Saturday, May 31, 2014

Busy in My little World

I'm pregnant.
11weeks pregnancy.

and I'm busy dealing with all of my changes.

Jadwal saya kacau. Jam aktif saya berubah. Jam tidur saya berubah. Badan saya juga mulai berubah :)

Perubahan ini sempat membuat saya stress. Pasalnya, tugas kuliah seringkali terbengkalai, seringkali bolos kuliah, kerjaan tertunda, efeknya jadi kemana-mana.

Yang biasanya bisa ngerjain apa pun hingga lembur tengah malam, sekarang gak berkutik kalo perut sudah mulai bergejolak dan pusing tidak terprediksi.
Yang biasanya bisa ngerjain subuh, sekarang gak mampu ngangkat badan karena gejala morning sick.
Yang biasanya bisa kemana-mana sendiri dengan motor, sedikit ngebut, grasak-grusuk kemana-mana..sekarang gak keluar kalo gak penting-penting banget, gak naek motor sendiri kalo suami bisa nganterin, gak kebut-kebutan :D, gak selincah dulu geraknya, gak sesehat dan selama dulu kalo beraktivitas.
Sekarang saya gampang capek, gampang lapar dan nangisan. Iya, nangisan.
Apa ini bawaan sensitif ibu hamil? I dont know..
yang jelas, hampir tiap tengah malam saya terbangun sambil nangis saking sakitnya badan saya. Terutama di daerah perut, rahim dan punggung. Tulangnya berasa lepas dari persendian.
Agak lebay sih..tapi memang kayak gitu yang saya rasakan.
Kalo sudah pusing, mual, saya cuma bisa tergeletak di kasur atau di lantai..gak bisa ngapa-ngapain.
Saya masih belum bisa membagi waktu dengan baik antara tugas, kerjaan dan kewajiban saya sebagai istri.

Tapi, disamping kegerahan itu semua, saya makin bersyukur. Sangat bersyukur dengan kondisi saya saat ini. Allah sudah ngasi kepercayaan pada saya untuk membawa janin ini. Membesarkannya.
Suami saya perhatiannya gak habis-habis. Benar-benar suami siaga. Sepanjang malam kalo saya merintih, mas Adi yang gosokin punggung, perut, mijitin, nyiapin minuman hangat, bahkan nyiapin makan buat saya. Tiap hari.

Saya malu, sebagai istri bukannya melayani suaminya malah dilayani suami. Maaf ya Mas..
Suami saya pasti capek ngeladenin istrinya yang kayak gini, tapi dia tetep ngasi perhatian yang lebih buat saya. Alhamdulillah..

Karena sibuk dengan perubahan ini, saya kurang bisa berkontak ria dengan teman-teman dan yang lain. Saya sibuk dengan dunia kecil saya..

Cukup banyak yang saya dapat dari beberapa bulan pernikahan ini. Saya masih harus banyak belajar menjadi istri yang baik, belajar untuk jadi ibu yang baik..

Thank you Allah for letting me through this process.

Friday, March 14, 2014

Catatan Pertama Istri Selebor

Malam ini, tiba-tiba saya mulai merasakan bahwa berumah tangga tidak semudah yang kita bayangkan. Ketika kita harus rela berhemat, really berhemat untuk menekan pengeluaran demi keberlangsungan hidup berdua, tabungan dan cicilan rumah. Rela memangkas waktu senang-senang kita saat masih single, rela memutuskan sesuatu yang sebenarnya kita berat untuk lakukan dan sederet kerelaan lainnya yang mungkin belum saya alami.

Yang biasanya pergi kemana-mana tanpa ijin, menclok sana-sini, kali ini harus ijin dulu ke suami. Yang biasanya bisa jajan apa aja sesuka hati, kali ini harus merhatiin jajanan yang dibeli, dimakan dan merhatiin sisa duit di dompet. Yang biasanya makan-gak makan gak ada yang ngurusin dan gak ngurusin siapa-siapa selain diri sendiri, sekarang harus ngurusin suami makan apa pagi ini, siang nanti, malam nanti. Yang biasanya nyuci baju sendiri, gak tau kapan mau disetrika, sekarang harus nyuci baju suami sekaligus nyetrika double. Yang biasanya berkelakuan seenaknya, kali ini kudu jaga sikap, jaga tingkah laku di depan suami, orang tua, mertua, teman, bahkan orang-orang yang gak dikenal sekalipun. Dan masih banyak yang diluar kebiasaan saat kita masih single.

