Wednesday, May 9, 2012

Dieng Plateau (part II)

Kali ini cerita perjalanan kami di hari kedua menjelajah Dataran Tinggi Dieng. This is it! The 1st part is here guys :)

Sabtu, 7 April 2012
We are ready to catch the sunrise!!!!
The Sunrise on Sikunir Mt.
Pukul 4 pagi kami berangkat ke Sikunir dan menyempatkan sholat subuh di perjalanan. Untuk mendapatkan sunrise yang oke, sebaiknya kita mendaki ke bagian paling atas. 30 menit kira-kira kami menapaki gunung tersebut. Hawa dingin sudah tidak terasa waktu kami mendaki, yang kami rasakan malah kelelahan, belum sarapan soalnya.
View dari atas Sikunir pasca sunrise
Sampai di atas, kami puas dengan pemandangan yang benar-benar indah. Sang fajar perlahan menampakkan diri dan terlihat sinarnya yang menyebar menerangi bawahnya. Benar-benar puas menyaksikannya. Kami mengabadikan momen tersebut dan tidak lupa mengabadikan momen bersama teman-teman dengan berbagai gaya.
Dancing..Dancing :D
Sikunir Mt.
Cool! Taken by Mas Zaenal
Jump! Taken by Mas Zaenal
Waktu turun dari Sikunir, kami disuguhi pemandangan lain. Telaga Cebong yang biru dan menyejukkan mata menyambut kami turun. Di dekat situ ada penjual Sagon, makanan yang terbuat dari tepung ketan, kelapa dan gula yang belum pernah saya temukan di tempat lain. Sepertinya makanan ini khas Dieng, membuatnya juga cukup mudah seperti membuat putu. Bedanya, Sagon dimasak dengan tungku kecil.
Telaga Cebong
Sagon
Dieng memang punya banyak destinasi wisata. Tidak cukup sehari untuk menjelajahinya. Dataran tinggi ini punya banyak telaga, kawah serta candi. Dari Sikunir dan Telaga Cebong, kami lanjut ke Kawah Sikidang. Coba saja cari di situs pencarian dengan keyword tersebut, akan muncul foto-foto indahnya kawah ini. Memakai masker cukup membantu kita untuk mengatasi bau belerangnya yang cukup menyengat tapi tidak berbahaya. Kawah ini cukup menarik dengan batuan belerang dan sulfurnya. Tidak ada track khusus untuk mencapai Kawah ini. Tapaknya relatif datar. Di sini kami mencoba mengoleskan aliran sulfur yang katanya bisa menghilangkan jerawat atau membersihkan kulit. Waktu memakainya jangan sampai kena mata, perihnya bakal tahan lama dan bau belerangnya juga awet di pakaian yang kita kenakan. Jangan lupa untuk memfoto sekitar kawah ini ya. Benar-benar keren deh..
Penjual Belerang
Sikidang Crater
Mencoba Sulfur di Kawah Sikidang
Cabe Dieng
Masih banyak tempat yang belum kami kunjungi, waktu kami di Dieng hanya terbatas sampai sore saja. Durasi waktu kami atur agar kami masih bisa mendapatkan pemandangan di beberapa tempat lagi. Dari Kawah Sikidang kami menuju Telaga Merdada. Kita bisa berkeliling dengan perahu sewa di telaga ini. Jangan lupa berfoto dengan bunga 5 warna.
Telaga Merdada
Bunga 5 warna
Destinasi selanjutnya adalah Sumur Jalatunda. Ada yang percaya kalau kita melemparkan batu hingga ke tengah sumur, keinginan kita akan terkabul. Di sekitar lokasi sumur ini banyak petani kentang yang sedang bekerja. Kentang memang menjadi salah satu hasil bumi Dieng yang cukup tinggi. Tidak berlama-lama kami di sini, kami lanjutkan perjalanan menuju Komplek Candi Arjuna. Namanya saja komplek, area ini terdiri dari beberapa candi baik yang masih utuh atau pun reruntuhannya. Kami juga mendapati sekumpulan Domba berbulu lebat yang diternak penduduk sana. Domba ini awalnya dari Autralia lalu dikembang-biakkan oleh warga. Tampilannya tidak jauh berbeda dengan domba-domba yang sering kita tonton di serial animasi “Shaun The Sheep”. Lucu dan menggemaskan. 
Jalatunda Well
Sileri Crater
Bersepeda di Komplek Candi Arjuna
Bersantai di Komplek Candi Arjuna
Domba Dieng
Telaga tiga warna. Destinasi ini merupakan salah satu destinasi yang wajib kita kunjungi di Dieng. Warna telaga ini cukup bervariasi. Waktu kami ke sana, warna telaga ini hijau, kuning dan biru. Dari yang saya baca, warna yang kita lihat bisa saja berbeda tergantung waktu kita melihatnya dan cuaca. Ada yang pernah mendapatkan efek warna biru airnya, jingga di waktu senja dan hijau dari cerminan tumbuhan di sekitarnya. Great! 


