Wednesday, May 22, 2013

Nguleg Rujak Bareng Bencong

Tjiiinn..beberapa minggu lalu eike habis pesta rujak uleg bareng temen-temen eike tjiiinn..
Huuuuuh..rame banget! jalan aja jadi rempong! Tapi eike puas loh bisa incip-incip banyak rujak gak pake bayar alias geretong..hihii :*
Nih, eike tunjukin foto bareng bencong di stand temen eike. Nama standnya, Asolole.
Setelah diliat-liat, lengan mereka segede uleg-uleg yang mereka pegang ya :D
*ngomong gaya gini bikin lidah capek ya..*

Tanggal 13 Mei lalu di Surabaya memang baru saja dihelat Festival Rujak Uleg, salah satu rangkaian acara yang meramaikan ulang tahun Surabaya di bulan ini yang ke-720. Tahun ini, sudah tujuh kali diadakan. Terhitung sejak 2007 dimulainya. Isinya ya apalagi kalau bukan menguleg rujak.
Oh, Man! pesertanya buanyaaak. Kabarnya 1200an lebih jumlahnya yang terdiri dari banyak tim. Satu tim berisi 5 orang peserta dari instansi atau kampung di Surabaya. Ibu Walikota dan timnya juga ikut terlibat jadi peserta sebagai peserta kehormatan bersama para dubes dan undangan lain.
Para Finalis goyang di depan panggung dengan berbagai kostum yang atraktif
Festival yang diadakan di sepanjang Jl. Kembang Jepun, atau dikenal dengan Kya-Kya ini menarik ribuan pengunjung. Selain embel-embel gratisan, yang membuat lebih menarik adalah para pesertanya yang diwajibkan mengenakan kostum se-atraktif mungkin. Mereka menguleg rujak bersama-sama. Ada momen di saat mereka menguleg sambil berjoget diiringi musik yang diputar oleh panitia. Ada satu porsi yang wajib diserahkan ke dewan juri untuk dinilai, sisanya dibagikan ke pengunjung. Heboh!
Topi dan isi rujaknya sama
Rujak Java Paragon, enak.
Nguleg sambil goyang
Totalitas make up loh..
Srikandi penguleg rujak
 Saya dan teman-teman sempat mencoba beberapa rujak milik beberapa stand peserta. Emm..rasanya ada yang biasa saja, ada yang petisnya benar-benar terasa, ada yang terlalu besar mengiris cingurnya. Macam-macam deh..
Buat ajang kumpul bareng, seseruan bareng teman dan keluarga sangat cocok nih! Apalagi pas lapar :D
Para pengunjung rela antri demi rujak
Bahkan anak-anak pun ikutan nyoba

Monday, May 20, 2013

Bon Appetit! Jujugan Favorit setelah Shalat

Selamat Makan!! adalah arti dari Bon Appetit. Dari namanya saja sudah terlihat bahwa kedai yang menggunakan nama ini adalah kedai dengan menu masakan Italy. Benar saja, ketika saya mencoba masuk ke dalam, menu mereka didominasi pasta, schotel, sphagetti dan kawannya.
Di jalanan ini gak pernah sepi orang. Kalau berniat makan, sebaiknya dari awal sudah ambil jalan di pinggir
Berbeda dengan kedai-kedai di sebelahnya yang menjual makanan khas Arab seperti kebab, sawarma, nasi ayam, roti gandum atau broasted chicken yang sudah cukup umum. Bon Appetit terlihat berbeda dengan konsep kedainya yang mengusung model fast food tapi di pinggir jalan. Tidak begitu besar dan tidak begitu banyak menunya. Harganya juga sebanding dengan makanan yang disajikan. Enak, pas dan tidak terlalu mahal.