Sounds tiring, huh? Terdengar melelahkan kah?

Tidak. Kalo kita enjoy dengan semua ini.
Sudah saya camkan di dalam benak dan pikiran saya dari dulu bahwa
“Marriage is all about compromising”

Pernikahan itu tentang kompromi. Gak ada lagi kata aku maunya gini, gitu. Coret kata aku dan ganti dengan “kita”.

Gak munafik, ada lah perasaan lelah dan kaget di awal pernikahan. Tidak jarang ekspektasi yang kita harapkan dan bayangkan sebelum menikah tidak sama dengan realita yang kita dapat. Tapi memang hidup gak semulus yang kita bayangkan dan kita rencanakan, kan? Buat apa dipikirkan.
The right thing we should do is do the best we can do for our future. Kerja lebih keras, meningkatkan kadar kesabaran, toleransi tingkat tinggi dan refreshing sesekali biar gak stress.

Bismillah ya Allah, aku mohon ridhomu untuk rumah tanggaku. Buat saya lebih teguh memulai rumah tangga yang masih berumur satu bulan ini ya Allah..


Thursday, March 13, 2014

Destination: Get Married [Mission Complete]

Dua tahun yang lalu, saya punya resolusi besar. Nikah di tahun 2013!
Jangan asal bikin resolusi kalo gak ada target. Kalo bilang target, berarti kita ada motivasi untuk memenuhi target tersebut.

So did I

Satu cerita of the year tahun ini adalah saya merit!
Well, meleset satu tahun dari target sih..
tapiiii keinginan tersebut sudah terpenuhi di dua bulan lalu, 31 Januari, 2014 tepatnya. Allah selalu punya rencana besar. Siapapun yang berdoa dan meminta kepadaNya pasti akan dijawab doanya. Entah itu secara langsung dalam waktu dekat atau ditunda hingga tepat waktunya, atau bisa saja diberi jawaban yang tidak terduga. Seperti doa saya untuk menikah ini, baru diberikan setahun setelah setahun saya benar-benar meminta. Bisa jadi Allah tidak mengabulkan doa saya tersebut sesaat setelah saya berdoa karena Allah punya banyak rencana untuk saya..
Tahun 2013 kemarin adalah tahun titik balik perubahan hidup saya.

Ada yang bilang jika kita menginginkan sesuatu, pantaskan diri terlebih dahulu. Apakah kita sudah cukup pantas mendapatkan sesuatu tersebut dengan ibadah kita yang pas-pasan, sering lupa sodaqoh, bagaimana perilaku kita ke orang tua, saudara, dan orang lain?
Seperti halnya mencari suami atau pasangan yang baik, soleh-solehah, sabar dan lain sebagainya. Tanyakan terlebih dahulu pada diri kita, sudah cukup pantaskah kita mendapatkan orang seperti impian kita tersebut?
Hal itu yang ada di benak saya setahun kemarin. I less travel to get closer to my families and friends. To get closer to God. I ask to God anything I want to.. and "Pasrah"

and fix my relationship with the others. The Men.
*deep inhale-exhale*

Salah satu list destinasi perjalanan saya adalah pelaminan :)
Ternyata untuk sampai di destinasi ini cukup melelahkan dari perjalanan lainnya.

Setelah menunggu, mencari, meyakini sebuah doa.. akhirnya saya menikah.
Setelah rempong ngurus ke RT-RW-Kelurahan-KUA, ngurus kostum nikah dan keluarga, makanan untuk tamu, tenda-kursi dan tetek bengek lainnya.. finally.. January, 31st 2014..I got married.
Sampai sekarang masih sering gak percaya loh that I'm married.