Telaga 3 Warna
Kuning, Biru dan Hijau warna airnya
Sisi hijau telaga warna
Narsis di Telaga 3 Warna
Menjelang sore, kami beranjak kembali ke Wonosobo. Sebelumnya kami sempatkan dulu untuk mandi di pemandian air panas lagi. Benar-benar pemandian pembuka dan penutup perjalanan kami. Heheee

Ada beberapa tujuan yang kami lewatkan, Kawah Candradimuka dan Air terjun Sirawe, Danau dan Kawah Sinila serta beberapa Candi. Meskipun demikian, kami cukup puas dengan banyak tempat wisata Dieng. Semoga kami bisa kembali lagi ke sana dengan destinasi dan waktu yang lebih panjang.

Kuliner Dieng yang cukup terkenal yaitu Mie Ongklok. Gak afdol rasanya kalau berkunjung ke suatu daerah tanpa mencoba kulinernya. Sore sebelum pulang, kami mencoba mie ini. Bahkan sampai mendapatkan resepnya. Harganya sekitar Rp 5.000,- saja. Mie ongklok ini seperti mie ayam dengan bumbunya yang khas dan pembuatanya diongklok (dikocok) dengan bambu. Pasangan makan mie ini adalah Sate Tongseng. Sate daging yang dipotong kecil-kecil dan tipis dengan bumbu yang rasanya hampir sama dengan bumbu mie ongklok. Ah...lezatnyaaaaa
Mie Ongklok
Tujuan kami selanjutnya adalah Yogyakarta. Kami memang berencana pulang ke Surabaya via Jogja dan bermalam di sana sebelum paginya pulang. Di kota ini kami disambut oleh teman-teman BPI regional Yogyakarta dengan hangat di Restoran Pendopo Ndalem. Menu yang saya pesan kali ini adalah minuman penghangat Wedang Bledug, minuman hangat berisi rempah-rempah yang harganya hanya Rp 3.500,-. Saya pesan nasi Magelangan, nasi goreng manis dengan campuran beberapa sayur. Rata-rata makanan di sini berharga tidak lebih dari Rp 20.000,-.
Wedang Bledhug
Yang jual Nasi Magelangan
Bareng teman-teman BPI Yogyakarta

Setelah kenyang dan bercengkrama dengan teman-teman Jogja, kami menginap di tempat salah satu teman BPI di daerah Kota Gede. Matur nuwun sanget kagem rencang-rencang Jogja nggih :D Saya dan Mas Erwin juga sempat diantarkan untuk beli kaos dan berfoto di Tugu Jogja di tengah malam.
Tugu Jogja Tjiiiinnn :D

Minggu, 8 April 2012 – Pulang
Nunggu Kereta di Lempuyangan
Kereta kami berangkat pukul 08:30 dari Stasiun Lempuyangan. Kereta seharga Rp 30.000,- ini membawa kami pulang ke Surabaya dalam waktu 6 jam. That was my second time use the economic train (the 1st one was Jr.High school). Kali ini keretanya cukup mengejutkan saya. Tampilan kereta ini tidak jauh berbeda dengan kereta Bisnis loh. Sudah ada larangan merokok dan berjualan pula, membuat kereta ini boleh disamakan dengan kereta bisnis. Bedanya hanya jumlah bangku bisnis lebih sedikit dan stop kontak di masing-masih deret tempat duduk saja. Jangan lupa mencoba nasi pecel Madiun tiga ribuan waktu berhenti sebentar di stasiun Madiun.
Rp. 30.000,- Our Train Ticket
OM. Carica
Pecel Stasiun Madiun Rp 3.000,-

Selesai sudah cerita perjalanan kali ini. Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya!!!

