan untuk jembatan segede itu. Pas awal sebelum beroperasi secara resmi, perangkat itu banyak yang hilang lohhhh!! Yang nyuri ya orang-orang wilayah situ katanya.. sedih banget, fasilitas untuk mereka sendiri malah dirusak-rusak sendiri :(

Kebanyakan orang yang melintasi Suramadu pengen ambil foto di sana. Entah cuma mau ambil foto jembatan, lautnya, atau foto diri pas di sana. Emmmm...saya termasuk orang-orang itu. Beberapa kali lewat jembatan ini belum pernah berhasil ambil foto diri yang keren. Pernah, sedang asik ambil foto di perjalanan pulang dari proyek, pas bawa motor (dalam posisi dibonceng sih), tiba-tiba ban motor bocor di tengah Suramadu yang panjangnya 5,5 KM. Nasib. Gak bakal ada tukang tambal ban di jembatan itu :'(( 
Pas saya dan teman saya yang kurus bernama Rodhi berjalan menggiring Legenda 2 kesayangan saya itu, tiba-tiba ada Bapak bermotor berhenti di dekat kami.

"Mogok Mbak?"

"Enggak, Pak. Bannya bocor." 

"Lho..gak ada tambal ban di sini mbak. Sudah, mbaknya ikut saya sampai ujung Suramadu. Di sana ada tukang tambal ban. Biar masnya yang bawa motornya mbak."

Kalau saya meninggalkan teman saya itu, saya menjadi teman durhaka dan tidur tidak tenang. Melihat kondisi Rodhi seperti itu, saya juga gak tega. Sepeda yang bocor tersebut juga sepeda tercinta saya, gak tega ninggalin si Legend. Akhirnya..

"Gak usah, Pak. Terima kasih. Biar saya nuntun bareng aja sampe ujung, kasian teman saya Pak."

"Gakpapa mbak, gak bakal saya apa-apain kok. Nanti biar masnya naikin motor itu pelan-pelan sampai tambal ban. Masih jauh loh kalau mau jalan." --"

Sambil noleh ke Rodhi, dan ia mengiyakan, akhirnya saya naik motor om-om itu. Ternyata bener. Masih jauuuuuuuhhh..
Singkat cerita, setelah tragedi itu saya ogah bawa si Legend jauh-jauh dan sedikit trauma naek motor lewat Suramadu.

Karena rasa penasaran untuk mendapatkan gambar Suramadu, beberapa bulan yang lalu saya sudah siap kamera dan tripod sepulang kerja langsung ke sana. Partner ke sana kali ini adalah Ichant.
Kami mencari spot bagus untuk foto. Tepatnya di kampung pinggiran Suramadu, daerah pesisir pantai yang 90% penduduknya adalah warga Madura. Dari situ kami bisa melihat perspektif badan Suramadu dengan lampu malamnya yang indah. Karena jalannya sempit dan sepi, sepanjangn jalan ini dipakai para muda-mudi untuk pacaran di remang-remang. --"

Ini beberapa hasil foto yang bisa kami ambil..
Jong Sumatera (Ichant), Jong Bali (Made), Jong Java (Mehdia), Jong Aceh (Ahlan) in Madura Island
Tepat sebelum momen itu
Setelah momen itu, masih sempat foto-foto lagi
Beberapa malam lalu, saya kembali ke spot yang sama dalam rangka menghost teman dari Aceh, Ahlan. Tengah malam, kami berempat (saya, ichant, made, ahlan) ke daerah rawan kriminal tersebut. Beberapa kali ambil foto, kami sudah mencium bau tidak nyaman. Ternyata, tidak jauh dari kami bertebaran kotoran kucing dan mamalia lain, sebut saja manusia. Aaaaaaaaakkkk!!!!!

"toilet tak selebar pantai," kata Ahlan.

"Mehdiaaaaaaaa!!! sudah kubilang hati-hati kalau melangkah," Ichant. 

"WTH!!!! sepertinya aku mau dapat rejeki ya.." Mehdia.



Jadi, tau kan kenapa saya memakai judul di atas dan tidak melanjutkan cerita ini.
Mohon pengertiannya dan terima kasih.