Proses pernikahan saya dan suami yang begitu cepat membuat segalanya terlihat instant.
Percayalah, bahwa di dunia ini tidak ada yang benar-benar instant selain mie instant (well, mie instant pun juga harus direbus dulu)

Pernikahan saya ini membuat heboh teman-teman dan keluarga. Pasalnya sudah lama saya gak ada kabar di dunia maya lalu mendadak muncul dengan berita saya nikah.

His name is Alauddin Adiwijaya.
Cerita pertemuan saya dan suami (mm..harus terbiasa dengan panggilan ini ya :D) berawal dari dua tahun lalu di sebuah depot masakan timur tengah. Depot Ampel namanya.
Saat itu ayah saya mengajak kami sekeluarga untuk makan bersama di depot temannya. Nah..secara kebetulan, pemilik depot tersebut punya anak laki-laki yang "available". And that was my first time see him. Cuma saling lihat aja sih dari jauh.

Ayah kembali iseng menjodohkan putrinya dan putra temannya. Saya yang masih enjoy dengan hidup saya sendiri ogah nikah dalam waktu dekat. Begitu pula suami saya saat itu juga belum siap menikahi anak orang. Kami mulai saling kontak awal Januari 2012 saat tulisan dan tampang saya muncul di sebuah surat kabar tentang cerita perjalanan saya dan teman-teman. Kami pun sepakat untuk berteman dulu. Hingga mendekati pertengahan 2013, kami kembali berkomunikasi kembali yang pada akhirnya muncul keputusan untuk berteman saja (lagi).

Beberapa bulan setelah itu saya pun sempat dekat dengan yang lain. Proses ikhtiar untuk menemukan jodoh tidak berhenti di situ. Baik saya, ayah, ibu tidak berhenti beristikharah untuk meminta yang terbaik. Untuk hidupku, untuk imanku, untuk ibadahku.

Tidak ketinggalan kakak-kakak dan adek-adek saya juga ikut ikhtiar :)
I'm blessed to have them. Alhamdulillah

Hingga pada akhirnya saya berhubungan kembali dengan suami di bulan November 2013. Saat itu hanya sekedar menyambung silaturrahim saja. Tidak ada kontak secara intens dan sebagainya seperti orang PDKT atau pacaran. Cuma sebatas ngobrol soal kerjaan dan tontonan. Hmm..anyway..selama November dan Desember itu saya bertemu langsung dengan suami selama 3x dan bertemu keempat kalinya di akhir Desember. Pertemuan terakhir itu khusus membicarakan keseriusan masing-masing untuk berhubungan serius. And He proposed me..
"Kalo gitu, gak usah pacar-pacaran ya? langsung nikah aja gimana?"

And yes..I answer him.

Iya..iya..dan iya..
Tanpa ragu sedikitpun.

Beberapa hari kemudian suami saya menemui orang tua saya dan dalam minggu yang sama pula orang tua dan beberapa saudaranya datang ke rumah untuk ijin "meminta" saya sekaligus menentukan tanggal pernikahan.

Di bulan yang sama pula saya akhirnya menikah.

Se-gak ribetnya keluarga saya dalam urusan pernikahan, tetep aja heboh kalo anaknya bakal nikah gak sampai sebulan lagi..
Di masa persiapan itu saya baru benar-benar intens kontak dengan suami.
Dan di beberapa minggu itu saya stand by bareng ibu. Sometimes I wonder gimana jadinya nanti saya benar-benar pisah sama ibu.. gimana ibu nanti waktu gak ada saya..
But this is a process.. a life cycle. Kapan pun itu, sang anak pasti berpisah dengan sang induk.

I'm sooooooo thankful with every single thing mom did, what dad, brothers-sisters did for me.
Terharu rasanya.. apalagi mengingat surat-surat yang mereka berikan saat hari pernikahan saya.

Well, this is me now..as a someone's wife.
I will give all my life for him.
Alhamdulillah.. Proses pacaran kami jalani setelah kami halal 
And The more I know him, The more I love him.
Saya gak tau rumah tangga kami nanti seperti apa, tapi saya yakin apapun itu..bagaimanapun itu, we can pass it together. Happy or sad, I'll be love him.

Dan dengan ini, satu destinasi dalam list saya tercentang :D

Sunday, December 15, 2013

Caraku Beda, Sir..