Hari pertama saya di Mekah, sepulang sholat dari Masjidil Haraam, saya sempatkan berputar ke sekitar masjid dan tempat inap untuk melihat apa saja yang ada di sana. Memang ya..dasar gak bisa diam saat bepergian, bawaanya pengen jalan terus. We have to observe the neighborhood, right? Selain untuk menghafal jalan, kita juga akan menemukan hal yang mungkin tidak semua orang menyadari keberadaannya.
Salah satu kedai penjual minuman di sekitar Masjidil Haraam. Hati-hati minuman jusnya penuh pewarna. I've prove it. 3 Riyal yang menyegarkan tapi tidak terjamin kesehatannya.
Broasted Chicken, selalu ramai pengunjung
13 Riyal isinya ini. Yang paling khas adalah Tum, saus bawang putih.
Kemanapun, urusan makan adalah nomor 1. Pertama yang saya cari di sana adalah kulinernya. Deretan toko di kanan-kiri jalan sekitar Masjid saya susuri pelan-pelan. Saya lihat satu persatu apa yang mereka jual. Mendadak saya berhenti dan melihat toko bercat merah dengan papan menu yang menunjukkan harga makanannya. Hmm..jauh lebih mahal dibandingkan sebelah-sebelahnya. Setelah beberapa kali lewat, saya bandingkan dengan toko yang lain. Porsi mereka memang berbeda, rasanya juga berbeda setelah saya mencoba membeli makanan dari satu kedai ke kedai lainnya.. (maruk!) :D

Well, karena saat itu saya sedang menghindari semua makanan yang mengandung minyak dan santan, saya lebih sering membeli makanan di luar tempat inap. Bukan karena rewel atau apa pun, saat itu saya sedang batuk berat yang sudah hinggap lebih dari 2 minggu. Saya pengen sembuh dan lebih khusyu' sholatnya. Waktu itu saya iseng masuk ke Bon Appetit dan melihat beberapa masakannya. Ada macaroni schotel bhoookkk.. langsung saya beli deh. Seporsi 7 riyal yang isinya sebesar stereofoam burger. Mereka menyebutnya bukan macaroni schotel ternyata. Saya lupa namanya, hingga waktu ke kasir tersendat-sendat ejaannya. Ah, sudahlah.. yang penting cukup mengenyangkan! dan deliciousoooo! dagingnya, makaroninya, bumbunya.. yang kurang cuma satu, saos tomatnya gak ada. Beli lah saya ke toko kelontong di pasar tradisional, cuma 1 real aja kok sebotol.
Hot Dog
Bon Appetit waktu subuh
Esok harinya, waktu subuh, Bon Appetit buka dengan konsep yang berbeda. kedai ini tidak bisa dimasuki, karena mereka menaruh etalase dan display menu tepat di depan pintu. Makanan yang dijual disesuaikan dengan waktu mereka buka. Tiap subuh atau pagi mereka menjual hot dog dengan isi sosis, mayonaise, daging giling, bumbu rempah, bawang bombay dan french fries. Rotinya juga hand made yang masih hangat dan empuk. Nyam..Nyamm...enak!
Selain itu mereka menjual hot coffee and tea, serta roti lebar semacam roti maryam yang bisa diisi dengan isi hot dog tadi. Semacam kebab tapi empuk. Menu sarapan ini harganya 3 real.
So Yummy!
Isi sosis, daging giling, mayoneise, french fries..ya allahhhh..wenak
Hampir tiap pulang sholat subuh saya membeli menu tersebut. Bahkan kadang saya membeli dua porsi, satu untuk langsung dimakan di tempat dan satu take away. :D
Bon Appetit!!

Sunday, May 19, 2013

Bercucuran Keringat karena Kare Rajungan

Pedas tapi nagih!
Itu sensasi yang saya rasakan ketika menikmati kare rajungan di siang hari. Bumbu kare di warung yang saya makan siang itu memang cukup membuat lidah panas dan keringat mengucur. Ditambah dengan kondisi cuaca Surabaya yang terkenal panas.
This is it! Rajungan berbumbu kare yang lezat.
Belum banyak warung atau restoran di Surabaya yang punya menu ini karena masakan olahan rajungan kebanyakan tersedia di kota-kota yang berdeketan dengan pantai. Di Tuban misalnya, kota yang terkenal hasil lautnya. Selama ini yang banyak dinikmati masyarakat umum adalah kepiting karena masih banyak masyarakat yang belum tahu mengenai rajungan. Rajungan masih satu spesies dengan kepiting. Penampilannya juga hampir sama. Tapi jika ditelaah dengan baik, ada perbedaan dari mereka. Serupa tapi tak sama. 
Rajungan punya cangkang lebih tipis dibandingkan kepiting. Selain itu, ada satu pasang kakinya yang berujung melebar seperti sirip. Kaki tersebut memang digunakan rajungan untuk berenang karena rajungan hanya hidup di air dan tidak mampu berlama-lama di daratan layaknya ikan. Berbeda dengan kepiting yang bisa bertahan hidup baik di lautan maupun di darat. 