Mehdia

Tuesday, December 4, 2012

Dolly, An Icon of Surabaya (?)

Sedih kalo dengar kalimat itu. My city is a city of heroes, itu icon yang menurut saya lebih baik didengar. Bukan Dolly, sebuah daerah pusat lokalisasi yang konon katanya terbesar di Asia Tenggara. Katanya gak afdol kalo ke Surabaya gak ke sana. At least tau suasananya lah..

Boleh. silakan berkunjung ke sana kalau penasaran. Gak munafik, saya juga penasaran kok. Beberapa kali lewat sana gak pernah tau kondisi "real"nya seperti apa karena pas kebetulan lewat di siang hari. Kebetulan, beneran kebetulan. Gak disengaja kok. Baru beberapa hari yang lalu disengaja ke Dollywood ini.. ^^ Ujung-ujungnya rasa penasaran mengalahkan segalanya.

Jadi, malam itu adalah malam minggu. Hari kedua di bulan Desember a.k.a tanggal muda. Tepat sekali momennya. Malam itu kami (saya, Ichant, Made) menghost Host (ribet) kami selama di Aceh dulu, Ahlan Syahreza. Ahlan kami culik dari hotelnya pukul 11 malam karena baru waktu itu kami free. Setelah kuliner dan ke Suramadu, Ichant iseng mau menunjukkan lokalisasi Dolly ini ke Ahlan. Dan malam itu kami ke sana pukul setengah dua dini hari. Gwendeng..berkeliaran di tengah malam ceritanya.
Ini persis yang saya lihat waktu lewat ke sana. ambil foto dari gugling
Hampir tiap rumah sofanya pink seperti ini. ambil foto dari gugling
Dolly adalah sebutan beberapa gang kecil yang terhubung dan penuh dengan mucikari, PSK dan para lelaki doyan "jajan". Satu gang itu jadi sumber rejeki banyak pihak. Dari yang halal hingga yang haram. Tukang rokok, tukang jual makanan, pulsa dan lainnya bertebaran di sana. Jangan tanya soal PSKnya. Ya pasti ada donk.. Rumah-rumah yang ditempati itu hampir semuanya transparan. Kaca semua di bagian depannya. Dari luar bakal terlihat sofa-sofa yang menjadi pajangan para mbak-mbak seksi itu. Persis kayak etalase gitcuuu..

Malam itu kami melintasi gang (untungnya) dengan mobil. Saya, yang saat itu satu-satunya wanita, berjilbab pula, gak enak sendiri kalau misalnya berkeliaran di sana dengan mencolok. Para germo di sana sudah hafal, mana pengunjung yang mau "maen", mana yang cuma pengen sight seeing saja. Meskipun mau subuh, gang itu masih padat. Harus pelan-pelan lewatnya. Cukup satu mobil saja lebarnya. Kami menemukan beberapa pria berpakaian batik yang duduk-duduk di jalan gang. Para pria tersebut adalah germo. Di setiap rumah di jaga beberapa body guard, in case kalau ada tamu yang nakal. Bahkan ada tempat parkir khusus di tempat ini. Sempat terdengar kabar Dolly pernah hampir dijadikan destinasi wisata Surabaya. Oh God! Gak kebayang Surabaya dengan wisata religi Ampel dan wisata Dolly. Kalo India punya Bollywood, kami punya Dollywood (lha kok sekarang nadanya bangga??!!!)

Menurut sumber, sebut saja Ichant, bukan nama sebenarnya, tarif rata-rata per jam di tempat ini adalah 140-150rb. Jumlah diperkirakan 1000-1500 PSK. Selama pelayanan, mbaknya gak boleh dibawa keluar dari wisma. Wisma yang cukup tersohor di sana adalah wisma Barbara. Wismanya gede, nyolok, sebelahan sama Bar. Cukup deg-degan lewat sini, takut kalo salah dikit bisa matik! Mau motret pake hape aja udah gak berani. Momen itu cuma saya simpan dalam memori kepala kami. Penasaran? datang aja, tapi gak usah nyoba-nyoba deh..
Hati-hati, your curiousity can kill you..