   
 
 
 


Tuesday, May 8, 2012

Dieng Plateau (part I)

Akhirnya pergi juga ke sini. Sebelumnya beberapa kali rencana ke sini selalu batal. Kali ini travelmates saya adalah teman-teman dari BPI (Backpacker Indonesia) regional Surabaya. Menemukan mereka di dunia maya adalah sebuah kebetulan dan akhirnya memutuskan bergabung dengan mereka di dunia maya pula. Waktu itu dua hari sebelum long weekend April, tanggal 6 hingga 8 April 2012. Rencana saya untuk ke Jogja bertemu dengan teman dari Jakarta batal, kehabisan tiket dan teman saya mendadak harus survei proyek. Saya mencari rencana lain di libur panjang itu. Bertemulah saya dengan group BPI Surabaya dan trip terdekat mereka adalah ke Dieng. Langsung saja saya meminta bergabung dengan mereka. They are so welcome! I decided to join them on the last minutes. Thank you, guys :*
So..this our journey to Dieng started!

Kamis, 5 April 2012
Pulang kerja pukul 5 tepat itu salah satu anugerah. Setelah sholat maghrib, ngaji hingga sholat isya saya mandi, iya...saya mandi loh.. :D lalu packing dan bersiap ke Terminal Bungurasih (terminal Purabaya lebih tepatnya). Ibu yang sempat ragu dengan trip saya kali ini akhirnya merestui. -Yes, my mom was worry about my new friends, Backpacker Indonesia, that i haven’t know yet- Akhirnya ada kata khawatir dari Ibu ke saya, terharu.. sebelumnya hampir gak pernah dikhawatirin. Hahaaa

Malam itu macetnya luar biasa, efek long weekend dan memang arah ke terminal adalah jalan utama Surabaya, Jalan A. Yani. Rumah saya ke Bungurasih yang biasanya bisa ditempuh dalam 10 menit dengan bus kota kali ini setengah jam perjalanan dengan kendaraan yang sama. Saya menunggu teman-teman di tempat yang ditentukan, ruang tunggu yang baru. Wow, I have tried the terminal’s new waiting room..It were so clean, tidy, and comfort enough for the passangers. Jam 9 lebih, belum ada tanda-tanda teman berkumpul. Saya cuma bisa menghubungi Mas Deny, kontak yang saya punya dan dia sedang terjebak macet. Sekitar pukul 10 malam akhirnya kami berkumpul lengkap 14 orang (1 orang batal ikut) dan baru mendapatkan bus ke Semarang pukul 00:15 (sudah masuk tanggal 6 ya..)

Jum’at, 6 April 2012
00:30 bus kami berangkat menuju Semarang. Widji Lestari nama bus kami, bus ekonomi yang menyelamatkan kami dari keterlantaran di terminal :D tarifnya Rp 40.000,- untuk sampai ke Semarang. Sampai di Terminal Troboyo, Semarang pukul 07:30. Kami sempatkan sarapan dulu di sana sebelum kami lanjut ke Wonosobo. Satu jam kemudian kami berangkat ke Wonosobo. Tarif bus yang katanya hanya dua jam sampai Wonosobo ini Rp 20.000,-. Ternyata perkiraan meleset, untuk sampai ke Wonosobo hari itu kira-kira hampir 5 jam. Di tengah perjalanan tiba-tiba ada penjual es dung-dung Rp 2.000,-. Es itu bagaikan setetes air di gurun pasir, mencerahkan hari kami.
Es Dung-dung pencerah hari kami

Kami sampai di terminal Wonosobo dan bertemu dengan Pak Didik, guide kami selama di Dieng nanti. Setelah sholat, istirahat sejenak, pukul 14:30 kami berangkat menuju Dieng!
Buat saya, mencari tahu segala sesuatu tentang daerah yang akan kita kunjungi itu hampir wajib hukumnya, we have to know whats happening there, how to get there, is there any disaster or is it safe for the tourist, the places where we should visit, about the people, their culture, the food and many more information. Do some research before you go! It helps you a lot while traveling. Jadi, jauh hari sebelumnya saya sudah mencari tahu soal Dieng, hal utama yang menarik perhatian saya adalah fenomena rambut gimbal. Nanti saya jelaskan di posting lain saja deh :D Sayangnya, di perjalanan ini kami tidak bertemu dengan pemilik rambut gimbal.