Rajungan adalah salah satu sumber protein yang cukup tinggi. Kadar lemaknya juga rendah, sehingga aman dikonsumsi bagi orang yang sedang membatasi makanan berlemak. Bukan hanya itu, rajungan juga mengandung kalsium, fosfor dan zat besi serta vitamin A dan B1 yang baik untuk tulang dan pertumbuhan
Penampakan rajungan sebelum dimasak

Penasaran dengan wujud mentahnya, saya bertanya ke penjual kare dan melihat langsung rajungan yang masih belum dimasak. Ternyata warnanya lebih biru ke abu-abu dibandingkan kepiting. Badannya juga terlihat lebih rapuh dengan motif tutul-tutul yang dominan. Harganya lebih mahal daripada kepiting karena tidak di semua lautan bebas bisa didapatkan jenis ini. Biasanya rajungan ditemukan dalam pasang surut air laut dari Samudera Hindia dan Samudra Pasifik juga Timur Tengah sampai pantai di Laut Mediterania. Hal ini akhirnya mempengaruhi harga seporsi kare yang saya makan siang itu. Satu porsinya dihargai di atas Rp 20.000,- yang berisi satu ekor rajungan dengan kuah kare pedas dan sepiring nasi. Rajungan memang lebih sedap disajikan pedas daripada dibumbu manis. Alhasil saya berkeringat karena kepedasan menikmatinya. Nagih banget rasanya!
Rela deh mengeluarkan duit lebih untuk seporsi rajungan ini

Ah, ternyata mudah sekali memasak kare rajungan ini. Isi bumbunya dari segala macam rempah yang dihaluskan dan ditumis. Dari bawang merah-putih, cabe, kemiri, merica, jinten, jahe, kunyit, ketumbar, kencur, daun salam dan beberapa rempah lainnya dihaluskan kemudian dicampurkan dengan santan, garam dan gula secukupnya. Rajungan yang akan dimasak dibersihkan terlebih dahulu kemudian dikukus hingga matang. Tinggal dicampurkan saja ke dalam bumbu kare. Selain dimasak dengan bumbu kare, rajungan bisa diolah dengan berbagai macam bumbu dan kreasi. Dulu saya sempat merasakan masakan dari telur rajungan yang diolah dengan bumbu khusus tanpa dagingnya dan disajikan didalam cangkangnya yang sudah dipresto kemudian digoreng. Terbayang kan nikmatnya? Saya merasakan nikmatnya masakan tersebut di Pulau Madura, sayangnya saya sudah lupa di daerah bagian mana saya mendapatkannya.

Indonesia memang kaya ya.. pusat rempah ini tidak kehabisan sumber daya alam yang bisa dinikmati penduduknya. Banyak spesies lautnya yang diekspor ke luar negeri, termasuk rajungan. Sampai saat ini pula, masih banyak spesies di dalam laut yang baru ditemukan dan belum punya nama. Yuk, kita lestarikan alam ini agar generasi kita nanti ikut merasakan nikmatnya. Salah satunya dengan ikut meramaikan Jelajah Gizi 2 yang kali ini akan mengeksplore daerah pesisir pantai kepulauan seribu. We explore, we feel, we learn, then we share it.

Saturday, May 11, 2013

33 Provinsi, 238 Juta Penduduk dan 1 yang Mengisi Hati

Tertohok gak dengan gambar di atas? Itu buat kalian yang belum bisa move on dari seseorang yang.. mungkin sudah gak pantes untuk kalian, gak jodoh sama kalian.

Dan daripada mengharapkan sesuatu yang gak jelas, better kita eksplore 33 provinsi yang ada di negeri kita. 17.508 pulau ini gak akan selesai deh kayaknya dieksplore selama hidup kita. Ya gak sih?? Bukannya pesimis, tapi..
33 provinsi mungkin masih bisa terjangkau, tapi belasan ribu pulaunya itu loh.. Hembooookkk!!
Di satu provinsi Jawa timur saja ada 421 pulau, bahkan sepertinya lebih. 25 tahun ini, cuma beberapa pulau saja yang bisa saya jamah. Ah..sedih sekali..