Tuesday, November 27, 2012

Komodo National Park, Not Only About Komodo

It was an unexpected journey. Suddenly I have a chance to explore Komodo Island with free. Totally free. Lucky me, I traveled with three amazing man as my team. Mad, Ruli and Udin. We are Indonesia Travellers.

We started this journey from Jakarta on Monday, November 12th 2012 in early morning. Exciting!! We were really, really excited!! That morning we still sleepy and check in at 06:20. While check in we just realize that two of us have different flight schedule. We have to reschedule it. Glad that finally we can reschedule it with some money of course.

Our journey start from Jakarta to Denpasar first then we continue to Labuan Bajo. It takes about 4 hours from Jakarta to Labuan Bajo. Most of the passanger of Labuan bajo flight were foreign tourists. Mad, our adventurer, give some Indonesia travellers stickers to them.
Mad gave the stickers to the passangers. by Udin
Get a picture in front of Labuan Bajo Airport signage is a must. Don’t miss it. While you take a photo, you will feel the hot weather of Labuan Bajo. I think that time was hotter than Surabaya. We were picked up by Arya, our guide. We went to Aqua Dive to get the snorkel gear and diving equiptment. There are so many stores along the Soekarno Hatta street, the main street of Labuan Bajo. You can look for the ticket, the guide, the room, restaurant, and many more. We went to harbor by car. It just take 10-15 minutes from the airport to the harbor. Our boat name is Treebucca. We LOB (Live on Board) Treebucca for three days hopping island in Komodo National Park. The ship is very suitable for us who do the mission. It has Red and white flag same as our lovely flag. The design is modern and mostly from wood. Treebucca has a main bedroom, two twin room and one toilet. There are a simple kitchen and also the cook. Captain and the crew have a special room too. I love the cleanness of this ship.
Treebuca ship. It is colored red and white! by Udin
The tourists who want to explore Komodo National Park have to do LOB in a few days. Five days is not satisfying enough for exploring this place. Too many destination we should visited there. It has so many favourite dive spots, even only snorkeling we can see the beautiful underwater of Komodo National Park. The pink color of the sand, the sweet smile of the children, a local hospitality, an awesome and unique culture. Everything is worth to be explored.
Ardi, our cook. Say what you wanna eat, he can make it deliciously. by Udin
We wish in five days we can visit every corner of it. But its impossible. Need more than a week to get the detail of it. It just Komodo National Park, Flores, a little part of Indonesia. Imagine how long if we explore Indonesia. The dive spots we have visited are Makassar Reef, Costal Rock, Batu Bolong, Manta Point and hopping islands to some islands such as gosong island, an island with no people or else.
Cute turtle. by Mad
The underwater of Komodo National park is soooo colorful. by Mad
Gili Lawa, You Rock!! by Udin
Wohoooo.. Jump in Gusung Island. Dont you tempted to play here? by Udin
We also enjoy the great view from the top of Gili Lawa Darat and Gili Lawa Laut. Need an extra power to go there. We hiked about half an hour. Have you ever see a group of bats fly and go out from their nest while sunset? We did guy! We saw it.. Amazing! A thousand bats flied up in the red sky of sunset. Beautiful! Trekking to Rinca Island to see how Komodo lives. We got an epic moment, we record into our memory, a komodo eat another komodo. Really, really wild life. A Komodo Ethnic group is also stays in Rinca Island, we spend a little time to explore it. What else? Labuan Bajo, a harbor city. We can go around the the city by bike, mingle with the local people, dining in a good restaurant with delicious food, going to the morning market. We really enjoy our time here. Forty minutes from Labuan Bajo, we’ll see Cunca Rami, a great waterfall in the middle of the jungle. We did trekking for about 40 minutes to go there. Curious about the traditional village of Manggarai? We can visit Melo Village, West Manggarai. They have a sincere smile, love the culture and have a big dream to make the world know about them.
Happy Snorkeling!! by Udin
Take a shoot for our video
The Wild Komodo. by Udin
Cunca Rami waterfall. See the landscape? Awesome! by Udin
Treetop Restaurant on Labuan Bajo, they has so much food for us
Those are a little part of Flores that we visited. Yes, only a little part. Komodo Island is not only about Komodo. Just pack your bag and go!