Pemandian air Panas di Hutan kota Wonosobo adalah jujukan pertama kami. Ada dua pilihan tempat mandi di sini, kolam renang air panas atau kamar mandi yang berisi satu bak mandi dan bathtube untuk berendam. Mandi di sini harus penuh tenggang rasa, hanya 15 menit waktu kita untuk memanjakan diri dengan air panas, antri soalnya. Tarif untuk kamar mandi yang biasa Rp 3.000,- dan VIP Rp 7.000,-. Jangan kaget kalau misalnya ada bunyi bel bernyanyi di kamar mandi kalian, lebih dari 15 menit bel itu akan berbunyi. Neng nong neng nong neng...
Pemandian Air Panas dengan bel andalan tiap 15 menit

Puas mandi dan berendam bak putri di pemandian ini, kami menuju ke Telaga Menjer. Telaga ini sudah masuk kawasan Dieng I, mereka menyebutnya demikian. Pemandangan telaga ini sebenarnya lebih indah jika kita nikmati di saat pagi, karena warna air dan sekitarnya akan lebih terlihat. Sinar matahari yang memantul ke telaga akan Nampak indah pula. Momen seperti itu akan bagus untuk diabadikan. Tapi, meskipun kami menikmatinya di waktu senja, kami tetap bisa bernarsis ria. :D
Telaga Menjer
Telaga Menjer

Kira-kira pukul 5 sore lebih kami menuju ke penginapan kami untuk ishoma. Makan malam waktu itu di Resto Bu Djono. Bu Djono ternyata sudah cukup dikenal di kalangan wisatawan, baik asing maupun domestik. Hotel dan restonya terkenal memberikan pelayanan yang memuaskan dan lokasinya yang cukup strategis. Sayangnya kami dengan Bu Djono hanya untuk urusan perut, kami menginap di Matahari Home Stay. Home Stay kami berupa rumah kecil yang terdiri dari ruang tamu, ruang tengah dan dua kamar tidur dengan kamar mandi dalam serta dilengkapi dengan fasilitas air panas. Nyaman dan cukup hangat bagi kami yang kedinginan berada di ketinggian 2100 mdpl. Dataran tinggi Dieng ini lebih tinggi dari Bromo. Mandi? Boleh lah buat yang tahan sama dinginnya Dieng.
Map of Dieng Plateau

Setelah berbenah, sholat dan santai sebentar, kami diajak ke penjual carica, manisan khas Dieng. Di sana kami melihat buahnya langsung dan bisa mencoba beberapa kudapan yang dijual selain Carica seperti purwaceng dan beberapa keripik.
Kami sengaja tidur lebih awal malam itu karena pukul 4 pagi esok harinya kami harus sudah siap untuk mengejar sunrise di Gunung Sikunir.
Buah Carica khas Dieng
Manisan Carica
See ya on the next posting.. :D 

Tuesday, April 24, 2012

Maratua Pulau Mertua

Apa yang pertama kali kalian pikirkan saat membaca judul tersebut? Sebuah pulau yang isinya para mertua? :D Pikiran itu sempat terlintas juga saat saya membaca judul artikel "Derawan pulau Perawan". Saya pikir isinya para perawan yang tidak perlu menikah atau pulau yang masih belum terjamah. Mungkin artinya lebih cocok yang kedua.

Maratua Paradise Resort
Baik Pulau Maratua dan Derawan, berada dalam satu kabupaten. Kabupaten Berau lebih tepatnya. Di sini terdiri dari beberapa gugusan pulau. Lima pulau yang cukup dikenal yaitu Derawan, Maratua, Sangalaki, Kakaban dan Nabuco. Masing-masing pulau tersebut mempunyai arti sendiri. Para penduduk yang menamainya, kecuali Nabuco, resort yang dimiliki orang luar negeri. Derawan sendiri artinya perawan, Maratua berarti Mertua, Sangalaki artinya sang lelaki dan Kakaban punya arti kakak.