Di antara 238 juta penduduk di Indonesia, yang sadar kalo Indonesia layak untuk dijadikan bagian dari hatinya sepertinya belum banyak. Cintai negerimu donk, jadi generasi yang oke.. punya prestasi atau sesuatu yang bisa dibanggakan. Gak usah berlama-lama mikir patah hati atau cinta bertepuk sebelah tangan. Ngomongin cinta? Gak ada habisnya, Man...
Go Pack your bag, then go explore your country!

Thursday, May 9, 2013

Menikmati Senja di Pulau Merah

Sudah sebulan lebih saya tidak melakukan trip. Terakhir kali melakukan perjalanan yang murni "mbolang" di tahun 2013 ini adalah Blind Trip ke Malaysia bareng teman-teman BPI (Backpacker Indonesia) regional Surabaya. Setelah itu, saya vakum untuk mempersiapkan Kelas Inspirasi dan urusan kerjaan. Kemudian teman dari Jakarta datang ke Surabaya menagih janji yang tertunda. Minta ditemenin ke Alas Purwo karena melihat foto-foto dan tulisan saya dulu tentang Alas Purwo. Meskipun rencana sempat berubah karena suatu hal, the show must go on. Kami tetap berangkat.
Jump! Then you'll feel happy :D
Salah satu destinasi dadakan kami saat itu adalah Pulau Merah. Sebuah pulau yang ada di bagian Barat Banyuwangi. Lokasinya ada di daerah Pesanggaran, satu arah dengan jalan menuju Taman Nasional Meru Betiri. Berdasarkan peta wisata yang saya punya, sepanjang tujuan ini ada beberapa spot yang bisa kami kunjungi. Pulau Merah, Teluk Hijau dan beberapa spot lain yang ada di dalam Taman Nasional Merubetiri. Sayangnya, waktu itu kami tidak bisa lama-lama untuk mengeksplore bagian kecil Banyuwangi tersebut. Ke TN Meru betiri saja juga gak sempat. Setelah dari beberapa spot di Alas Purwo kami langsung ke Pulau Merah. Niatnya sih untuk mengejar sunset, karena waktu itu masih pukul 2 siang dan perkiraan akan sampai di Pulau Merah pukul 5. Ternyata prediksi waktu kami cukup tepat. Kami sampai di Pulau Merah sekitar pukul 5. Itu pun terpotong dengan berkali-kali berhenti karena salah jalan dan tanya penduduk sekitar. Mengandalkan GPS ternyata belum bisa membantu. Inilah kekurangan teknologi, mereka bisa mendeteksi semua jalan dan memberikan opsi jalan pintas ke tempat yang kita tuju, tapi pada kenyataannya, jalan yang GPS berikan banyak jalan tikus yang ukurannya kecil, yang rawan jika dilewati sebuah kendaraan roda 4. Malu bertanya, sesat di jalan. Di sepanjang perjalanan kita kan pasti ada banyak orang yang bisa diajak interaksi. Selain bisa berinteraksi langsung dengan penduduk setempat, kadang kita juga bisa mendapatkan informasi lain yang tidak terduga.

"Permisi, Pak, jalan menuju Pulau Merah kemana ya?"

"O..lurus aja, Mbak ikutin jalan beraspal ini sampai habis. Nanti setelah jalan beraspal habis sudah kelihatan pulaunya."
cuma anak-anak yang bermain bola dan penduduk sekitar yang sedang menikmati senja saja yang ada di pantai ini sore itu
Sampailah kami di ujung jalan yang tidak beraspal lagi. Siapa sangka di sebuah desa yang mayoritas penduduknya adalah nelayan punya pantai yang indah. Bersih, seperti belum terjamah para wisatawan. Bagusnya lagi, tidak (atau belum) dikomersilkan. Padahal, beberapa pantai yang ada di desa nelayan yang pernah saya datangi rata-rata kotor dan kurang layak kalau dijadikan tempat "kecek-kecek" maen air di pantai. Saat kami datang di pantai ini, suasananya sedang hangat-hangatnya. Matahari mulai terbenam, cahanya hangat dan meberikan efek merah di langit. Di bibir pantai, anak-anak desa bermain bola dengan riang. Para nelayan juga sedang bertepi untuk istirahat. Gak kecewa sama sekali ke sini. Awannya muncul dengan indah melengkapi frame foto yang saya ambil. Batuan-batuan hitam membentuk garis yang menjadi jalan untuk maju lebih dalam ke tengah pantai. Pengen banget berlama-lama di sini waktu itu, tapi waktunya terbatas. Next time saya berniat ke sini lagi lebih lama lagi. Sekalian ke spot lain yang belum pernah saya kunjungi.
a path to get closer with the red island
Itu dia Pualu Merah. Berisi banyak sekali batuan berwarna merah
perahu-perahu yang sedang bersandar di pulau kecil ini
Langit senja di pulau merah
Banyuwangi, tunggu aku..aku akan kembali :D