Kemarin pada saat saya ngawasi proyek, sambil duduk ngerjakan tugas saya sesekali ngecek kerjaan tukang. Kebetulan lokasinya di area Taman Apsari. Saya duduk di salah satu kedai yang tutup di siang hari, sehingga saya leluasa untuk membaca dan menulis dengan laptop saya. Pagi itu saya ditemani teman saya sekaligus owner. Saya ngobrol sambil nulis. Tiba-tiba datang seorang polisi yang kebetulan lagi patroli di daerah situ, (di mata saya) gayanya terlihat petentang-petenteng sok ke para tukang saya.
Saya cuma mengawasi dari jauh sambil menggerutu, "ngapain lagi nih polisi pake tanya-tanya.."
pikiran suudzon sudah terlintas, pengalaman dari proyek2 yang saya temui, gak jarang pihak berwajib minta "sesuatu" demi kelancaran proyek itu. Alhamdulillah saya belum pernah mengalami, cuma cerita dari teman saja, boleh dipercaya boleh tidak.

Tiba-tiba polisi tersebut datang ke arah saya, duduk di depan saya dan teman saya. Tanya-tanya soal mau dibuka apa, dan bla-bla-bla. Well..because i dont really respect him, I just listen what he said and still continue finishing my paper. Saya sedikit mendongak melihatnya ketika ia berbicara soal kerjaan. He gave us tips to do a bussiness..okay, he got my attention..
Saya jadi sedikit respect ketika ia bercerita soal usaha kecilnya juga disamping pekerjaan polisinya. Bisnis kecil di rumah katanya, sepatu. Reseller kecil.

Sambil dengerin, saya lanjutin nulis (tanpa permisi padanya dulu..karena males dan faktor deadline)
Kemudian teman saya tanya, "Bapak rumahnya mana?"

"Ketintang Mbak"

"Oh, Aspol (asrama polisi), Pak?" sahut saya.

Dia cuma ngangguk aja. Lalu saya berasumsi, dengan usianya yang masih 25 tahun (beliau sempat menyebutkan usia saat cerita ngalor-ngidul), berpatroli di jalan, tinggal di aspol ketintang, berarti kalo gak tinggal di rumah orang tuanya yang juga polisi ya memang dia memang sudah dapat jatah di sana. Isenglah saya tanya, "Orang tua polisi, pak? Kok di aspol"
Gotcha! tebakan saya benar. Masih tinggal sama orang tua. Eits..ada cincin melingkar di jarinya. Sudah merit?

Kemudian teman saya pergi, tinggal saya dan polisi ini. Diam beberapa lama dan saya mulai basa-basi yang berlanjut makan ati.

"Kok sendiri aja, Pak? Biasanya berdua kalo patroli."

"Iya mbak, teman saya masih ke warkop. Mbaknya kuliah?"

"Saya kerja pak, sambil ngelanjutin S2"

"bidang apa mbak?"

"Arsitektur" masih sambil nulis

"Oh, kerjanya dimana mbak?"

"Kerja sendiri pak, freelance aja sih. Ndisain sama pelaksanaannya. Lebih ke interior."

"oh, berarti ngurusin tukang juga ya?"

"iya, ada workshop furniturenya pak."

"Orang tua kerja apa mbak?"

"Dosen."

"Berarti masih dimodalin orang tua ya?"

"Enggak pak, untuk usaha saya sendiri sepenuhnya. Saya masih mampu, gak mau pinjam atau minta orang tua"

"Lho, salah sampeyan mbak. Harusnya kalo orang tua masih mampu ndukung dana, mbaknya minta aja terus, sampe usahanya lancar, orang tua mulai lepas dan baru sampeyan pegang kendali sepenuhnya. Prinsipnya orang Cina gitu mbak. Kalo punya usaha, anaknya dimodalin penuh. Apapun didukung dan disuruh megang usaha orang tuanya. Kalo anaknya sudah bisa jalankan, orang tuanya lepas tangan dan usahanya diserahin ke anaknya. Wah, salah langkah mbak."