Maratua Paradise Resort. Taken by Intan
Tahun lalu, saya baru tahu soal Pulau Derawan ini dan langsung bertekad suatu saat saya bakal ke sana. Libur panjang Maret kemarin, 22-25 Maret 2012 saya dan teman-teman berkesempatan mengunjungi pulau-pulau tersebut. Beberapa bulan sebelumnya kami iseng berburu tiket promo dan memutuskan untuk berangkat ke Kalimantan Timur, tepatnya gugusan Pulau Derawan tadi. Rencana awalnya, kami akan berangkat dan mengeksplore tujuan tersebut bertiga tanpa agen, namun setelah menghitung total biayanya kami urungkan niat tersebut. Kami memutuskan untuk ikut jadwal agen tour di sana karena selisih biayanya jauh lebih murah jika pesertanya lebih dari 15 orang sedangkan kami waktu itu hanya bertiga dari Surabaya dan seorang teman dari Jakarta. Sewa kapalnya yang kita naiki kemarin saja bisa dipakai berangkat ke Raja Ampat. Rasa lelah kami mendadak hilang setelah sampai di Maratua. Pemandangan pantai ini dan sunsetnya benar-benar mengalihkan perhatian kami.
Saking beningnya kita bisa lihat Penyu di sini :)

Dancing in the air :* Taken by Mas Heri
Kami berangkat dari Surabaya menuju Tarakan, meeting point dengan agen tour dan kawan-kawan yang lain di Juwata International Airport. Siang itu kami langsung menyeberang dari pelabuhan Tengkayung ke Pulau Maratua. Total peserta seperjalanan kami 35 orang. Rame, seru.. dapat teman-teman baru lagi. Perjalanan dengan speed boat ke Maratua memakan waktu 3 jam. Penginapan hanya tersedia di dua pulau, Maratua dan Derawan saja. Penginapan di Maratua rata-rata Rp 150.000,- per hari sedangkan di Derawan Rp 100.000,-.
Kami menginap di Pulau Maratua, di pemukiman penduduk yang memang mempunyai penginapan atau penduduk yang menyewakan beberapa kamarnya. Saya memilih menginap di rumah penduduk yang rumahnya masih tradisional. Rumah panggung. Dari pondasi hingga atapnya berbahan kayu.
Salah satu gang di kampung Maratua

Jum'at, 23 Maret 2012
Foto dulu sebelum berangkat ke Derawan. Taken by Mas Heri
Kami berangkat dari Maratua ke beberapa pulau untuk hopping Island, ke Derawan dan Sangalaki saja hari ini. Satu jam perjalanan untuk mencapai Derawan. Di Derawan kita bisa menyewa alat snorkling seharga Rp 50.000,- perhari dan membeli beberapa souvenir. Jika dibandingkan dengan pulau lain di sini, karang-karang dan ikan di Derawan kurang begitu bagus.
Derawan Island
Siang hari, perjalanan kami lanjutkan ke Sangalaki. Di sini lebih indah karang dan ikannya. Hanya saja terlihat cukup banyak karang yang rusak akibat bom para penangkap ikan. Penangkaran Penyu bisa kita kunjungi di Pulau ini. Rp 2000,- per orang dan Rp 5.000,- per kamera. Pemandangan di pulau ini tidak kalah cantik dengan Pulau Karimunjawa. Airnya yang jernih dan berwarna hijau, serta pasirnya yang putih membuat kami tahan untuk berlama-lama di sana.

Sangalaki Island

Bayi-bayi Penyu di Penangkaran Penyu Sangalaki
Sangalaki Island
Underwater di Sangalaki. Taken by Mas Djuki (Kakaban Trip)
Underwater Sangalaki. Taken by Mas Djuki (Kakaban Trip)



Sebelum ke Sangalaki kami sempat mampir ke Pulau Gusung, Pulau kecil yang hanya terdiri dari pasir putih di tengah laut karena surut. Terlihat lekukan-lekukan indah pasir bekas deburan air laut seperti gumuk pasir. Di tengah perjalanan kembali ke penginapan, di tengah laut lepas kami menemukan manta, sejenis ikan Pari yang cukup besar. Faktor keberuntungan menjadi hal utama untuk dapat melihat ikan ini. hehe

Lompatan Pulau Gusung. Dipotoin Mr. Abi :)

Sabtu, 24 Maret 2012
Unsting Jellyfish Kakaban Island. Taken by Mas Djuki (Kakaban Trip)
Pagi itu kami sudah bersiap ke Pulau Kakaban, pulau yang terkenal dengan unsting jellyfish, ubur-ubur yang tidak menyengat. Hujan mendadak turun, keberangkatan kami tunda dahulu. Kira-kira setelah satu jam hujan mulai reda dan kami beranjak dengan speed boat ke Pulau tersebut. Ternyata lokasi ubur-ubur ini di danau tengah Pulau Kakaban. Jadi, setelah sampai dermaga kecil pulau ini kami berjalan menyusuri hutan terlebih dahulu. Kira-kira setelah 5 menit berjalan, kami dikejutkan dengan pemandangan yang teduuuuuhhhh sekali, dengan airnya yang hijau, udara yang masih segar dan tanaman-tanaman hijau yang mengelilingi danau ini.