Tuesday, April 30, 2013

Merindu Penyetan Ikan

Kami menyebutnya lalapan. Penduduk Surabaya menyebut lauk yang digoreng lalu disajikan dengan sambal uleg dan beberapa timun juga beberapa sayur mentah lain dengan sebutan "lalapan". Banyak juga yang menyebutnya "penyetan" karena banyak pedagang makanan yang menyajikannya dengan dipenyet di atas sambal dan disajikan langsung di atas cobek dengan kondisi masih panas. Hemm..baru menulis beberapa kalimat ini saja sudah membuat saya menelan ludah, membayangkan lezatnya.

Saya bukan pecinta sambal, tapi makan lalapan tanpa sambal seperti makan cap jay tanpa sayuran. Gak lengkap. Sambal sepertinya sudah mendunia karena orang Indonesia banyak yang kecanduan sambal, hingga keluar negeri pun masih "mbontot" sambal.
Ikut pose bareng ikan yang baru ditangkap seorang anak di Kep. Derawan
Begitu pula dengan saya yang hobi travelling. Pergi travelling kalau susah cari makanan, ujung-ujungnya makan penyetan. Apalagi pas ngetrip ke daerah pantai. Haduuuhh..makanan utamanya pasti ikan, biota laut lainnya jadi seperti pelengkap saja di depan mata. Ada kerang, cumi-cumi, ubur-ubur, tapi tetap yang menjadi menu utama adalah ikan. Berapa lama pun stay di sana, berapa lama itu pula kita akan makan dengan lauk ikan setiap harinya. Karena takut bosan, sering kali tukang masaknya memberikan menu ikan dengan olahan yang berbeda setiap harinya. Penyetan favorit saya adalah penyetan ikan, telur dan tahu-tempe. Enak, mudah di dapat, gak neko-neko, gak mahal, dan ternyata kaya gizi! Yang terakhir itu yang saya baru tahu. Pagi ini baru saja buka twitter, ada twit dari @blogdokter soal ikan. 

"Makanlah ikan secara rutin untuk menurunkan risiko sakit jantung"

"Asam lemak omega 3 adalah kandungan pada ikan yang bermanfaat bagi jantung dan otak"

twit @blogdokter selasa pagi 30-04-2013
Jadi makin penasaran dengan manfaat ikan. Saya browsing lagi soal manfaat ikan. Dari kecil saya cuma tahu orang Jepang banyak yang pintar karena mereka banyak mengkonsumsi ikan laut. :D

Hemm..sekarang saya tahu alasannya. Ikan laut banyak mengandung omega 3 dan 6. Omega 3 ini sangat bagus untuk perkembangan otak yang berhubungan dengan kecerdasan maka dari itu, anak-anak dan ibu hamil disarankan banyak makan ikan laut. Penglihatan dan saraf bayi juga akan terjaga jika mengkonsumsi makanan yang mengandung omega 3. Gak tanggung-tanggung, manfaat omega 3 di ikan laut banyak sekali, guys.. untuk kekebalan tubuh, membunuh kolesterol jahat, mambantu membakar lemak (cocok untuk diet..hihi),  dan masih banyak lagi. Aaaa...jadi selama ini saya makan makanan bergizi :D

Omega 6 di dalam ikan ternyata membuat pencernaan dan kecantikan kita tetap terjaga. Cocok banget untuk ibu dan anak. Sang ibu makan ikan tetap sehat dan cantik, sang anak makan ikan pertumbuhannya terjaga dengan baik, makin cerdas dan terhindar dari penyakit. Dari sini saya baru sadar, kenapa minyak ikan banyak dikonsumsi sebagai suplemen anak-anak dan dewasa. Lebih lagi ikan salmon dan ikan tuna yang mahal karena omega 3-nya lebih tinggi dibandingkan ikan laut lainnya. Mengapa demikian? karena ikan-ikan tersebut lebih sedikit tercemar logam berat karena mereka ada di perairan dalam.