Saya cuma nyengir aja dengerin, sambil nambahin, "Kalo saya sih memang gak ada niatan minta, Pak. Mau mulai dari nol. Dan orang tua memang gak pernah menyuruh anaknya nerusin usahanya (seandainya ada), meskipun orang tua masih mampu dan mau biayain dan modalin"

Sorry, citranya semakin negatif di depan saya. Saya jadi gak habis pikir, sebenarnya mental pak polisi ini piye sih? Kok seneng banget minta orang tua. Saya jadi subyektif mikir bapak ini punya mental peminta.

Bukan maksud saya menyalahkan cara seperti itu, tapi saya punya prinsip beda. Selama saya mampu untuk membiayai hidup saya dan mengurus usaha saya sendiri, I wont let my parents take over. Tapi selama ini meskipun saya ngurus apa-apa sendiri, saya masih sering sharing soal kerjaan dan lainnya ke ayah-ibu. Kalo sudah benar-benar kepepet saya pinjam. Pinjam ya, bukan minta. Itupun baru sekali saat usaha saya tidak menunjukkan perkembangan, tabungan saya nipis dan saya mulai bangkit lagi. Setelah itu saya kembalikan sesuai janji. Itu yang diajarkan juga oleh Ayah saya. Kami dilatih untuk punya tanggung jawab, apalagi soal duit. Pinjam berapa, untuk apa, kapan dikembalikan. Harus jelas! biar punya deadline dan rasa tanggung jawab tinggi.

Well, this is my way to get survive..whats yours?

Wednesday, November 6, 2013

A (little) Happiness for The Blinds

Tahun baru hijriyah 05 November kemarin menjadi hari bersejarah lagi untuk saya dan keluarga.
Kami memperingatinya dengan cara berbeda. Tanggal merah yang berbeda karena di hari libur itu kami memperingatinya bersama sebagian tunanetra di Jawa Timur untuk PTSB (Pendalaman Terapi Shalat Bahagia) bersama Kun Yaquta Foundation.
A (little) happiness for The Blinds
Hand in hand
Pagi itu hari saya dibuka dengan telepon seorang relawan yang bersedia menjemput para tunanetra di meeting point Bungurasih. "Mbak, saya sudah di Bungurasih, saya harus nunggu di mana?"
Wow, itu masih setengah 6 kurang. Saya baru selesai mandi. Pukul setengah enam tepat saya berada di pintu keluar terminal luar kota. Beberapa menit kemudian, para relawan yang ikut menjemput sudah lengkap. Total ada 5 mobil yang bersedia menjemput 24 tunanetra dari luar kota Surabaya yang ada di meeting point Terminal Purabaya (a.k.a. Bungurasih). Salut banget sama mereka semua yang datang on time, merelakan waktu dan tenaga mereka untuk para tunanetra. Waktu itu saya yang sendirian mengkoordinir para tunanetra, dibantu oleh salah satu relawan untuk mencari satu persatu mereka yang berpencar, menggiring mereka ke mobil dan memastikan mereka semua terangkut hingga ke lokasi acara.

Tidak ada rasa malu dan lelah ketika mencari mereka ke sana kemari, menelepon masing-masing dari mereka dan menuntun mereka. Saya seperti diberi kekuatan untuk menolong mereka meskipun orang-orang melihat kami dengan heran. Ada bapak kondektur yang menolong saya mencari mereka. Alhamdulillah sekali banyak yang membantu dan dipermudah oleh Allah.

Setelah hampir satu setengah jam berputar-putar dan menunggu para tunanetra, saya kembali pulang dan bersiap-siap ke lokasi acara.