Kita disarankan tidak memakai Fin saat berenang ke dalam danau ini. Pemakaian fin dikhawatirkan akan mengganggu ubur-ubur dan ekosistem lain di dalam sini. Kita puas-puaskan bermain dengan ubur-ubur tidak menyengat ini. Lucuuuuu sekali makhluk ini. tubuhnya yang tipis bergerak kesana-kemari, bahkan ada yang bening lebar selebar piring.. Unsting Jellyfish hanya ada di Pulau Kakaban saja di gugusan pulau ini.
Playing with the jellyfish. Taken by Mas Djuki (Kakaban Trip)
Puas bermain dengan ubur-ubur, kami sempatkan snorkling di spot Barakuda namanya. Spot snorkling dan diving yang dijaga oleh pemerintah karena masih cukup utuh dan benar-benar indah.
bersnorkling ria
Setelah Kakaban, kami meluncur ke Pulau Gusung yang berdekatan dengan Pulau Nabuco. Pulau Gusung kali ini tidak semenarik pulau gusung sebelumnya. Hanya sebentar saja kami mampir ke pulau ini, kami langsung melanjutkan untuk snorkling di Pulau Maratua dan melewatkan hopping island ke Nabuco karena ditutup.

Sore hari kami kembali ke penginapan dan menyempatkan sesi foto dengan anak-anak Maratua yang sedang bermain di Pantai. Sabtu sore itu anak-anak cukup ramai bermain perahu, berlompatan di pantai, berbincang dengan kawan-kawan atau kegiatan yang lainnya.

Maratua boys :)
Malamnya, kami menulusuri hutan untuk berkumpul bersama di Maratua Paradise Resort. Belum ada penerangan di sini, penduduknya saja hanya menggunakan genset untuk listriknya. Di resort kami hanya sekedar berkumpul dengan teman-teman yang lain dan berfoto tentunya :D

Nah, cerita yang cukup kocak terjadi setelah itu. Waktu itu beberapa dari kami ada yang sudah ke penginapan duluan. Saya, mbak Gisca, Pak Abi dan Mas Heri balik berempat dengan penerangan lampu senter HP aja. Pas sampai di gerbang resort, eh..ternyata gerbangnya sudah dikunci. Karena bingung mau bagaimana, akhirnya saya telepon ke Mas Djuki (travel guide kita). Solusinya adalah, kita kudu menulusuri pantai di sana yang posisinya berseberangan dengan gerbang. Karena sudah malas jalan puter arah, kita memutuskan untuk lompat pagar kayu yang kira-kira tingginya 2,5 meter. Ngakak deh setelah kita berhasil lompat pagar.. hahaaa


Minggu, 25 Maret 2012
Peserta Happy Maratua. Taken by Mas Djuki (Kakaban Trip)
Hari ini jadwal kami balik ke kota masing-masing. Sebelum balik kami sempatkan foto bareng dulu. Meeting new people is always interesting. Ayie', Intan, mbak Maria, mbak Shelny, mas Edwin, mas Mike, mas Ray, mbak Sinta dan Bastian, Shandy, Selly, mas Rama, mas Widhi, mas Dimas, mbak Tata, mbak Lydia, mas Adi, mbak Gisca, Mr. Abi, Mas Prana, Mas Joseph, Mbak Melvin, Jeje, Yuli, mas Djuki, Pak Yo, Evin. Sharing soal trip-trip atau yang lainnya.. menyenangkan.
Mrs. Jamal, pemilik rumah yang saya tinggali
Hutan Mangroove Tarakan
Bekantan Jantan. Patungnya aja kok ini :D yang asli gak mau muncul

Sampai di Tarakan, kami mampir ke Hutan Mangroove dulu sambil menunggu jadwal pesawat sore dan kena delay satu jam waktu di Balikpapan ke Surabaya. Kami baru sampai Surabaya sekitar pukul 10 malam dan kembali ke realita kehidupan. Paginya langsung kerja. Work for Fun!!! yeay!