"We are what we eat"
Makanan yang kita makan adalah cerminan diri kita. Pernah baca quote itu di suatu tempat. Ternyata benar sekali, kita jadi sehat karena makan makanan yang sehat, pola makan kita benar. Sakit karena makanan yang kita makan tidak sehat, pola makannya juga salah. Bersyukur sekali saya punya orang tua yang peduli dengan makanan menyehatkan. Dari kecil saya doyan makan ikan karena ibu suka memasak ikan dengan bermacam olahan. Penyetan ikan dengan sambal, ikan asin, ikan bakar, ikan dengan bumbu asam-manis, ikan crispy dan masakan lezat penuh gizi lainnya. Thanks Mom :)
Pagi ini saja ibu bikin ikan crispy dan sambal penyet. Ini yang bikin saya rindu kalau lagi ngetrip.
Masakan ibu pagi ini
Jadi, tiap kali ngetrip ke daerah pesisir, saya gak bosan kok makan ikan. Gak bosan juga mengunjungi pasar ikan daerah tersebut. Gak bosan juga untuk ngetrip!
Terbatas dengan bumbu di saat camping? Mudah sekali cara menikmatinya. Bersihkan ikan bagian luar dan dalamnya kemudian tinggal dibakar saja. Dagingnya yang matang berwarna putih terasa empuk, mudah dicerna dibandingkan daging merah. Lebih lezat lagi jika ada bumbu pelengkapnya, kecap, bawang merah dan bawang putih serta potongan cabe. Tambahkan ikan asin sepertinya lebih asik. Penduduk pesisir hampir semuanya bisa membuat ikan asin. Sederhana tapi nikmat kan. *nelan ludah*
Mereka pasti pintar karena tiap hari makan ikan ya..
Ikannya lagi berjemur di Kep. Komodo :D Photo by: Khairuddin Safri
Proses pengasinan ikan di tepi pantai di Kep. Komodo. Photo by: Khairuddin Safri
Ikan Bakarnya disajikan untuk masing-masing orang satu ikan. Kenyang!
Ikan bakar, ditambahkan jeruk nipis dan sambal. Hemm..
Rame-rame makan ikan hasil masakan koki di kapal. Ditambah sayuran dan buah. Hidup kami terjamin sehat :D            Photo by: Khairuddin Safri
Yuk, rame-rame ngetrip ke pantai sambil masak dan makan ikan :D
Semoga bisa dapat kesempatan seperti itu lagi deh, ke destinasi yang belum pernah saya kunjungi, Kepulauan Seribu bareng petualang Jelajah Gizi. It will be fun and more interesting!

Saturday, April 27, 2013

Mencium Si Batu Hitam Legendaris

Keringat sebesar biji jagung mengucur deras di wajah. Muka sudah mulai pucat, jubah panjang berwarna pink-biru bermotif bunga yang saya kenakan sudah basah dan lecek karena keringat, bukan keringat satu orang saja, puluhan orang. Lebih lagi jilbab putih berbahan satin yang menutup kepala saya, sudah gak karuan basah dan baunya. Tapi semuanya tertutup dengan senyum mengembang bangga di bibir saya. Menangis terharu setelahnya. Saya baru saja mencium batu paling legendaris di dunia. Si Hitam Hajar Aswad di sudut utama Ka’bah.

“Ini tadi termasuk sepi loh, Dek. Besok kalau mau megang atau nyium hajar aswad jam segini aja,” kata Ayah ke saya dan Nobel setelah melakukan umrah di siang bolong yang baru saya tahu setelahnya kalau siang itu 40 derajat Celcius suhunya. Oke, saya dan adek saya, Nobel menyusun rencana untuk mendekat ke Hajar Aswad besok Kamis (keesokan harinya).