Ketika saya datang, acara sudah mulai. Setelah mengobservasi sebentar, saya melihat jumlah relawan yang membantu kelancaran acara ini banyak sekali. Saya melihat ketulusan mereka, benar-benar tulus. Saya tahu sebagian dari mereka latar belakangnya adalah orang-orang mampu yang (mungkin) hartanya sudah berlimpah. Dan hari itu saya melihat bagaimana mereka sangat telaten menggiring para tunanetra ke sana kemari untuk berwudlu, membantu membetulkan gerakan shalat mereka, mencarikan sandal hingga memakaikan di kaki mereka. Saya terharu melihatnya.
shalat bersama dengan penuh renungan
Faisal, peserta termuda. Gak pernah gak senyum :D
Mata saya berkaca-kaca mengingat itu semua. Melihat para tunanetra tersebut seperti berkaca untuk nikmat yang sudah diberikan Allah. Bahwa saya sudah diberi banyak kenikmatan olehNya. Terlebih lagi saat proses pendalaman shalat yang penuh haru, tidak ada perbedaan di antara kita. Posisi kita semua sama di hadapan Allah.
Terharu
Senang sekali bisa mengalami peristiwa tersebut. Tidak ada keluhan sama sekali dari para volunteer. Bahkan mereka berterima kasih kepada kami karena diberi kesempatan berbagi. Mengharukan.
Masih banyak kekurangan dari kami atas acara tersebut, karena baru pertama kali itu kami mengadakan acara yang berbeda. Tapi dengan itu, kami belajar banyak untuk memperbaiki diri.
Sandal mereka yang pada akhirnya menjadi peristiwa heboh untuk mencarinya
Dear, blinds..Thank you for inspiring us, for reminding us that we have sooo many things to be thanked.
Dear, volunteers..Thank you for the great help. We are speechless to say thanks to you..
Mungkin dengan berbagi sedikit kebahagiaan ini bisa menjadikan kami dan mereka bahagia dunia dan akhirat.

May Allah bless you All

Sunday, October 27, 2013

Maka, Nikmat yang Manakah yang Kau Dustakan?

Untuk kesekian kalinya, saya kembali mendengarkan peliknya masalah seseorang.
Malam itu, 22:30 03 September 2013, saya berada di dalam kamar saya mengerjakan sesuatu sambil tidak sengaja mendengarkan sharing seseorang kepada ayah. Bukan sekali, dua kali, tapi berkali-kali. Ada yang datang karena anaknya terkena narkoba, ada yang cerita tentang ego suaminya, tentang perselingkuhan, tentang perselisihan dengan saudara, bahkan masalah kejelasan gender. Hanya mendengarkan saja, tanpa melihat siapa yang bercerita. Kamar saya di lantai 2, sedangkan ruang tamu di lantai 1. Kedua ruangan ini berjarak kurang lebih 10 m, 4 meter menuju tangga, 3 meter naik tangga dan 3 meter dari tangga. Rambatan suara dengan bebas sampai di kamar saya karena batasan dindingnya hanya satu, selebihnya hanya udara dan partisi yang tidak solid. Dari ngobrol biasa hingga menangis, saya mendengarnya.

Masalah rumah tangga yang mendesak diceritakan oleh pemiliknya kali ini adalah rasa insecure seorang suami atas istrinya. Lebih dari 10 tahun menikah, 3 kali berhubungan badan (yang katanya 3 kali tersebut bukan karena kemauannya, tapi diperkosa sang istri), mengalami pukulan dan siksaan lainnya oleh istri, sering ditinggal istri lebih dari seminggu, kekayaan suami dikuasai istri serta suami diperlakukan seperti pembantunya. Sang suami mengaku telah diperdaya istri selama menikah dan baru menyadarinya pada tahun 2011. Bapak tersebut juga mengeluh kesakitan setiap kali berada di rumah dan merasa sehat setiap kali keluar (jelas ini karena faktor psikologis). Saya tidak begitu menyimak setelahnya dan memutuskan menulis ini setelah berpikir beberapa waktu kala mendengarkannya. Saya tiba-tiba diingatkan beberapa hal. Yang pertama, how amazing my father yang selalu bersedia kapan saja mendengarkan siapa pun! Kapan pun, orang yang meminta waktunya untuk sharing dan nasehat. Tidak sekali ini di malam hari bahkan di tengah malam, tiba-tiba orang datang dan bercerita. Secapek-capeknya beliau, beliau selalu menanggapi dengan baik. I know sometimes my dad didn't sleep at all in a day for working. Bikin saya bilang, “Kamu masih mau ngeluh meh??” 