Monday, April 16, 2012

Travel Partner



Kalau basic kita memang sudah senang untuk traveling, pergi sama siapa saja seharusnya tidak jadi masalah. Bahkan tanpa partner sekali pun. Semua tergantung kita, kalau memang bisa mempersiapkan segalanya sendiri, bisa memanage dengan baik perjalanan kita, so far it doesn't matter. Banyak kok solo traveler bertebaran di dunia ini. Mereka memilih melakukan perjalanan sendiri dengan berbagai alasan. Ada yang punya pengalaman tidak enak seperjalanan dengan teman, ada yang males ribet, ada yang memang butuh tantangan, dan alasan lainnya.

Mereka yang memilih traveling bareng juga pasti punya alasan tersendiri. Ada yang bilang, "Pergi sendiri mana serunya??", "Kalo perginya rame-rame kan lebih seru, bahkan bisa lebih murah", "Kalo pergi sendiri gak ada yang motoin donk??" heheee itu beberapa alasan aja. Intinya, traveling bareng partner atau solo traveling itu tetap satu kuncinya. Bisa membaur bareng yang lain. Solo traveling pun menurut saya gak murni sendirian. Pasti di suatu tempat dia akan bertemu dengan orang lain yang mungkin sesama traveler. Akhirnya gak sendirian kan..

Tinggal pilih saja mau traveling bersama teman atau sendiri dan mendapatkan teman baru :)

Thursday, April 12, 2012

Angel & Airwaves The Adventure Final

This is one of my favourite songs for traveling
Besides the lyric, the music is cool!

Check this out

I wanna have the same last dream again,
the one where I wake up and I'm alive.
Just as the four walls close me within,
my eyes are opened up with pure sunlight.
I'm the first to know,
my dearest friends,
even if your hope has burned with time,
anything that's dead shall be re-grown,
and your vicious pain, your warning sign,
you will be fine.

Hey, oh, here I am,
and here we go, life's waiting to begin.

Any type of love - it will be shown,
like every single tree reach for the sky.
If you're gonna fall,
I'll let you know,
that I will pick you up
like you for I,
I felt this thing,
I can't replace.
Where everyone was working for this goal.
Where all the children left without a trace,
only to come back, as pure as gold,
To recite this all.

Hey, oh, here I am,
and here we go, life's waiting to begin.
Tonight,
hey, oh, here I am,
and here we go, life's waiting to begin.
Tonight,
hey, oh, here I am,
and here we go, life's waiting to begin.

I cannot live, I can't breathe
unless you do this with me
I cannot live, I can't breathe
unless you do this with me
I cannot live, I can't breathe
unless you do this with me
I cannot live, I can't breathe
unless you do this with me
I cannot live, I can't breathe
unless you do this with me
I cannot live, I can't breathe
unless you do this with me

Hey, oh, here I am (do this with me),
and here we go, life's waiting to begin (do this with me).
Hey, oh, here I am (do this with me).
And here we go, life's waiting to begin,
life's waiting to begin.

Wednesday, April 11, 2012

Pulang Kerja

Kalo pas pulang kerja, hal yang menyenangkan adalah melihat langit waktu perjalanan pulang. Pas langitnya cerah tentunya. Pulang kerja minimal pukul 5 sore. Pas itu mendekati senja gitu. Langitnya biru dengan bentukan awan yang bermacam-macam. kadang sudah mulai muncul warna orange kemerahan senja matahari. Benar-benar indah. Sayang, susah banget ambil fotonya pas naek motor. Next time bakal saya foto deh kalo pas bawa kamera :)

Hal menyenangkan lainnya di saat pulang kerja adalah rumah. Di rumah bakal ada makanan, at least snack yang bisa dicemil. Suka lapar gak ketulungan sih pas jam-jam itu. Apalagi kalo pas ada orang di rumah.. :)

Pulang kerja juga bakal menyenangkan kalo pas ada janji jalan sama sahabat, teman-teman dekat. Apalagi sudah lama gak jalan bareng.