Pesan Ayah, gak usah pas umrah melakukannya. Waktu Tawaf sunnah saja, karena pakaian bisa bebas. "Gak harus pakaian umrah, takut melorot dan lepas waktu berdesakan nanti," tambah beliau. Lepas kacamata dan amankan agar tidak terluka di saat terdorong. Gak perlu bawa bawaan yang gak penting dan coba baca “Laaailaaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu minadzaaalimin” sebanyak 41 kali di saat berangkat. Itu bacaannya Nabi Ibrahim. Ayah juga menyampaikan satu ayat yang bisa kami jadikan pegangan, yang inti isinya adalah boleh kita berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan, tapi jangan sampai melukai yang lain. Itu berlaku juga untuk hal yang akan kami kejar siang itu.

Saya dan Nobel sudah siap tempur. Sandal yang biasa kami bawa saat sholat (kami masukkan kantong plastik), kali ini akan kami masukkan loker di depan Pintu 1, gate King Abdul Aziz. Kacamata kami masukkan ke kotaknya dan kami simpan di saku. Duit, bawa seperlunya. Gak bawa HP. Identitas group yang biasa kami kalungkan kami tambahkan nomer HP ayah dan ketua rombongan, in case terjadi sesuatu pada diri kami. Agak berlebihan sih, tapi kami kan belum pernah melakukan ini. Apalagi kali ini tanpa Ayah. Bismillahirrahmanirrahim, kami mulai petualangan membanggakan ini.
Suasana Ka'bah dari atas saat sore hari. Hijr Isamail sedang dikosongkan untuk dibersihkan. Photo by: Nobel
Pertama sampai di pelataran masjid di siang itu, kami sedikit shock karena kami merasa siang itu lebih ramai dari kemarin. Panasnya juga tidak sepanas kemarin. Kami lanjutkan dengan menaruh sandal kemudian sholat tahiyatul masjid sebentar dan menyempatkan meminum sedikit zam-zam. Kami turun ke area Tawaf di depan Ka’bah.

Bismillahi Allahu Akbar. Kami sapa sudut utama Ka’bah, sudut Hajar Aswad, dengan mengarahkan tangan seolah menyapa Allah lalu menciumnya dari jauh. Kami mendekat ke Ka’bah. Putaran pertama kami observasi dulu kondisinya. Masih ramai, kami lanjutkan ke Hijr Ismail. Di putaran ini kami hanya bisa lewat dan berdoa saja di depan Talang Emas, belum bisa sholat di dalamnya. Kami lanjutkan ke Rukun Yamani, hemm..cukup ramai. Kami lewatkan juga untuk mengusapnya. Kami berputar lagi. Putaran kedua ini kami sempat melakukan sholat 2 rakaat di Hijr Ismail. Lalu kami lanjutkan untuk mengusap rukun Yamani. Hingga kami berada di putaran ketiga dan memutuskan untuk berusaha mendekat ke Hajar Aswad. Saya berada di belakang Nobel dan berdesak-desakan bersama moslem dari berbagai penjuru negeri. Gak boleh ngeluh, gak boleh sengaja menyakiti orang. Nobel sudah mulai terseret ke depan, sedangkan saya terjepit para jama'ah laki-laki. Sejauh pandangan saya, hanya ada saya dan dua wanita di sisi lain yang sedang mencoba mencium Hajar Aswad.

Banyak calo yang menawarkan jasa untuk membantu kita mencium Hajar Aswad saat kita melakukan tawaf. Berapa kalipun kita umrah, berapa kali itulah kita akan melihat para calo yang sayangnya adalah mayoritas dari mereka adalah warga Indonesia. Gak sekalipun kami tergoda memakai jasa mereka meskipun ditowel-towel terus oleh mereka. Kami lihat cara kerja mereka dalam melakukan misi itu. Ternyata untuk membantu satu orang yang ingin mencium si hitam, mereka bekerja bersama-sama. Satu orang dibantu kira-kira 8 orang. Gimana gak gila?? itu artinya kekuatan satu orang tersebut berlipat menjadi 9 orang. Kami pelajari cara mereka menuju ke sana. Ada dua cara, yang pertama, dengan bergandengan tangan dan menyerobot jamaah hingga sampai ke depan. Cara yang kedua, mengajak pembayar jasa untuk naik ke tepi ka'bah dan menggiringnya hingga di depan Hajar aswad. Heheee.. Pengamatan kami tidak sia-sia. Kami tiru sedikit cara mereka :D