Hal lain yang membuat saya bersyukur adalah alhamdulillah saya tidak punya masalah yang seberat masalah mereka. Semoga mereka diberi ketabahan lebih dan menjalani yang terbaik yang diberi Allah. Saya cuma bisa mendoakan saja.

"Fabiayyi aalaaa irobbikumaa tukadzibaaan"
Maka, kenikmatan apalagi yang kau dustakan

31 dari 78 ayat surat Ar-Rahman (55) tersebut kembali terngiang.
Bersyukurlah, sudah banyak nikmat yang diberikan Allah kepada kita.

Saturday, October 19, 2013

Trip to Singapore (again) with Garuda Indonesia, Why Not?

I've travel to many places and I never have a comfort flight as comfort as I flight with Garuda Indonesia. Pengalaman tersebut saya rasakan pada saat melakukan perjalanan ke Hongkong pada 2012 yang merupakan pengalaman pertama saya terbang bersama Garuda Indonesia. Sangat layak jika Garuda Indonesia terpilih menjadi maskapai terbaik region Asia dan Australasia 2013 karena pelayanan dan fasilitasnya belum ada yang menandingi.

Saya gak mungkin menolak jika ada kesempatan terbang dengan Garuda lagi meskipun tujuan destinasinya sudah pernah saya datangi, ke Singapura misalnya. Saya membayangkan jika ke Singapura dengan Garuda Indonesia, perjalanan selama 3 jam tersebut tidak akan jenuh. Gak bakal ada mati gaya kayaknya.. Duduk manis sambil nonton film bisa, cuma dengerin musik bisa, ditemani pramugari yang ramah-ramah pula..

Saya selalu yakin bahwa selalu ada cerita di setiap perjalanan. Perjalanan ke Singapura sebelumnya saya lakukan bersama teman-teman dan para bos dari kantor terakhir tempat saya bekerja, awal tahun lalu memang tidak terlupakan, kami yang memang berlatar belakang pendidikan Arsitektur memang bertujuan ke sana untuk liburan sekaligus menikmati arsitektur di sana yang selama ini hanya kami saksikan dari buku dan internet saja. Berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain dengan MRT (Mass Rapid Transportation). Menggunakan MRT untuk pertama kalinya membuat kami terheran-heran dengan sistem transportasi modern ini :D
And We are glad to know that Indonesia will use the same system of transportation like Singapore in the next few years.
Jalan-jalan di Orchard Road
Sambil menikmati sistem transportasi tersebut, kami sempatkan mengunjungi Sentosa Island dengan berbagai wahananya yang menarik, sayangnya kami tidak bisa mencoba semua wahananya karena kami memang bepergian dengan low budget (maklum, backpacker) :D Satu wahana yang benar-benar ingin saya coba adalah I-fly.. Hope someday I have a chance to try it.
Beberapa hari di sana kami habiskan dengan berjalan, berjalan..dan berjalan menyusuri kota untuk menikmati Arsitektur dan kulinernya. Tiring yet fun..
Joo Chiat Road, tempat kami menginap
Jalan ke Henderson Waves, naik dulu ke bukit loh.. hosh!
Maen bareng di Sentosa Island
Gak afdol kalo ke Singapore gak foto bareng merlion :D
Meskipun waktu dan budget kami terbatas, kami tetap enjoy dengan perjalanan kami tersebut (ya iyalah Meh..ke sana gratisan aja kok rewel). Kalau misalnya saya dapat kesempatan ke sana lagi, saya pengen menikmati tempat-tempat lain yang belum saya kunjungi. Universal Studio, museum-museumnya yang keren, Singapore zoo, dan masih banyak lagi. Pasti bisa ke sana lagi, Amiiiinn...

I've been dreaming to go abroad for study, and one of places in my list is Singapore. Saya ingin mempelajari tata kotanya. Bagaimana cara negara yang luasnya hampir sama dengan Surabaya ini bisa terlihat lebih maju dari Surabaya. They must be have a very good thought in urban planning. When I go travel, I always try to know more about the place where I stay, especially its architecture. Not only go travel to refresh my mind, but also learn the culture, the architecture, the people and also enjoy the food :D

I call it, "A new way to traveling"