Waktu pulang kerja dengan kondisi badan yang lelah, pengennya nggerutu.. sudah lemes, macet, lapar. Tiap kali seperti itu bawaannya pengen marah mulu. Terus kalo sudah kayak gitu lihat sekitar, pengendara lain, pekerja lain yang masih di jalanan.. bikin adem ati. Masih banyak yang kurang beruntung dibandingkan saya.
Alhamdulillah

Tuesday, April 3, 2012

Dead Crocodile Beach a.k.a Pantai Bajul Mati dan Goa Cina


Tanggal 25 Februari 2012 yang lalu saya dan teman-teman berencana ke Dataran Tinggi Dieng namun beberapa hari sebelumnya mendadak ada dua orang teman yang ada urusan mendadak, kesempatan untuk pergi juga menjadi sehari sehingga destinasi kami alihkan ke wilayah yang masih relatif dekat. Kami pilihlah Pantai Bajul Mati, pantai yang masih asing namanya bagi kami. Pantai ini berada di Malang Selatan, berdekatan dengan Pantai Sendang Biru, Bale Kambang dan beberapa pantai lainnya. Setelah mencari informasi di dunia maya, tanggal 26 Februari dini hari kami berangkat menuju Malang dari Surabaya. Perjalanan memakan waktu 5 jam jika lancar atau 3 jam dari Malang kota.
Tujuan pertama yang bisa kami capai adalah Goa Cina, Goa ini dikelilingi pantai yang cukup indah. Waktu kami sampai di sana, airnya masih surut jadi masih terlihat hijaunya lumut yang ada di karang. Lembut sekali rasanya menginjakkan kaki di atas sana. Ombak di pantai ini cukup besar, namun masih memungkinkan untuk dipakai berenang sebatas di tepi pantai saja. Setelah cukup puas bermain dan berfoto-foto di sana, kami mencoba masuk ke Goa Cina. Hanya beberapa meter dari pantai tadi. Cukup menarik di dalamnya, batuan khas Goa terlihat mengkilap. Setelah itu kami rehat sejenak, makan di warung di dekat pantai sebelum melanjutkan ke Pantai bajul Mati. Menu yang tersedia hanya bakso, soto dan nasi rames. Minuman khas pantai, Es kelapa muda, juga turut menyegarkan kami siang itu.
Setelah bersih diri dan makan, perjalanan berlanjut ke Bajul Mati. Dari Goa Cina, Bajul mati bisa kami capai dalam waktu setengah jam saja. Di perjalanan, kami melewati Jembatan Bajul Mati. Jembatan dengan struktur gantung yang panjangnya hanya 90 meter dan lebar 15 meter. Kabarnya jembatan ini dibangun dengan biaya puluhan milyar rupiah. Kami berhenti sebentar untuk mengabadikan jembatan ini. Dari jembatan ini, terlihat air laut yang masih hijau dan tumbuhan-tumbuhan yang mengelilinginya. Tebing-tebing juga ikut menghiasi pemandangan tersebut. Benar-benar indah.
Sedikit kecewa waktu sampai di Pantai Bajul Mati karena momen kami datang kurang tepat. Waktu itu pukul 11.30 WIB. Matahari sedang terik. Kami tidak bisa bebas berfoto dan berkeliling pantai saking panasnya pasir yang kami injak, meskipun sudah memakai alas kaki. Pantai ini dinamakan Bajul Mati karena terdapat batuan besar yang berjajar di pantai dengan bentuk yang menyerupai buaya yang mati. Diam tidak bergerak. Waktu di sana banyak kami habiskan dengan bersantai di dudukan dari bambu di  bawah pohon rindang sambil menikmati pemandangan pantai dan semilir angin yang cukup sejuk. 
Agak sore, kami beranjak pulang ke Surabaya. Kami mampir ke Kota Malang sebentar menikmati kuliner kota Malang. Kami makan di Spesial Sambal Jl. Ciliwung yang menyediakan berbagai makanan dengan sambalnya gak kira-kira pedesnya. Lalu mampir sebentar ke Burger Buto, burger dengan ukuran jumbo. Mantab!
Sekilas tulisan saya tentang pantai ini bisa dibaca di sini juga :) >>> http://travel.detik.com/read/2012/02/28/121943/1853360/1025/bajul-mati-sisi-lain-keindahan-kota-malang

Ini foto-foto kami waktu di sana
Pantai Goa Cina
Running Man :D
Lompaaaaattt :D
Three Musketeer
Pukul 5:56 waktu di jalan menuju Goa Cina
Left to the Right. Made, Kobe, Winda, Mehdia, Kiki, Ichan at Goa Cina Beach
Di dalam Goa Cina
Bajul Mati Beach
Nyantai di Bawah pohon Kelapa Bajul Mati
Telaga di bawah Jembatan Bajul Mati. Indah banget
Bajul Ijo boys pose on Bajul Mati Bridge :D