Percobaan pertama kami tidak membuahkan hasil, kami terseret keluar kerumunan. Kami memutuskan untuk melanjutkan tawaf saja. Berdoa sepanjang sisi ka'bah, mengusap rukun Yamani dan sampai di Hajar Aswad lagi. Kami putuskan untuk berpencar dan mencoba kembali untuk mendekat ke Hajar Aswad. Karena berpencar, saya sendirian. Tidak ada yang mem"back-up"i saya. Kerudung saya tertarik-tarik, kepala saya tergencet lengan-lengan para lelaki berbadan besar yang memakai pakaian ihram, keringat mereka sangat jelas terlihat. Gak karuan rasanya di tengah-tengah mereka. Muka sudah gak ada manis-manisnya. Semuanya berebut maju! Cuma sesak, panas dan bau yang saya rasakan. Hampir saja tangan saya menyentuh si Hitam, tapi gagal. Sudah berulang kali seperti itu, hingga saya terseret keluar lagi.

Saya putuskan untuk melanjutkan berputar lagi saja. Saat itu ada calo yang mencibir, "Gak bisa kan? sama kita saja lah" Sempat sebel dengernya, tapi saya tepis pikiran jelek di sana.
Putaran ke-5 saya tidak menjumpai Nobel. Putaran ke-6 juga tidak berjumpa. Pas akan masuk putaran terakhir, saya mendengar suara batuk Nobel. Hey, itu dia! Dia berhasil mencium Hajar Aswad!!!!

Sepertinya saya belum ditakdirkan untuk mendekat, pikir saya. Tapi di dalam shalat sunnah di depan maqam Ibrahim, saya selipkan do'a, "Ya Allah, kesempatan saya di sini kali ini hanya tersisa 2 hari. Hari ini dan besok. Saya ingin sekali mencium hajar aswad sebelum saya pulang. Saya yakin engkau pasti akan menolong Hamba. Saya pasrah kepadamu ya Allah." Setelah shalat, saya coba kembali mendekat ke Hajr Aswad. Dengan bantuan Nobel dan naik ke tepi ka'bah sambil berpegangan kain penutupnya, saya merambat ke arah si Hitam. Nobel juga tidak membiarkan saya tergencet. "Ya akhiii, Hadhan Nisaaa..Nisaaa.." Wahai saudaraku, ini perempuan..perempuan, katanya kepada para laki-laki yang menghimpit saya. Di depan saya ada lelaki Arab yang lebih dekat dengan Hajar Aswad, I said to him, "Can you lead my hand to Hajar Aswad?" He said, "Insyaallah" sambil menoleh ke belakang dan baru sadar bahwa yang berdiri di belakangnya adalah perempuan nekat berjubah bunga-bunga mencolok dan menclok di pinggir ka'bah. Hahaaaa..
Lelaki tadi memberikan ruang untuk saya mendekat dan membiarkan space Hajar aswad kosong hingga akhirnya saya bisa menciumnya. Alhamdulillaaaaahhhh..finally!!
"Jazakallahu khoiran katsiiro," Terima kasih banyak, kata kami kepada pemuda tadi. Dia juga membantu saya keluar dari kerumunan.

Air mata saya sempat menetes setelahnya, senyum mengembang di wajah kami. Lelah, penuh peluh, gak ada artinya sama sekali. Sampai-sampai saya terpeleset jatuh karena zam-zam pun juga tidak terasa sakit :D
Sepanjang perjalanan kembali ke hotel, tidak ada habisnya kami bercerita dengan girang. Sampai di hotel pun kami gak behenti ngoceh, cerita pengalaman hebat tadi ke Ayah, telp ibuk di rumah, sms adek-adek. Hahaaa..norak tapi bangga!
Ayah sempat bilang, "Ayah lupa bilang kalo hari ini malam Jum'at. Malam jum'at di sini sama dengan malam minggu. Rame pol! karena libur mereka itu hari Jum'at". Terjawab sudah kenapa hari itu lebih rame dari hari biasanya.
Ka'bah dengan background Grand Zam-zam hotel yang dalam waktu dekat akan dirobohkan.
Suatu saat pasti akan saya coba lagi. Bahagia benar rasanya bisa berkesempatan ke Baitullah. Alhamdulillah.. Insyaallah setelah itu akan menjadi motivasi untuk bekerja lebih giat dan bisa kembali ke sana lagi.